Untuk Sekali Ini Saja

157 16 1
                                        

Hidup itu indah kok. Apalagi saat harus merasakan sedih kemudian bahagia. Dan Ify percaya itu, ia percaya segala yang ia rasakan kini nantinya akan berbalik.

"Ayolaah Viaa. Masa iya kamu nggak mau ngajarin aku? Tega gitu aku di bully sama pak kumis kriting itu," rayu Ify.

Sedangkan di sebrang, Sivia tetap mengatakan tidak bisa.

"Kenapa Via?"

"Aku ada jadwal les Ify sayang," jawab Sivia di seberang

"Via, ini tuh hari minggu. Les apaan di hari minggu?"

"Les renang," jawab Sivia santai.

Ify menggerutu. Menghela napas berat berkali-kali. Ia kebingungan siapa yang bisa mengajarinya latihan Volly. Shilla sedang susah dihubungi, sedangkan Sivia lagi-lagi ia ada jadwal les.

"Ya udah deh, semangat les, Vi. Byee," ia pun mengkahiri teleponnya.

Dengan perasaan gondok Ify berangkat ke alun-alun kota. Entah apa yang dipikirannya, di hari minggu ini ia ingin latihan Volly. Ada atau tidak nanti yang akan mengajarinya. Yang jelas tekadnya sudah membuat ia melangkah jauh keluar rumah.

***

Sivia menatap ponselnya nanar. Ada perasaan sedih dan juga bingung. Pagi ini, memang jadwal dirinya untuk les renang di minggu pagi. Setelah itu, ia harus ke perusahaan Mamanya untuk belajar manajemen di sana.

Tidak ada waktu bagi Sivia untuk bisa bermain apalagi sekedar mengajari Ify latihan Volly.

"Pak Deden sudah menunggu di luar. Buruan!" seru Mamanya di depan pintu kamar.

Sivia mengangguk menghela napas berat. Dengan segala perlengkapan untuk berenang, Sivia beranjak dari duduknya dan menyusul mamanya yang sudah stay di depan rumah.

Ia menatap mamanya bingung, ingin ia mengatakan bahwa untuk hari ini saja ia tidak berangkat les.

"M..Maa," ucap Sivia pelan.

Mamanya menoleh. "Ada apa?"

Sivia menunduk takut-takut untuk apa yang diucapkannya akan menyinggung mama.

"Engg.. emm.. boleh tidak, untuk hari ini saja Sivia tidak berangkat les. Sivia ingin membantu teman Sivia latihan Volly, Ma," Sivia mengucapkannya dengan cepat tanpa berani menatap mata mamanya.

"Kalau bicara sama orang tua lihat matanya. bukan malah lihat ke bawah. Mama di sini bukan di bawah kamu!" ucap mamanya. Ketus.

Jelas, dari ucapan mamanya tak akan menyetujui keinginannya.

"Memangnya harus kamu yang melatih dia? Nggak ada teman lain selain kamu gitu? Lagian kenapa dia bodoh sekali sampai volly saja tidak bisa,"

"Ma!" Sivia ingin membantah. Tapi sang mama sudah melipat tangan di depan dada menatapnya tidak bersahabat.

Dengan malas dan perasaan kesal Sivia langsung masuk ke dalam mobil. Tanpa perlu lagi berdebat lama.

"Jalan, Pak!" suruh mama kepada Pak Deden.

Mobil melaju pelan. Rasa sesak ada di dada Sivia. Sampai kapan ia harus menuruti kemauan mamanya. Sivia ingin bermain seperti yang lain, ingin merasakan bagaimana udara segar di luar sana tanpa tuntutan ini itu dari sang mama. Sivia tahu mama sayang sama Sivia, tapi bukan ini yang Sivia inginkan. Sivia hanya ingin mama menjadi mama seperti yang lain, mama yang selalu mendengar apa yang diinginkan Sivia. bukan yang sebaliknya.

"Kita ngga usah ke tempat les, Pak!" ucap Sivia.

"Tapi, Non. Nanti ibu marah," jawab Pak Deden.

"Mama nggak akan marah kalau Pak Deden nggak bilang,"

Pemeran UtamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang