(44) DEJA VU

39.3K 1.3K 16
                                        

Selesai makan malam, keluarga Gibson dan keluarga Pradipta memilih berkumpul di ruang tengah. Caitlin yang menyadari ketidakhadiran Davin, pun mengedarkan pandangannya ke kanan kiri mencari keberadaan laki - laki itu. Seperti terdorong sesuatu, Caitlin pun memisahkan diri dan mencari Davin. Ia harus bertemu dengan laki - laki itu. Setelah beberapa saat, Caitlin menemukan laki - laki itu. Davin sedang duduk di taman belakang sendirian.

Caitlin menghampirinya tanpa ragu lalu duduk disampingnya, "Hai."

Davin sedikit tersentak lalu menatap Caitlin dengan tatapan yang sulit diartikan. Caitlin sedikit berdeham mencairkan suasana canggung yang menyelimuti keduanya. "Gue ganggu yah?"

"Enggak, kok."

Caitlin hanya manggut - manggut mendengar jawaban Davin. "Kak? Ada yang mau gue bicarain sama kak Davin."

Davin hanya melihatnya sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan. "Apa?"

"Ehm, maaf sebelumnya tapi gue cuma mau mastiin kalo gue enggak salah--" Caitlin menjeda ucapan beberapa saat. "Gue mohon kakak jawab dengan jujur! Apa benar kak Davin pernah suka sama gue?" Caitlin menunduk kepalanya malu.

Pertanyaannya pasti sudah menyinggung perasaan laki - laki itu. Tetapi, ia harus melakukan ini.
Davin tersentak dan napasnya seolah berhenti mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut gadis yang selalu membuat jantungnya berdebar setiap bertem lalu menatap Caitlin tak percaya. Pertanyaan itu berhasil membuat hati Davin berdesir hebat.

"Soal itu. Yah.. Gue suka sama lo. Bukan,. bukan, lebih tepatnya gue jatuh cinta sama lo. Tapi, gue terlalu bodoh karena enggak berani untuk ungkapin semuanya ke lo," jelas Davin yang membuat gadis disampingnya tercengang. Jantungnya berdetak tidak karuan.

Ini enggak benar!

"Sejak kapan?" selidik Caitlin.

"Sejak kecil. Saat aku pertama kali ngeliat lo main bareng sama David di rumah gue. Sejak saat itu, gue selalu menantikan kedatangan lo di rumah. Sampai akhirnya, lo menghilang."

Caitlin membulatkan matanya, ia benar - benar terkejut dengan jawaban laki - laki itu. Bagaimana bisa Davin bertahan dan menyembunyikan perasaannya?

Selama itu kah? Ya Tuhan, bagaimana ini? Tolong aku!

"Bagaimana bisa kakak bertahan sejauh ini?"

"Karena cinta. Cinta tumbuh dengan sendirinya tanpa kita sadari, kan. Dan cinta juga ngajarin gue arti menunggu, merelakan, dan ikhlas. Gue sadar kebahagiaan lo bukanlah gue tapi David. Dan cuma David yang ada di hati lo."

"Maaf, kak," ucap Caitlin lirih ia tidak pernah melihat sisi lemah Davin. Caitlin mengerti laki - laki itu sudah berkorban terlalu banyak untuk dirinya.

"Enggak apa - apa. Gue ikut bahagia kalo ngeliat lo bahagia walapun bukan sama gue. Lo memang pantas mendapatkan kebahagiaan itu," seru Davin dengan suara yang sedikit bergetar. Ia melihat gadis di sampingnya menitihkan air mata, dengan cepat ia menangkup pipi gadis itu dan menghapus air matanya.

"Jangan seperti ini. Lo cuma bikin gue terlihat menyedihkan. Gue enggak apa - apa. Enggak usah mikirin gue."

"Terima kasih kak, sudah mencintai gue dengan sangat tulus. Maaf, karena gue enggak akan pernah bisa membalas perasaan kakak. Maaf," kata Caitlin dengan air mata yang terus mengalir.

"Hei, berhenti menangis! Ini bukan salah lo. Kita enggak pernah tahu perasaan seseorang, kan. Itu diluar kendali kita. Begitu pun dengan lo. Itu sama sekali bukan kewajiban lo, untuk membalas perasaan seseorang yang cinta sama lo." Davin merekuh Caitlin dalam dekapannya. Tanpa mereka sadari, dua pasang mata memperhatikan dari kejauhan dan tempat yang berbeda.

𝐒𝐔𝐑𝐕𝐈𝐕𝐄 (𝐄𝐍𝐃) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang