15. Painless After

7.3K 608 137
                                        

Sorry for typo 😊

Melati putih bermekaran, menghiasi sudut taman. Semerbak wanginya merasuk, merebak, menebar kedamaian. Titik embun di permukaan daunnya, menambah kesan segar. Semalaman, hujan mengguyur tanpa beban. Menyisakan hawa dingin di pagi yang tenang.

Seorang pemuda manis, berdiri tegap, mematut diri di depan cermin. Senyum mengembang tanpa beban, tersirat kebahagiaan. Binar kedua matanya, indah dan menenangkan. Membalut dirinya dalam busana formal yang menambah kesan gagah dan tampan. Lupa, jika dia masihlah remaja yang belum mapan.

Klekk

Pintu kamarnya terbuka tanpa paksaan dari luar. Dia menoleh perlahan dan mendapati sosok wanita cantik masuk ke dalam. Langkah pelan membawa serta sebuah nampan di tangan. Jungkook, tersenyum menyambut kehadirannya.

“Pagi sayang…,”Sapa nya lembut menyenangkan.

“Pagi.. Eomma…,” Balasnya ringan.

Setelah meletakkan nampan berisi sarapan, tamu kamar itu berjalan mendekat. Lebih dekat dengan sosok muda yang menganggumkan. Tampan dan menggemaskan dalam waktu bersamaan.

Ia sedikit mendongakkan kepalanya. Menatap paras rupawan yang lebih tinggi dari pandangannya. Sebelah tangannya terangkat. Membelai pipi manis, lembut menawan. Gurat senyum tak pernah bisa ia lepaskan. Wajah bahagia itu tercetak jelas, sejak pertemuan mereka yang sesungguhnya.

“Eomma sudah siap…?” Tanya Jungkook dan hanya di jawab anggukan sekedarnya dari Tiffany.

“Ayo kita berangkat,”

“Sebentar sayang… beberapa saat lagi…,” Ucap Tiffany sambil merapikan krah kemeja putih yang Jungkook kenakan.

Mereka berdua sejenak berdiri saling terdiam. Tiffany membantu Jungkook mengenakan jas hitam. Wangi aroma musk Jungkook, menguar di hidungnya. Jungkook tampil formal pagi ini. Karena ada sesuatu yang harus ia lakukan bersama dengan Taehyung dan Jaehyun. Tentu saja itu ada kaitannya dengan Kim Corp.

Tiffany menundukkan kepala. Menghindari tatapan Jungkook yang tak pernah mengancam. Ada rasa yang masih belum bisa ia kendalikan. Rasa yang selalu membuatnya ribuan kali menyesal. Setiap waktu berhadapan dengan makhluk manis bin lembut di hadapannya itu.

“Eomma…?”

Tak ada jawaban dari Tiffany. Hanya ada selaras bahu yang bergetar samar. Ia kembali menangis. Meratapi kesalahannya kepada sang buah hati. Sekalipun beberapa hari yang lalu, Jungkook sudah menyatakan diri. Jika ia menerima kembali kehadiran Tiffany tanpa kompromi. Tapi, tetap saja, semakin lembut Jungkook memperlakukannya. Semakin remuk rasa di hatinya.

Jungkook meraih tubuh ibu nya dalam rengkuhan. Ia mendekap Tiffany dan menyalurkan rasa nyaman. Tak bisa ia abaikan, sosok wanita tangguh yang telah melahirkannya ke dunia. Sudah berkali-kali Jungkook mencoba untuk meyakinkan. Jika dirinya sama sekali tak ada dendam dengan ibunda.

“Hari ini aku dan hyung, akan membantu Papa di perusahaan, aku membutuhkan restu Eomma.. doa kan aku supaya semua urusan ku lancar…,” Tukas Jungkook yang masih menimang Tiffany dalam pelukan. Memeluknya semakin erat, seraya menggoyangkan tubuh ke kiri dan ke kanan secara beraturan. Salah satu tangannya, mengusap punggung sang ibu dengan gerakan lembut menenangkan.

“Eomma juga ada pertemuan dengan perwakilan Helios bukan… Eomma hati-hati ya… orang-orang Hoseok itu menyeramkan, memang sih Eomma datang sebagai rekan bisnis mereka, tapi aku tetap saja khawatir jika terjadi sesuatu sama Eomma…,”

Tiffany masih terdiam. Bahkan ketika buah hati kesayangan cerewet tidak karuan. Ia terlanjur nyaman tenggelam dalam pelukan. Menyesap aroma tubuh anaknya yang terasa tenang dalam kelam. Kebahagiaan yang sulit untuk ia ungkapkan. Terlebih, ketika Jungkook menerimanya dengan kelapangan hatinya dan tanpa syarat.

Problematic Affectionate  ( Vkook / Brothership ) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang