-Jangan pernah menilai orang dari yang terlihat, bahkan orang yang terlihat sangat bahagia pun ternyata menyimpan duka yang sangat mendalam.-
Seorang laki - laki dengan tatapan dinginnya memasuki sebuah ruangan yang didominasi oleh suara alat - alat penopang hidup yang menempel pada tubuh seorang gadis yang sedang berjuang untuk hidup. Laki - laki itu menghentikan langkahnya sejenak, lalu menghirup nafas dalam - dalam sambil memejamkan kedua matanya. Baru setelah itu, ia masuk dan menghampiri seorang gadis yang terbaring lemah di tempat tidur. Laki - laki itu kemudian duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur. Ia menatap lekat gadis itu beberapa saat. Matanya tak beralih dari wajah gadis itu sedikit pun. Ia sangat merindukan gadis itu, gadis yang ia cintai. Seharusnya malam itu, ia melindungi gadisnya bukan malah sebaliknya. Ia menggenggam tangan gadis itu lalu menciumnya lembut.
"Hai? Lo apa kabar? Sudah lama kita enggak ketemu. Gue kangen banget sama lo, kalo lo mau tahu," sapa laki - laki itu sembari tersenyum getir. "Lo tahu? Dulu gue dekat banget sama lo, kita sering main, dan belajar bareng. Enggak satu hari pun yang gue lewatin tanpa lo dulu. Tapi, semuanya sirna saat kejadian itu merenggut semua ingatan lo. Ingatan lo tentang masa kecil kita yang menyenangkan, masa kecil lo bareng gue. Lo melupakan itu. Gue selalu berusaha untuk bisa ketemu sama lo saat itu. Tapi, tante Diana selalu ngelarang gue dan bukan cuma gue aja. Siapapun enggak diizinin untuk ketemu sama lo waktu itu. Sejak itu, gue enggak pernah ketemu lo lagi," ujar laki - laki itu sambil menerawang.
"Gue tahu kabar tentang lo lagi saat kelulusan SMP. Saat itu, kakak gue sahabatan sama kakak lo bahkan sampai detik ini. Gue dengar lo ada di Los Angeles bareng orang tua lo. Gue senang dengar kabar lo baik - baik aja, tapi gue sedih disaat gue tahu lo enggak ingat gue lagi." Laki - laki menghela napasnya berat. Entah kenapa dadanya selalu terasa sesak jika ia mengingat kembali kejadian itu.
"Satu tahun setelah gue tahu keberadaan lo, gue nyusul lo ke kota itu. Gue nyari dimana tempat lo tinggal disana. Dimana tempat lo sekolah. Bahkan gue selalu ikutin kemanapun lo pergi. Sampai suatu hari, gue ngelihat lo nangis sendirian di sebuah taman. Gue enggak tahu pasti apa yang bikin lo nangis. Tapi, apapun alasannya gue enggak suka lihat lo nangis. Tangisan lo waktu itu semakin kencang sampe gue bisa ngeliat kalo badan lo sampe gemetar. Gue semakin enggak tega ngeliat lo kayak gitu, terus gue dekatin lo dan ngasih sapu tangan ke lo. Kalo lo ingat sama laki - laki bermantel hitam dengan masker di wajahnya yang ngasih sapu tangan ke lo waktu itu, dia... Orang itu adalah gue! Sahabat kecil lo, David," lanjutnya dengan mata yang mulai memerah.
Tanpa sadar, air mata meluncur bebas dari mata laki - laki itu dan menetes mengenai tangan gadis yang sedang digenggamnya. Laki - laki itu dengan cepat menghapus air matanya, lalu bangkit dari duduknya dan beranjak pergi. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah tangan menarik tangannya. Laki - laki itu tersentak dan membalikan tubuhnya menatap gadis itu. Dari sini, ia dapat melihat gadis itu memegang tangannya dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya. Walaupun begitu, mata gadis itu masih tertutup rapat. Laki - laki itu segera menekan bel yang ada di dinding ruangan tepat diatas kepala tempat tidur.
Tak lama seorang dokter dan dua orang perawat datang ke ruangan itu. Tanpa diminta, laki - laki itu menjelaskan pergerakan gadis itu yang mendadak namun matanya masih tertutup. Setelah mendengar penjelasannya, dokter pun segera memeriksa keadaan gadis itu.
"Kamu siapa?" tanya dokter itu setelah selesai memeriksa gadis itu.
"Saya... Saya David temannya Caitlin, dok," jawab David mantap.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐒𝐔𝐑𝐕𝐈𝐕𝐄 (𝐄𝐍𝐃)
Teen Fiction#3 on remaja (041119) #1 on remaja (071119) #1 on cool (030220) Caitlin Emma Gibson. Gadis remaja cantik blasteran Amerika-Indo harus menerima kenyataan pahit sejak kejadian 11 tahun silam. Dia menutup dirinya kepada siapapun. Ditambah kebencian dar...
