(39) FALL OUT

44K 1.8K 13
                                        

'Sekeras apapun kita mencoba, dan sekuat apapun kita berusaha. Jika Tuhan tidak mengizinkan, kita bisa apa?'

"Seperti yang saya katakan sebelumnya, setelah Caitlin sadar saya akan membawanya ke Jerman!" seru laki - laki tua itu mantap.

Caitlin yang sejak tadi sedang fokus pada televisi di depannya pun mengalihkan pandangannya dan menatap Aldian tak percaya. Caitlin tidak ingin pergi jauh lagi dari orang - orang yang ia sayangi.

Sekarang tidak ada alasan lagi bagi Caitlin untuk pergi. Penyakitnya? Kesembuhannya? Itu mustahil!. Bahkan, Caitlin masih mengingat saat itu dokter mengatakan jika tubuhnya sudah terbebas dari sel kanker. Namun, itu tidak bertahan lama. Dan sel kanker itu justru kembali muncul dengan jumlah yang lebih banyak dan mulai menyebar ke seluruh tubuhnya. Caitlin tidak ingin membuang waktu hanya untuk sesuatu yang tidak akan Tuhan berikan padanya. Sekeras apapun kita mencoba, dan sekuat apapun kita berusaha. Jika Tuhan tidak mengizinkan, kita bisa apa?.

"Caitlin, enggak mau pergi," ujar Caitlin sambil menggelengkan kepala.

"Tapi, kamu harus pergi! Ini untuk kesembuhanmu, nak," bujuk Aldian.

"Grandpa, Cait mohon! Cait enggak mau buang sisa waktu yang Cait punya cuma untuk sesuatu yang sia - sia. Cait tahu? Penyakit Cait? Itu enggak akan bisa disembuhin lagi. Kanker itu sudah menyebar ke seluruh tubuh Cait. Percuma! Pengobatan cuma buang - buang waktu aja, Grandpa," jelas Caitlin dengan mata yang mulai berembun.

Perkataan Caitlin sukses membuat Aldian bungkam. Tak hanya lelaki tua itu, bahkan kedua laki - laki yang sedari tadi hanya mendengarkan percakapannya dengan Aldian ikut bungkam dan hanya menatap Caitlin tak percaya. Sampai terdengar sebuah suara yang berhasil membuat Caitlin meneteskan air matanya.

"Kenapa lo jadi pesimis gini? Dimana Caitlin yang pantang menyerah? Yang selalu pegang janjinya? Yang selalu optimis? Yang enggak pernah takut pada siapapun atau apapun? Yang selalu semangat? Yang selalu berusaha memberikan terbaik sekalipun enggak ada seorang pun yang support? Kemana perginya itu semua?" seru Joshua dengan suara yang mulai serak. Gadis itu diam seribu bahasa, nafasnya seakan tercekat bersamaan dengan pasokan oksigen yang mulai menipis. Seketika Caitlin mati rasa.

Caitlin mengambil napas panjang lalu menghembuskannya kasar, "Saat ini, keadaannya berbeda. Saat ini, penyakit ku sudah menyebar dan itu karena aku terlambat menyadarinya. Kalo aja dari awal, aku tahu, mungkin saat ini aku sudah sembuh. Tapi, aku sama sekali enggak menyadari itu. Karena aku terlalu sibuk mikirin kebahagian orang lain sampe aku lupa, kalo mereka belum tentu mikirin kebahagiaan aku juga. Itulah kesalahanku!"

"Tapi, berusahalah untuk sembuh sekali lagi! Gue yakin lo pasti bisa! Percaya sama gue!" pinta Joshua dengan tatapan berharap.

"Kak Willy benar aku pasti bisa." Caitlin menghentikan ucapannya sejenak. "Tapi, jika aku enggak terlambat. Sayangnya, aku sebaliknya!" tambahnya yang membuat senyuman di bibir Joshua menghilang.

"Tapi, enggak ada salahnya berusaha sekali lagi, Cait! Lo pasti bisa!" seru David yang ikut menanggapi. Caitlin hanya menggelengkan kepalanya kuat.

"Aku ingin bertanya sama kalian. Kalo Tuhan kasih kalian dua pilihan. Yang mana yang akan kalian pilih? Hidup dengan kebahagiaan di sisa waktu yang kalian punya atau hidup dengan rasa sakit di sisa waktu itu?" tanya Caitlin. "Aku cuma enggak mau merasakan sakit di sisa hidupku, jadi ku mohon biarkan aku seperti ini. Biarkan waktu yang menjawab semuanya. Karena aku enggak bisa melakukan hal yang kalian inginkan lagi. Aku sudah cukup berjuang. Selama ini aku selalu berjuang sendirian. Jujur, aku capek, aku lelah." Ucapannya terhenti.

"Dan mungkin ini cara Tuhan untuk kasih aku kesempatan ngerasain kebahagiaan yang enggak pernah aku rasakan selama ini," lanjutnya. sarkasme.

Setelah mengatakan itu, Caitlin membaringkan tubuhnya di tempat tidur lalu memejamkan matanya. Ia tidak ingin berdebat lagi. Caitlin tidak ingin melukai hati mereka dengan kata - katanya lagi.

𝐒𝐔𝐑𝐕𝐈𝐕𝐄 (𝐄𝐍𝐃) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang