El memasuki ruang VVIP nomor 5. Aroma obat-obatan tak sedikitpun tercium oleh indra penciuman Zahra. Tempatnya sunyi, hanya ada beberapa perawat yang mengecek pasien di ruang dengan fasilitas lebih lengkap itu.
"El," Panggil orang itu dengan lirih.
Zahra masih belum bisa melihat wajahnya karena ia berdiri di belakang El.
"Nett," Sapa El dengan lembut. "Gimana kondisi lo?"
"Udah mendingan, El. Lo kemarin gak kesini, kenapa? Gue sendirian,"
"Sekarang gue disini,"
"Udah dapet temen duet buat besok?"
El menoleh ke arah Zahra yang berada dibalik punggungnya. Meraih tangan kirinya yang masih setia membawa buah yang Zahra tak tau untuk siapa.
"Dia, namanya Zahra." El mengenalkan Zahra pada Netta.
Tangan El masih menggenggam tangan Zahra. Kehangatan yang tak biasa tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya.
Netta mengulurkan tangan kanannya untuk perkenalan, dan Zahra menjabat tangannya dengan sedikit grogi. "Gue Netta,"
"Gue pengen kenalan tapi gue udah janji sama El kalo gue bakalan diem," Zahra nyengir kuda, matanya melirik ke arah El. "Eh gue udah ngomong, ya? Yaudah kenalin, gue Zahra."
Zahra melepas gengaman El, setelah itu ia memberi buah itu kepada Netta. "Buat lo,"
"Makasih Zahra," Ucap Netta dengan menyunggingkan senyum pucat. "Gue titip El, ya? Jagain El baik-baik selama gue masih disini,"
Siapa Netta? Sedekat itukah mereka berdua?
"Yang ada dia malah nyusahin, Nett." Timpal El. Matanya melirik ke arah Zahra.
"Apa lo!" Zahra menantang El dengan tangan yang ia silangkan di dadanya.
"Cih," Ucap El meremehkan. "Kemarin malem gimana?" Tanya El.
Seketika itu juga Netta meraskan sakit yang berbeda di ulu hatinya. Sakit, tapi tak terlihat lukanya.
Jadi, El gak kesini karna lagi sama Zahra?
"Dih, kemaren malem gue cuman alergi dingin aja kok," Zahra membuat pembelaan yang pada akhirnya diabaikan oleh El.
Netta memperhatikan jaket yang dipakai oleh Zahra. Ia yakin betul bahwa itu jaket milik El. Ia berusaha beranjak bangun dari ranjangnya ke posisi duduk. Karena ia kesulitan, maka Zahra berlari menuju sisi ranjang lainnya untuk membantu Netta duduk. Di saat yang sama, EL juga membantu Netta. Zahra lebih dahulu meopang punggung Netta, disusul oleh El yang ternyata malah menyentuh punggung tangan Zahra.
Netta bisa mencium wangi jaket itu dari dekat, dan ia benar-benar yakin bahwa itu jaket milik El.
Sedekat apa El dengan Zahra?
Pertanyaan itu seketika memenuhi pikiran Netta. Tetapi, ia mencoba mengacuhkannya.
"Zahra bisa minta tolong gak?" Tanya Netta. "Gue pengen makan apel,"
"Boleh. Gue kupasin, ya?" Ucap Zahra. "Pisaunya dimana?"
El menepis tangan Zahra yang akan mengambil buah apel merah. "Gue aja." Kata El.
El mengambil satu buah apel dan langsung berjalan menuju nakas untuk mencari pisau. Zahra heran melihatnya. Bahkan El bisa hafal semua letak benda di ruangan ini. Seberapa sering El menjenguk Netta?
Zahra hanya melihat El menyuapi Netta dengan sedikit candaan. Perlakuan El ke Netta terlihat manis. Entah mengapa hatinya tidak terima.
"Zahra mau apel juga?" Tawar Netta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Liebesleid
Fiksi Remaja[SEQUEL BEDA] [BOOK 2] [judul sebelumnya ; ADRIEL] Adriel Luke Siforus tak pernah mengutarakan perasaannya lewat kata-kata. ia selalu mencari perantara, sebut saja dengan tuts piano juga goresan kertas. Kebebasan yang didapatkannya dari Papanya, ada...
