Davin mengikuti sebuah mobil BMW i8 putih yang merupakan mobil milik Caitlin, gadis yang ia cari sejak tadi. Davin semakin menambah kecepatan laju mobilnya saat mobil Caitlin mulai menjauh.
Davin melihat mobil Caitlin siap untuk berbelok ke kanan, namun tanpa Caitlin ketahui ada sebuah truk yang berjalan dengan kencang dari arah berlawanan. Caitlin pun membanting stirnya ke kiri. Caitlin yang mulai merasakan mobilnya kehilangan kendali pun, membuka paksa pintu mobil saat mobilnya masih melaju kencang lalu melompat keluar. Mobilnya terus melaju sampai jatuh ke bahu jalan yang menjorok ke dalam, setelahnya mobil meledak dan terbakar. Tetapi, tubuh Caitlin sudah penuh darah terutama kepalanya. Karena saat ia melompat dari mobilnya, kepala gadis itu tak sengaja terbentur pada sebuah batu yang cukup besar.
Davin sangat panik saat melihat kejadian itu, ia segera turun lalu berlari menghampiri tubuh Caitlin yang terbaring lemah di aspal.
"Cait? Caitlin? Hei? Cait bangun!" panggil Davin sambil menepuk - nepuk wajah Caitlin yang berlumuran darah. Namun, tak ada jawaban.
"Cait? Cait bangun!" panggil Davin lagi. Lalu, tangan Caitlin bergerak memegang tangan Davin yang ada di pipinya. "Cait? Lo masih sadar?" tanya Davin cemas.
"Hm... Kak, Cait bol...eh min...ta to..long?" tanya Caitlin sambil terbata - bata.
"Tentu, lo mau minta tolong apa?" tanggap Davin cepat.
"To...long kak Da...vin jang...an ka...sih ta...hu Dad..dy Mom..my kak Willy dan kak Alan so..al keja..dian ini," ucap Caitlin terbata-bata.
"Tapi?" seru Davin tak yakin.
"Cait mohon. Jangan sampai mere...ka ta..hu. Cait eng..gak mau mere...ka ta..hu. Please!" mohon Caitlin pada Davin dengan air mata yang kembali meluncur dari kedua matanya.
"Iya, gue janji, gue enggak bakal ngasih tahu mereka. Tapi, please lo harus bertahan!" jawab Davin mencoba menggendong tubuh Caitlin. Namun, Caitlin menahannya dan kembali berucap.
"Terima kasih, kak," ucap Caitlin sambil menunjukan senyuman indahnya, lalu menutup matanya bersamaan dengan tangannya yang sempat menahan tangan Davin tadi terkulai lemas di sisi tubuhnya.
"Cait, bertahanlah!" ucap Davin lalu menggendong tubuh Caitlin dan membawanya ke rumah sakit.
***
"Bagaimana keadaan Caitlin saat ini, dok?" tanya Davin pada Dokter Rey.
"Masih belum ada perkembangan. Tapi, enggak perlu khawatir dia pasti bisa melewati masa kritisnya. Karena Caitlin adalah gadis yang kuat," jawab Dokter Rey sambil menatap nanar Caitlin.
"Iya, dokter benar. Dia selalu bangkit lagi disaat terjatuh tanpa dukungan orang lain sekalipun ia selalu berusaha bangkit dari keterpurukannya" ujar Davin dengan tatapan menerawang.
"Oh iya, saya hampir lupa hari ini Tuan Aldian akan datang kemari. Dan kamu bisa ceritakan apa yang Caitlin katakan pada kamu sebelum dia tak sadarkan diri," ucap Dokter Rey.
"Baik. Terima kasih, dok," kata Davin sambil tersenyum ramah pada Dokter Rey.
"Kamu tidak perlu berterima kasih pada saya karena Caitlin itu pasien pribadi saya. Jadi saya sudah tahu dengan keadaannya yang sebenarnya. Kalo begitu saya permisi dulu, ada pekerjaan yang harus saya kerjakan," pamit Dokter Rey lalu meninggalkan ruangan itu.
"Gue yakin lo pasti bisa melewati masa kritis lo. Lo harus kuat!" ucap Davin sambil mengelus kepala Caitlin lembut.
***
Pagi ini Kenan, Diana, Alan dan Joshua memakan sarapan mereka dalam suasana hening tak ada satupun yang memulai pembicaraan. Pikiran mereka hanya tertuju pada dimana keberadaan Caitlin saat ini dan bagaimana keadaan gadis itu. Diana melahap roti yang diolesi selai kacang dengan air mata yang meluncur bebas ke pipinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐒𝐔𝐑𝐕𝐈𝐕𝐄 (𝐄𝐍𝐃)
Teen Fiction#3 on remaja (041119) #1 on remaja (071119) #1 on cool (030220) Caitlin Emma Gibson. Gadis remaja cantik blasteran Amerika-Indo harus menerima kenyataan pahit sejak kejadian 11 tahun silam. Dia menutup dirinya kepada siapapun. Ditambah kebencian dar...
