Aku rindu kopi
Di kala hujan
Persis seperti merindukanmu
Akankah kau mau ke sini
Menemaniku yang ditelan sunyi?
Ah, tidak
Aku baru ingat
Jarak tak bisa digulung
Waktu tak bisa dijeda
Kau tak bisa kemari
Tapi bagaimana kerinduan ini?
Ia menangis bagai bayi minta susu
Apakah akan ditelantarkan sang ibu?
Ia takkan tega
Aku yakin begitu juga kamu
Meski tetes air mata ingin kaubendung
Namun aku tak nampak
Aku gaib di sisimu
Walau nyata di hatimu
Apa kau akan menghiburku?
Setetes demi setetes
Air hujan kuresapi
Kucerap doa yang turun bersama hujan
Yang kaupanjatkan selepas fajar tadi
Tuhan mendengar salammu
Dan apa yang kau titipkan sampai padaku
Tapi apa arti hujan
Bila tanpa secangkir kopi
Yang menghangatkan raga dari dingin yang menusuk?
Apa jua arti kedinginan
Tanpa kehadiran jasadmu disisiku
Yang senyumnya membakar jiwa?
Aku hanya bisa merindu
Dihajar hujan dan dingin
Tanpa kopi dan tanpa kamu
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Pengantar Rindu
PoesíaMendung memanggil Setiap duka dari waktu lalu Membuat siapa pun Enggan menengok jendela Setiap kata yang kuungkapkan adalah wakil dari kerinduan itu sendiri. Bersama udara dingin dan setiap tetes hujan yang menusuk bagai jarum, aku melukiskan elegi...
