Satu tahun kemudian
Suara lonceng pintu seketika berbunyi saat gue mulai memasuki warung makan milik Bibi gue. Kesibukan para pelayan mulai terlihat riuh saat gue berhasil memasuki warung itu. Gue tersenyum tipis melihat Bibi gue yang sedang sibuk mengintrupsi para pegawainya.
"Selamat pagi?" Sapa gue dengan nada ceria.
Bibi gue menoleh lalu tersenyum lebar, "Eh nduk kamu sudah datang? Dari kapan kok Bibi gak denger lonceng tadi?"
"Dari tadi minta di kecup Bi!"
Bibi gue tertawa sambil mendekati gue, "Hus kamu kalau ngomong memang ga suka di filter ya. Kamu kenapa pagi - pagi begini sudah kemari? Di Jogja kalau jam segini masih dingin."
Gue melirik jam yang ada di dinding warung Bibi gue. Memang benar, jam baru menunjukkan pukul enam pagi, dan entah kenapa hari ini gue ingin sekali berjalan-jalan pagi menikmati kota Jogja. Sudah satu tahun ini gue pindah di Jogja karena gue di terima di salah satu universitas ternama di Jogja.
Jangan tanya kenapa kalian bisa heran, cewek modelan seperti gue bisa masuk di universitas ternama karena gue juga gak tahu. Waktu itu yang gue pikirkan hanyalah gue harus belajar. Entah nanti gue diterima atau tidak intinya gue harus berusaha dulu. Kalaupun nanti gue gak diterima berarti usaha gue kurang. Dan kalau menurut gue usaha gue yang selama ini gue lakukan sudah cukup maksimal namun gue tetap gak diterima, berarti doa gue yang kurang. Doa dan usaha itu harus seimbang. Nenek gue pernah berkata seperti itu kepada gue.
"Naya laper Bi. Habis bibi pergi kepagian sih. Gak ada yang masakin Naya!" Gue memasang wajah memelas gue. Memamg benar, selama di Jogja ini gue tinggal bersama bibi gue. Bibi Tania lebih tepatnya. Dia adalah kakak dari nyokap gue. Bibi gue itu baik sekali. Dia tidak pernah marah, dia selalu memperlakukan gue mirip seperti Kania, anak semata wayang bibi gue.
Bibi menarik gue mendekat lalu menyuruh gue untuk duduk di salah satu kursi.
"Sebentar bibi panggilan mas Jum. Dia tadi habis belanja. Semoga saja dia beli cemilan." Setelah itu suara merdu bibi gue mulai memanggil pegawainya yang bernama mas Jum.
"Mas Jum sini!"
Kemudian tak lama sosok mas Jum yang gue kenal dengan perawakan tinggi hitam dan bermuka datar itu datang di hadapan bibi gue.
"Sampean mau tuku roti ora? Iki lho ponakan ku ngelih. Aku lali ora masak."
"Tumbas mbak. Roti koyo biasane kae!"
Bibi gue menatap gue yang sedang memasang wajah bingung, "Nduk mas Jum cuma beli roti. Kamu makan roti dulu ya?"
"Apapun yang bisa di makan Bi. Usus Naya udah keriting nih gara gara belum makan."
Tidak lama kemudian mas Jum membawa satu piring penuh roti. Dari kejauhan gue sudah dapat menduga itu roti apa. Dan setelah mas Jum menaruh piring itu di hadapan gue dengan sempurna, seketika gue langsung sesak napas.
"DonatDong?" Kata gue lirih dengan nada bergetar yang cukup di dengar jelas.
"Kamu tahu DonatDong?" Mas Jum bertanya dengan nada heran.
Gue tertawa kaku, "Hahaha engak kok mas. Cuma pernah denger dari cerita teman."
"Oh kirain tahu. Ya sudah mas Jum kebelakang dulu."
"Ono opo to nduk? Kok wajah mu jadi pucat gitu?" Bibi bertanya setelah mas Jum kembali ke belakang untuk bekerja.
Gue masih tersenyum kaku, "Ah engak kok bi. Naya cuma kaget aja."

KAMU SEDANG MEMBACA
Long Distance RelationShit [END]
Short StoryLONG DISTANCE RELATION - SHIT "LDR (n) merupakan suatu keadaan dimana yang setia akan kalah dengan yang dekat." Copyright by Hujansoreini 2018 ⚠️DILARANG MENCOPY CERITA DALAM BENTUK APAPUN!