Sore ini teman-teman sekelas gue pulang dengan wajah cemberut. Pasalnya pertandingan persahabatan yang di mainkan oleh kelas gue dan kelas Aldo di menenangkan oleh kelasnya Aldo. Itu bukan hal yang aneh lagi karena memang kelasnya Aldo adalah kelas perkumpulan anak-anak basket. Banyak di antara mereka yang menjadi tim inti basket dan mereka itu adalah teman dekat Aldo.
Jam sudah menunjukkan pukul empat lebih lima belas menit saat gue sudah berada di halte bus menunggu pak Bejo untuk menjemput gue. Tadi sebelum pertandingan itu benar-benar selesai gue langsung meninggalkan lapangan karena memang gue menyuruh pak Bejo untuk menjemput gue pada pukul empat sore. Namun sudah lima belas menit ini pak Bejo belum menampakkan batang hidungnya dan gue hanya bisa berdecak kesal.
Pak Bejo Bukan Bapakku
Neng Adinaya maaf ya bapak telat jemput neng. Saya lagi ngantar anak saya ke klinik dia lagi sakit. Sekali lagi maaf ya neng. Ini saya sudah pesankan taksi. Neng tunggu saja lima belas menit lagi datang taksinya.Adinaya
Gak usah pak Bejo. Nanti saya pesan sendiri saja.Pak Bejo Bukan Bapakku
Ya sudah sekali lagi maaf ya neng.Gue sudah akan memesan taksi online saat gue mendengar suara motor berhenti di depan halte yang gue singgahi. Saat gue tahu itu adalah Aldo monyet alas gue langsung berpura-pura menyibukkan diri.
"Nunggu pak Bejo ya?"
Gue cuma ngelirik dia. Gak niat untuk menjawabnya.
"Gue benci di cuekin Adinaya!" Katanya kesal lalu mencopot helemnya. Aldo mendekati gue, wajahnya tampak lelah namun dia masih terlihat ganteng dan juga menggiurkan seperti donat.
Gue jadi laperkan. Nih cowok boleh gue makan gak sih? Manis banget kayaknya.
"Apa?"
"Pulang bareng gue!"
"Gak mau. Gue udah pesen taksi!"
"Ya udah batalin."
Gue memicingkan mata gue, "Si monyet kalau ngomong suka banget ngejeplak!"
Aldo melipat kedua tangannya di depan dada. Cowok tengil itu tersenyum misterius seperti sedang merencanakan sesuatu. Gue selalu tahu mimik wajah Aldo. Aldo itu minim ekspresi. Jadi sekali dia membuat ekspresi yang langka ia tunjukkan, sudah pasti ia mempunyai rencana yang sedang di pikiran oleh otaknya yang jenius itu.
"Padahal hari ini gue mau ngajak lo ke DonatDong." Katanya santai sambil menikmati suasana halte yang ada di pinggir jalan ini.
Fuck. Gue benci. Gue benci Aldo.
Gue masih pura-pura acuh, "Yah sayang banget ya, gue udah pesen taksi. Udah jalan ke sini juga taksinya."
Aldo menjawab dengan nada terkampret yang pernah gue dengar, "Iya sayang banget. Padahal hari ini gue pengen traktir lo donat sepuas yang lo minta. Cuma untuk merayakan kemenangan kelas gue tadi sih."
Brengsek.
Tanpa malu lagi gue berjalan menuju motor Vespa Aldo, lalu memakai helm bergambar minion yang selama ini selalu gue pakai.
Aldo tertawa dan berteriak penuh dengan kemenangan.
"Awas ya lo kalau lo cuma ngibulin gue lagi. Gue congkel mata lo terus gue giling jadi rendang." Ancam gue galak pada Aldo. Gue sudah duduk manis di motor Vespanya.
Aldo tidak menjawab namun ia malah memperhatikan gue.
Gue mengernyit bingung, "Cepetan elah. Kenapa sih lo?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Long Distance RelationShit [END]
Short StoryLONG DISTANCE RELATION - SHIT "LDR (n) merupakan suatu keadaan dimana yang setia akan kalah dengan yang dekat." Copyright by Hujansoreini 2018 ⚠️DILARANG MENCOPY CERITA DALAM BENTUK APAPUN!