(45) FINALE

50.2K 1.5K 49
                                        

Di sebuah ruangan ada dua orang yang tengah berbincang. Salah satunya tidak dapat menutupi kekhawatiran dan ketakutan yang dialaminya. Dan seorang lagi mencoba menenangkan dan memberikan saran terbaik.

"Bagaimana dok?"

"Dari hasil pemeriksaan, sel kanker itu muncul kembali dan mulai menyerang sumsum tulang belakang kamu sama seperti sebelumnya. Tetapi, kali ini sel kanker tersebut bermutasi lebih cepat."

"Apa yang harus aku lakukan, agar aku tetap bisa mempertahankan bayiku dan juga kesembuhanku?"

"Kemoterapi."

"Apa itu enggak akan berdampak buruk untuk bayiku?"

"Kehamilan sudah masuk trisemester ketiga, itu tandanya plasenta dapat menjadi penghalang obat kemoterapi berhubungan langsung dengan janin . Jadi, ini akan aman."

"Tapi, tetap saja itu beresiko, bukan. Apa aku bisa menjalani kemo setelah melahirkan? Sekitar dua bulan lagi mungkin?"

"Bisa saja. Tapi, kita enggak tahu seberapa cepat sel kanker itu berkembang dan menyebar. Dan itu justru akan membahayakan dirimu dan juga bayimu."

"Tapi---"

"Cait! Dengarkan aku! Akan lebih baik jika kau menjalani pengobatan sedini mungkin. Karena yang kamu alami saat ini berbeda dengan pertama kali kamu terkena penyakit itu."

"Apa mungkin aku melahirkan bayiku kurang dari sembilan bulan?"

"Prematur maksudmu? Enggak, aku enggak menyarankan itu."

"Tapi, aku enggak mau bayiku terlahir enggak normal akibat dari kemoterapi yang aku jalani. Aku enggak mau membuat bayiku menderita."

"Kemoterapi yang dijalani di usia kehamilan trisemester ketiga tidak akan membahayakan bayi yang dikandungan. Karena plasenta sudah bisa menjadi penghalang dan pelindung untuk bayi terhadap benturan, dan lainnya termasuk juga dari obat kemoterapi. Kamu tenang saja, bayimu akan baik - baik saja. Percayalah! Cukup ikuti saja prosedurnya."

"Akan aku pikirkan dulu."

"Baiklah, aku harap jangan terlalu lama. Dan ingat jangan sampai terlambat! Kanker bukan penyakit sembarangan. Dan kamu sudah tahu itu."

🌿🌿🌿

Akhir - akhir ini, David sering melihat istrinya melamun dan tidak fokus. Sudah sering kali David menanyakan keadaan istrinya itu, tetapi Caitlin selalu memberikan jawaban jika dia baik - baik saja. Tak hanya itu, terkadang David melihat Caitlin tengah meringis sembari memegangi pinggangnya. Namun, saat David ingin membawanya ke rumah sakit selalu ditolak olehnya. Itu membuat David bingung dan khawatir. Karena ia tidak ingin sesuatu buruk terjadi pada istrinya. Saat ini juga, Caitlin sedang mengandung bukankah itu tugasnya untuk selalu siaga setiap waktu.

Hari ini David pulang lebih awal, entahlah ia merasa tidak tenang dan tidak fokus saat bekerja. Jadi, David memutuskan meninggalkan kantor lebih dulu. Setibanya di rumah, ia sama sekali tidak menemukan Caitlin. Di ruang tamu, ruang keluarga, dapur, taman belakang, dan terakhir kamar mereka tetapi David tetap tidak melihat keberadaan Caitlin. Lalu, terlintas di otaknya untuk mengecek kamar mandi. Dan benar saja, istrinya ada disana dengan posisi terbaring di lantai membelakanginya. Saat David mendekat, ia bisa melihat banyak darah di lantai sekitar wajah Caitlin. Dan yang membuatnya terkejut, darah itu keluar dari hidung istrinya yang sudah terbaring dengan mata terpejam.

"Ya Tuhan, Caitlin!" pekik David lalu bergegas menghampiri istrinya dan membawanya ke rumah sakit.

Setelah selesai memeriksa keadaan Caitlin, dokter Rey keluar membuat David dan keluarganya yang sudah menunggu bangkit dari posisinya. David pun menghampiri dokter Rey dan menanyakan keadaan istrinya. Dokter Rey hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu, dokter Rey berkata,"Bisa kita bicara di ruangan saya?"

𝐒𝐔𝐑𝐕𝐈𝐕𝐄 (𝐄𝐍𝐃) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang