CHAPTER 11

3.4K 425 10
                                        

"Kyaaaaaaaa!!"

Yoojung menendang tubuh polos Jungkook dari atas ranjang beserta selimutnya. Ia benar-benar sudah gila semalam mengajak Jungkook dalam wujud anjing untuk tidur bersamanya. Lihatlah yang terjadi sekarang, begitu ia terbangun dari tidurnya, Jungkook mendengkur di sampingnya dengan wujud manusia tentunya, memeluk Yoojung dengan tubuh telanjangnya.

"Keluar kau dari kamarku!" pekik Yoojung menutup matanya dengan telunjuk yang mengacung menyuruh Jungkook keluar kamar. Jungkook berjalan gontai dengan selimut menyelubungin badan telanjangnya dan berjalan keluar kamar. Sungguh jika saja ia sudah tersadar dari kantuknya, mungkin ia sudah menggoda Yoojung habis-habisan.

Namun Jungkook hanya keluar kamar dengan malas sambil berkata, "Padahal semalam kau yang menggendongku dan mengajakku tidur bersama." sedang tidak berniat menggoda gadis itu meskipun terlihat sangat menyenangkan. Kantuk masih menguasainya.

Yoojung memijat kepalanya pening. Paginya, seperti biasa semenjak kedatangan Jungkook memang selalu heboh. Pemuda itu selalu saja sukses membuatnya jantungan setengah mati. Buru-buru ia menutup pintu kamar selepas kepergian Jungkook. Mengatur nafasnya dan juga jantungnya.

Jam menunjukkan pukul sembilan. Ia harus segera mandi dan bersiap kuliah. Mungkin pagi ini ia hanya akan membuat roti bakar dan minum segelas susu. Jika dulu ia tak perlu sarapan ketika waktu sudah mepet untuk berangkat kuliah, namun mengingat kini ia tak hidup sendirian dan ada anjing yang harus ia urus, mau tak mau ia harus menyiapkan sarapan.

Yoojung sendiri tak tahu mengapa ia begitu peduli dengan urusan sarapan atau makan malam Jungkook. Padahal pemuda itu sudah cukup dewasa untuk mengurus makanya sendiri. Namun sepertinya, Yoojung masih menganggap Jungkook seekor anjing sehingga naluri merawat hewan peliharaannya muncul begitu saja.

Ya, merawat hewan peliharaan. Begitulah yang diyakini Yoojung.

"Aku berangkat dulu!" pamit Yoojung selepas menghabiskan roti dan susunya dengan cepat. Bahkan Jungkook saja belum selelsai menghabiskan rotinya. "Morning kiss?"

Yoojung melotot. Bahkan setelah semua penolakannya berkali-kali, pemuda mesum ini selalu menanyakan itu padanya setiap pagi. Memilih mengabaikan Jungkook, Yoojung segera memakai sepatunya dan berlari keluar apartemen.

---

"Hei, hei... kau sudah dengar?" Minseon menyenggol lengan Yoojung, berbisik di telinga kawannya lantaran saat ini mereka berada di perpustakaan kapus.

"Jimin sunbae dan Ahrin putus."

"Benarkah?" pekik Yoojung kaget dan buru-buru menutup mulutnya mendapati semua orang menatapnya.

"Kapan?" tanyanya memelankan suaranya.

"Kemarin. Aku juga mendengarnya dari Chaeryeong. Katanya, Jimin dan Ahrin bertengkar hebat disini. Jimin yang memutuskannya."

Yoojung terdiam. Mereka putus kemarin di perpustakaan? Bukankah kemarin ia masih melihat Jimin dan Ahrin berciuman? Lantas apa yang membuat mereka putus?

Begitu banyak pertanyaan bercokol dalam benaknya. Melupakan soal apa yang membuat mereka berdua putus, yoojung merasa senang. Bukankah itu berarti Jimin single sekarang?

"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" tegur Minseon.

"Ah, tidak. Bukan apa-apa."

---

Minseon pergi bersama Hyunbin selepas mereka berpisah di depan gedung perpustakaan tadi. Jam menunjukkan pukul 4 sore. Tidak ada telpn atau pesan apapun sejauh ini dari Jungkook menandakan, anjing itu baik-baik saja di rumah. Kakinya berjalan menuruni tangga. Namun terhenti begitu ia melihat Jimin dan Ahrin lewat di hadapannya.

Ahrin mengejar Jimin dan terlihat begitu menyedihkan. Ia memohon-mohon pada Jimin untuk kembali padanya. Oh, ayolah apakah gadis it sudah tidak punya malu, mengemis-ngemis cinta kepada Jimin di tempat umum? Setidaknya lakukanlah di tempat sepi. Atau jangan-jangan Ahrin lebih suka menjadi bahan gosip para penghuni kampus.

Merasa tertarik, Yoojung mengikuti mereka yang terlihat menuju parkiran mobil. Jimin tampak melepaskan lengan Ahrin dengan kasar sementara gadis itu masih menangis. Yoojung bertaruh, air mata itu dibuat-buat.

Yoojung terus mengintip di balik sebuah pot besar. Namun rupanya Jimin menyadari kehadirannya. Mata mereka bertemu dan mendadak Jimin tersenyum dan melambai ke arahnya.

"Yoojung-a! Kau sudah datang rupanya." Panggil Jimin membuat Yoojung menunjuk dirinya sendiri. Keningnya berkerut dan menatap Jimin seakan bertanya, "Aku?"

Jimin mengangguk dan terus menyuruhnya mendekat. Mau tak mau, yoojung keluar dari persembunyiannya, mendapat tatapan sinis Ahrin, dan tertawa kikuk menatap Jimin. Begitu Yoojung mendekat, tiba-tiba Jimin meraih tangannya, menggenggamnya. "Ayo kita pulang!" ucap pemuda itu membuatnya bingung.

"Eh?"

Ahrin menelan salivanya berat. Matanya menatap tajam Yoojung. "Jadi, kau rupanya?" tanya gadis itu marah membuat Yoojung semakin bingung. Naun Jimin berbalik dan menatap Ahrin malas.

"Tidak. Aku hanya lelah berkencan dengan gadis manja sepertimu. Dan juga, aku dan Yoojung tidak ada hubungan khusus. Aku hanya berjanji untuk mengantarnya pulang."

Yoojung menatap Jimin tak percaya. Kapan mereka membuat janji?

Lantas dengan kesal Ahrin membalikkan badanya. Berlari mennjauh dan menghilang di balik bangunan. Yoojung menatap bingung kepergiannya dan ia mulai tersadar akan suatu hal.

Jimin masih menggenggam tangannya.

Jantungnya mulai berdegup kencang. Buru-buru ia melepas tangan seniornya itu dan tersenyum kikuk. "Maaf, sunbae, aku harus pulang."

Namun Jimin menahan lengannya. "Tidak. Aku akan mengantarmu. Maaf telah memanfaatkanmu tadi. Jangan menolak. Aku tak suka ditolak."

---

Mobil membawa Yoojung kembali pulang. Jimin berbaik hati membukakan pintu mobil membuat yoojung tersipu malu. Ia membungkukkan badan berterima kasih dan melambai begitu Jimin pamit pulang. Hari ini benar-benar menyenangkan baginya. Ini adalah pertama kalinya ia berbicara dengan Jimin.

Memandangi kepergian mobil Jimin, Yoojung terus tersenyum. Hingga satu tepukan membuyarkan lamunannya. "Siapa pria itu?" tanya Jungkook yang rupanya telah melihatnya lantaran baru saja jalan-jalan di luar. Yoojung buru-buru masuk ke dalam gedung apartemen.

"Bukan siapa-siapa."

"Bohong. Dia bahkan mengantarmu dan kau... Hei, wajahmu benar-benar semerah celana dalammu!"

Yoojung membalikkan badannya dengan cepat menghadap Jungkook dan memukul kepala pemuda itu. "Dasar mesum!"







To Be Continued.

Mad Dog✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang