1.1 Perlakuan Berbeda

172 6 0
                                        

Cinta. Selalu saja berakhir menyakitkan.

-Adriel Luke Siforus-


Lelaki itu masih berada di ruang musiknya. Ia masih memainkan nada-nada sendu lewat piano Steinway A – 188 yang masih saja bersuara bagus walaupun piano itu sudah tua.

Semua adalah peninggalan dari Mamanya.

Nada itu mengalun di hari yang mulai malam. Kesendirian, kesunyian, adalah satu-satunya teman bagi lelaki berumur 17 tahun itu.

Lelaki itu adalah Adriel Luke Siforus, yang biasa dipanggil El. Lelaki bertubuh atletis itu hanya sedang sedih. Ia mengeluarkan semua emosinya terhadap piano tak bersalah itu. Hanya piano itu satu-satunya peninggalan dari Mamanya, Rose yang sudah tiada.

"Ma, kenapa El dan Joe selalu diperlakukan Papa secara berbeda?"

Ia menekan tuts berwarna putih dan hitam itu. Mengeluarkan bahasa kesedihan didalamnya.

Music sheets berjudul Liebesleid selalu terngiang dalam otaknya. Semenjak kecil, Mamanya selalu memainkan itu lewat piano yang sekarang berada di depan El.

El masih tak habis pikir, kenapa Papanya memberinya kebebasan untuk melakukan berbagai hal bahkan dulu El pernah mencoba mengetes Papanya dengan bilang jika El ingin ke club malam dan Papanya tetap memberinya ijin. Bahkan Papanya juga memberinya uang. Lalu akhirnya uang itu ia berikan kepada Joe.

Berbeda dengan Jonathan Quon Siforus.

Saudara kembar El itu selalu mendapat penolakan dari Papanya. Ia tidak diperbolehkan untuk sekedar berbincang dengan teman seusianya. Papanya selalu mentitah Joe untuk belajar, belajar dan belajar.

Joe selalu menumpahkan semua amarahnya dengan mengatakan kata-kata yang tidak sepantasnya dikatakan dari anak ke orang tuanya. El paham Joe hanya ingin mendapat perlakuan yang sama. Hanya saja, cara menyampaikannya membuat Papanya lebih mengekangnya.

El tidak tau sedang apa Joe sekarang dikamarnya. Biasanya, ia akan membanting semua benda yang berada didekatnya, lalu bersumpah serapah yang ia tujukan untuk Papanya.

Semuanya begitu menyakitkan bagi El. Ia seolah merasakan pasti apa yang dirasakan saudara kembarnya saat ini.

Mbok Iyem memanggil El dengan suara lirih, "Bos, makan malam udah siap."

El hanya menggeleng. Ia masih menatap piano itu.

"Kasian Papanya bos, dia sendiri di meja makan. Bos Joe gak mau makan,"

"Joe dimana?"

"Di kamar, Bos."

El berjalan menuju meja makan rumah mewah itu. Terlihat lelaki berusia sekitar 40 tahunan duduk sendiri didepan hidangan yang disajikan untuk 3 orang.

Mata lelaki itu berbinar-binar ketika El menghampirinya.

El langsung mengambil 2 piring Fetuccini bermandikan saus alfredo khas Italia yang sudah disajikan, tanpa menghiraukan lelaki paruh baya itu. Menganggapnya tak ada.

"Mau kemana, El?" Tanya lelaki yang tidak lain adalah Papa dari Adriel dan Jonathan, Nathaniel Veka Siforus.

"Makan sama Joe." Katanya sambil berlalu pergi meninggalkan Papanya.

Suasana rumah Siforus selalu seperti itu semenjak kepergian Rose, Mama dari anak-anak Veka. Selalu ada pertengkaran, masalah, percekcokan yang membuat mereka tidak harmonis seperti dulu.

El sudah berada didepan pintu kamar Joe. Ia memanggil-manggil nama saudara kembarnya, namun tak ada jawaban.

Ia memutuskan untuk masuk ke kamar bernuansa coklat itu. Terlihat Joe sedang menatap langit penuh bintang di malam itu, tak peduli dengan keadaan kamarnya yang penuh dengan pecahan kaca dan barang-barang yang berada bukan pada tempatnya.

LiebesleidTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang