~Sekeras apapun aku mencoba untuk membenci kalian, sekeras itu juga hatiku menolaknya~
Caitlin masih terdiam di tempatnya tanpa pergerakan sedikitpun. Tubuhnya seolah kaku dan sulit untuk digerakkan. Pelukan itu terasa hangat, namun luka di hatinya kembali menganga setelah ia bersusah payah untuk menyembuhkan luka itu.
Kenan, Diana, Alan, Joshua, dan Catherine melepaskan pelukan mereka dari tubuh Caitlin. Caitlin hanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosongnya tanpa mempedulikan keluarganya yang berdiri di sampingnya.
"Cait?" panggil Diana lembut. Caitlin berusaha menulikan pendengarannya sejenak. "Cait? Mommy minta maaf. Mommy minta maaf atas semua kesalahan yang Mommy perbuat ke kamu," lanjutnya. Caitlin mendengar itu hanya tersenyum mengejek.
"Gampang sekali bukan untuk kalian minta maaf. Tapi, apa kata 'maaf' bisa mengembalikan HATI yang sudah hancur? Apa bisa?" ketus Caitlin dengan menekankan kata 'hati'. Caitlin masih menatap lurus ke depan tanpa melirik orang yang berbicara padanya. Ia seperti menghindari tatapan dari orang - orang yang ada di sekitarnya saat ini.
"Cait? Berhentilah untuk bersikap seolah lo benci sama kita! Kita tahu kok, lo enggak pernah benci sama kita sedikitpun." Alan menimpali.
"Ckck,,, atas dasar apa kalian berpikir seperti itu? Apa yang selama ini kalian lakukan ke aku. Apa kalian kira itu enggak bisa bikin aku benci sama kalian? Kalian salah! Aku enggak sebaik yang kalian pikir. Aku benci sama kalian sejak malam itu. Malam dimana aku dipermalukan, dicampakkan. Kalian seharusnya mikir! Kenapa aku pergi? Kenapa aku menghilang? Kenapa aku kabur? Seharusnya kalian mencari tahu hal itu! Tapi apa? Semuanya nihil, kalian bahkan enggak peduli. Kadang, aku bertanya - tanya sama diri aku sendiri sebenarnya aku ini anak dari keluarga kalian atau bukan?" ujar Caitlin sambil memejamkan matanya dan kembali merasakan rasa sakit itu.
"Tolong berhenti! Jangan bicara seperti itu! Kamu adalah anak kami, darah daging Mommy dan Daddy," sergah Diana cepat.
"Terus kenapa kalian selalu mengabaikan aku? Kenapa? Aku juga anak kalian, kan! Aku butuh perhatian dan dukungan dari orang tuaku. Tapi, enggak pernah aku dapatin itu sedikitpun! Seolah kedua orang tua ku tuh enggak ada!" bentak Caitlin sambil menatap kedua orang tuanya penuh amarah. "Kenapa? Jawab! Ckck,, oh aku tahu. Kalian melakukan itu sebagai balas dendam dan hukuman untuk ku bukan? Hukuman atas kesalahan yang enggak aku perbuat? Hukuman karena telah membuat kesayangan kalian buta dan daddy koma selama satu minggu? Oh iya? Aku hampir lupa kalo aku ini cuma ANAK PEMBAWA SIAL di keluarga kalian? Bukankah begitu Tuan & Nyonya Gibson? Aku benar kan?" lanjutnya. Itu membuat keluarganya merasakan sebuah batu besar menghalangi napasnya. Sesak.
"Cait? Daddy minta maaf, nak. Daddy mohon, maafin Daddy yang sudah berani menampar kamu dan bentak kamu malam itu. Daddy benar - benar menyesal, Daddy mohon!" seru Kenan akhirnya. "Kita datang kesini untuk minta maaf sama kamu. Tolong kasih kita satu kesempatan lagi untuk bisa bahagiain kamu!" tambahnya memohon.
"Kesempatan? Bahkan aku sudah terlalu sering memberikan kalian kesempatan tapi selalu kalian sia - siakan," cela Caitlin membuat Kenan dan Diana tertohok.
"Cait? Please!. Kita emang enggak pantes dapet maaf dari kamu, tapi tolong beri kita kesempatan satu kali lagi. Hanya satu kali. Kita janji untuk memperbaiki semuanya. Please!" pinta Joshua dengan mata yang memerah. Caitlin hanya memejamkan matanya dan menghela nafas panjang untuk menetralkan nafasnya yang memburu.
Didetik berikutnya, Caitlin merasakan rasa sakit itu dan mulai menjalar ke seluruh anggota tubuhnya. Caitlin tak bersuara. Keluarganya hanya terdiam menatap Caitlin yang masih enggan bersuara. Sampai terdengar suara rintihan tertahan yang bersumber dari Caitlin. Kini wajah gadis itu mulai dipenuhi peluh dan memucat.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐒𝐔𝐑𝐕𝐈𝐕𝐄 (𝐄𝐍𝐃)
Teen Fiction#3 on remaja (041119) #1 on remaja (071119) #1 on cool (030220) Caitlin Emma Gibson. Gadis remaja cantik blasteran Amerika-Indo harus menerima kenyataan pahit sejak kejadian 11 tahun silam. Dia menutup dirinya kepada siapapun. Ditambah kebencian dar...
