(9) HURTING

48.5K 1.9K 7
                                        

-Kita mungkin pernah sangat dekat. Tetapi, itu dulu sekarang tidak. Hanya karena sebuah kesalahpahaman.-

Diana membuka kenop pintu kamar Caitlin, lalu membangunkan putrinya. Namun, Caitlin tak kunjung membuka matanya. Diana menggoyang - goyangkan tubuh Caitlin sehingga anak itu merasa terganggu. Caitlin pun duduk sejenak sembari mengerjapkan matanya berulang kali.

Setelah bersiap, Caitlin berlari menuruni tangga dan menuju meja makan untuk sarapan sebelum ia berangkat ke sekolah. Langkahnya melambat saat Joshua duduk di samping kursi, tempat yang biasa ia duduki saat makan.

"Cait! Come on," ajak Kenan yang menyadari kehadiran Caitlin. Gadis itu hanya menggangguk setuju lalu duduk di kursinya yang ada di samping Joshua.

Caitlin hendak mengoleskan selai coklat pada roti tawarnya terhenti oleh ucapan Diana yang membuatnya terkejut.

"Cait? Tangan kamu kenapa?" tanya Diana khawatir.

"Yeah, my hand... Eee.. Jatuh pas main basket kemarin, mom," jawab Caitlin terbatah - batah.

"But, are you okay?" sambung Kenan yang juga khawatir.

"Yeah, i'm pretty well. Don't worry," jawab Caitlin mantap.

Selesai sarapan mereka semua beranjak menuju garasi dan menaiki mobil masing - masing. Kenan dan Diana ke kantor, Alan ke rumah sakit, serta Joshua dan Caitlin ke sekolah. Walaupun, Joshua dan Caitlin bersekolah di tempat yang sama mereka menolak untuk berangkat bersama.

Caitlin sangat bersemangat karena hari ini ia bisa bermain basket lagi setelah sekian lama tak memainkannya. Dan Pak Ardi selaku guru Penjas akan melakukan pengambilan nilai dari permainan basket.

Sesampainya di sekolah, Caitlin segera memarkirkan BMW i8 putihnya di pekarangan sekolahnya dan bergegas menuju kelas. Selang beberapa menit, Joshua pun tiba dengan mobil BMW i8 berwarna merah dan memarkirkannya tepat di samping mobil Caitlin. Caitlin baru saja membuka pintu pengemudi cepat - cepat melangkah meninggalkan parkiran agar tidak melihat wajah kakaknya yang tidak berekspresi saat melihat dirinya. Dari dalam mobil, Joshua dapat melihat sikap adiknya yang mencoba menghindari dirinya dengan jelas dan hanya mendengus kesal. Sikap Caitlin yang berubah padanya juga merupakan kesalahan dirinya, yang tidak bisa mencoba untuk menerima adiknya sendiri.

Kenapa sih susah banget buat maafin lo? Why?

Caitlin berjalan secepat mungkin menuju kelas agar ia tidak melihat wajah kakaknya. Semakin cepat ia berjalan sampai tak melihat seseorang yang kini ia tabrak dari belakang. Wajahnya bertemu dengan punggung tegap milik seseorang. Dengan wajah memerah dan malu, Caitlin melangkah mundur lalu menundukan kepala sebelum ia meminta maaf pada orang itu. Kini beberapa pasang mata tertuju pada mereka berdua.

"Ma..maaf," ujarnya gugup. Orang itu memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Caitlin, lalu menepuk bahu gadis itu dan mengatakan sesuatu.

"Enggak apa - apa kok," jawab orang itu santai.

Caitlin terkejut saat melihat wajah orang itu, ternyata dia adalah Davin. Caitlin menarik ujung bibirnya ke atas dengan terpaksa karena malu. Davin pun ikut tersenyum melihat tingkah Caitlin yang kelewat malu sekaligus gugup. Selama beberapa detik, mereka membiarkan keheningan terjadi diantara mereka sampai terdengar suara bariton dari belakang Caitlin.

"Hai, Dav!" sapa laki - laki itu. Caitlin membelalakan matanya saat mendengar suara yang tak asing lagi di telinganya, yah suara itu milik Joshua.

Caitlin berniat meninggalkan Davin dan Joshua, namun langkahnya terhenti saat kedua sahabat Joshua yang lain bersama dua perempuan teman sekelas Joshua menghampiri mereka. Seketika pula jalan Caitlin terhalang oleh mereka berempat. Caitlin tak tahu harus berbuat apa, lalu ia mencari celah untuk pergi dari mereka, tapi usahanya lagi - lagi gagal oleh Evan dan Kevin yang mulai mengganggunya.

𝐒𝐔𝐑𝐕𝐈𝐕𝐄 (𝐄𝐍𝐃) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang