Ada beberapa orang yang sedang berkumpul dan fokus pada pikiran mereka masing - masing. Keheningan mendominasi diantara mereka. Dan seorang laki - laki dengan tuxedo yang masih melekat bergeming di sudut ruangan. Semua mata tertuju pada laki - laki itu. Laki - laki itu terlihat sangat kacau dan matanya memerah seperti habis menangis. Seorang gadis mungil bangkit lalu menghampiri laki - laki itu dan memeluknya erat. Gadis mungil itu pun kembali mengeluarkan cairan bening dari matanya, di pelukan sang kakak. Setelahnya, gadis mungil itu meraih tangan laki - laki itu dan menggenggamnya erat sekedar menyalurkan kekuatan padanya.
"Kenapa jadi begini?" ucap laki - laki itu serak dengan tatapan kosong. Gadis mungil itu menatap kasihan laki - laki di hadapannya, ia tak tega melihat keadaan kakaknya yang sangat kacau.
"Kak, ini semua terjadi di luar kendali kita. Dan kita juga enggak bisa berbuat apa - apa," ujar gadis mungil itu mencoba menenangkan laki - laki di hadapannya.
"Tapi, kenapa? Kenapa dia menutupi semuanya dari kita bahkan tak satupun di keluarganya yang tahu soal ini," kata laki - laki itu parau.
"Caitlin udah enggak percaya lagi sama keluarga gue. Tapi, gue enggak bisa nyalahin dia juga. Ini semua terjadi karena keegoisan keluarga gue. Mereka yang membuat Caitlin berubah. Sejak saat itu, Caitlin enggak pernah percaya pada siapapun lagi. Dia lebih memilih memendam masalah dan rasa sakitnya sendirian. Dan gue bisa merasakannya. Cuman gue enggak bisa berbuat apa - apa. Dia sangat keras kepala dan enggak seorang pun bisa menentangnya," jelas seorang laki - laki yang tak kalah kacaunya.
Apa ini yang dimaksud Caitlin sebagai 'penyebab penyesalan kalian'?
"Jo, jangan - jangan pas kejadian waktu dia pingsan pas pertandingan basket dan mimisan itu, bukan karena kelelahan tapi karena penyakitnya," seru laki - laki lainnya dengan mata menatap serius orang yang ada di kamarnya.
"Mungkin.... Waktu itu gue juga pernah nemuin tissu yang dipenuhi darah di kamarnya dan jumlahnya itu banyak banget. Tapi, bodohnya gue sama sekali enggak curiga soal itu," sesal Joshua sambil mengingat kejadian dimana dia menemukan Caitlin yang meringkuk di permadani kamarnya dengan tissu yang berserakan.
"Tunggu! Mimisan kata kak Davin? Dia pernah mimisan di sekolah?" tanya gadis mungil itu antusias saat ingatannya tentang Caitlin terlintas di otaknya. Dan Davin hanya mengangguk. "Aku juga pernah ngeliat kak Caitlin mimisan di toilet waktu makan malam di restoran," tambahnya sambil menerawang.
"Apa yang dia katakan?" tanya David akhirnya. Naomi hanya menggeleng lemah.
"Dia enggak ngomong apa - apa sama lo?" tanya Davin penasaran. Tetapi, Naomi masih sibuk mengingat - ingat percakapan waktu itu dengan Caitlin. Lalu, sedikit tersentak saat ia mengingatnya.
"Ada apa?" tanya Rachel dan Stella saat merasakan tubuh Naomi yang sedikit menegang.
"Yah, aku mengingatnya..." Naomi tidak melanjutkan kalimatnya dan membuat mereka semua menatap bingung ke arahnya. "Dia bilang aku enggak boleh ngasih tahu siapapun soal kejadian itu dan aku menyetujuinya dengan syarat dia harus menjadi sahabat dan sosok kakak perempuan untukku. Dan dia terima itu tanpa berpikir panjang. Yang aku ingat wajahnya benar - benar panik saat aku melihatnya dalam keadaan seperti itu. Aku bisa ngerasa kalo dia benar - benar takut orang lain tahu tentang keadaannya. Dan itu juga alasan kenapa aku mulai akrab sama kak Caitlin," jelasnya.
"Ternyata, kita semua enggak benar - benar mengenalnya. Hidupnya, sikapnya, dan apapun yang dia lakukan itu bagaikan teka - teki yang berantakan dan harus diselesaikan supaya kita bisa tahu yang sebenarnya. Satu kata yang bisa menggambarkan tentang Caitlin, 'Misterius'. Dia sangat misterius sekalipun kita merasa sudah sangat mengenalnya dan dekat dengannya, tapi sebenarnya kita enggak pernah mengenal dirinya yang sebenarnya," ucap David lalu meninggalkan mereka semua yang masih mencerna kata - katanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐒𝐔𝐑𝐕𝐈𝐕𝐄 (𝐄𝐍𝐃)
Подростковая литература#3 on remaja (041119) #1 on remaja (071119) #1 on cool (030220) Caitlin Emma Gibson. Gadis remaja cantik blasteran Amerika-Indo harus menerima kenyataan pahit sejak kejadian 11 tahun silam. Dia menutup dirinya kepada siapapun. Ditambah kebencian dar...
