Dua hari setelah Caitlin tersadar dari masa kritisnya, gadis itu memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Berat bagi Caitlin untuk kembali lagi ke rumah itu, tetapi ini harus dia lakukan. Awalnya Aldian tak menyetujui permintaan Caitlin yang ingin pulang, karena keadaannya belum sehat. Tetapi, Aldian menyerah juga pada akhirnya menghadapi cucu kesayangannya yang keras kepala itu.
"Ayolah, grandpa ijinkan aku. Aku akan baik - baik saja. Yah? Yah? Yah? Please!" mohon Caitlin sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada dengan wajah memelas.
"Baiklah. Tapi, jika kamu merasa tidak baik atau sesuatu yang terjadi, segera hubungi grandpa!" pinta Aldian. Caitlin pun berhambur memeluk Aldian dari samping.
"Thank you so much, Grandpa," ucap Caitlin dalam pelukan.
🌿🌿🌿
Caitlin menghela napasnya yang terasa berat, saat ia berdiri di depan pagar putih yang menjulang tinggi. Lalu, ia mendorong pagar itu, dan kemudian masuk ke pekarangan rumah yang selama ini menjadi alasannya untuk pulang. Namun, entah kenapa saat ia memasuki rumah itu lagi justru dirinya merasa asing dengan rumah ini. Rumah yang selama ini menjadi tempatnya berlindung, berteduh, dan tempatnya beristirahat.
"Halo, non Caitlin. Akhirnya, non pulang juga. Saya lega, ternyata non Caitlin baik - baik aja," ucap salah satu security nya.
"Hai, Pak Tarno. Iya, Cait baik - baik aja. Makasih lho, pak udah khawatir sama saya," respon Caitlin ramah disusul senyuman yang cukup lebar.
"Yah, pasti khawatir lah, non. Apalagi pas saya dengar kabar, non Caitlin kritis gara - gara kecelakaan. Enggak tega saya," tukas pak Tarno menunjukkan kepeduliannya.
"Iya sih. Tapi, saya beneran udah enggak apa - apa, kok. Oh iya, pak, saya masuk dulu, yah," pamit Caitlin lalu beranjak dari tempatnya.
"Baik, non."
Tok... Tok... Tok...
Caitlin mengetukkan tangannya pada pintu rumah itu dengan ragu. Tak lama kemudian, munculah seorang gadis yang memiliki wajah yang mirip dengannya.
Ternyata dia udah datang?. Tanyanya dalam hati.
Gadis itu terkejut ketika melihat Caitlin, dengan senyum mengembang ia berhambur memeluk tubuh Caitlin yang masih membeku di tempatnya sambil menatap gadis itu.
"Hai," sapa gadis itu sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Caitlin. Tak ada jawaban dari Caitlin, dia masih sibuk dengan pikirannya saat ini.
"Hai, aku Catherine saudara kembar mu. Apa kau tidak suka bertemu denganku?" sapa Catherine lagi dengan menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Caitlin.
"Oh. Aku sudah tahu, kok. Kapan kau tiba?" jawab Caitlin dingin dan tak menghiraukan tangan Catherine yang sedari tadi ia sodorkan.
"Seminggu yang lalu," jawab Catherine kikuk.
Caitlin yang sudah malas berhadapan dengan Catherine pun menerobos masuk dan tak mempedulikan Catherine yang masih terdiam di depan pintu.
"Aku merindukannya, tapi sikapnya dingin sekali, bahkan lebih dingin dari sikap kak Jo, " bisik Catherine pada dirinya sendiri dan menatap nanar kepergian Caitlin.
Caitlin berjalan memasuki rumahnya tanpa mempedulikan keluarganya yang tengah berkumpul di ruang keluarga yang berada diantara ruang tamu dan dapur yang bersebelahan dengan tangga. Caitlin terus melangkahkan kakinya pada anak tangga tanpa peduli dengan kebahagiaan yang keluarganya rasakan saat ini.
Melihat itu, hati Caitlin terasa perih karena keluarganya masih bisa berbahagia disaat dirinya menderita. Untuk sekian kalinya, Caitlin merasa tak dianggap oleh keluarganya. Namun, yang saat ini ia rasakan jauh lebih menyakitkan dibandingkan sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐒𝐔𝐑𝐕𝐈𝐕𝐄 (𝐄𝐍𝐃)
Jugendliteratur#3 on remaja (041119) #1 on remaja (071119) #1 on cool (030220) Caitlin Emma Gibson. Gadis remaja cantik blasteran Amerika-Indo harus menerima kenyataan pahit sejak kejadian 11 tahun silam. Dia menutup dirinya kepada siapapun. Ditambah kebencian dar...
