"Hallo Wirat?"
"Hey tumben telfon jam segini?"
"Aku gak bisa tidur." Kata gue sambil menikmati pemandangan malam dari balkon kamar gue. Dinginnya malam tidak menjadi sesuatu yang berat untuk menganggu gue karena ada sesuatu yang jauh lebih mengganggu gue sejak tadi. Saat ini juga gue harus menuntaskan hal yang mengganggu gue tersebut karena malam ini gue sangat ingin tidur dengan nyaman tanpa memikirkan apapun.
"Kangen aku ya?"
"Bukanlah. Lagi kangen sama Aldo jadi gak bisa tidur."
Di sebrang sana Athan mengumpat keras dan gue tertawa akan hal itu, "Kenapa sih selalu ada Aldo di setiap pembicaraan kita? Wirat cemburu Peni."
"Kamu gak nyoba buat baikkan sama Aldo?"
"Maksud kamu apa?"
Gue terkekeh, jelas sekali kalau saat ini Athan sedang pura-pura tidak tahu akan topik pembicaraan gue.
"Sampai saat ini aku masih penasaran, kenapa kamu jauhin Aldo. Padahal Aldo udah nyoba memperbaiki hubungan kalian."
"Kamu ngomong apa Peni?"
"Wirat seharusnya kamu gak kayak gini sama dia. Bagaimanapun juga dia sahabat kamu."
"Kamu gak tahu apa-apa Peni. Gak usah dengerin apa kata Aldo. Yang dia bilang semua ke kamu itu bohong." Athan sedikit sengak saat mengatakan itu.
"Kenapa? Kenapa aku gak boleh percaya sama Aldo?"
"Karena yang dia ucapkan itu kebohongan."
"Oke. Sekarang coba jelasin semuanya menurut versi kamu. Aku mau tahu semuanya dengan jelas dan gak ada yang di tutup-tutupi lagi."
Di sebrang sana Athan menarik nafas panjang. Oke Supeni sebentar lagi kamu akan tahu cerita kebenarannya.
"Dia bilang apa sama kamu?"
"Kata mu cerita Aldo itu bohongan? Jadi aku gak mau cerita yang kemarin aku dapetin dari Aldo."
"Intinya aku udah ngerebut perempuan yang dia sukai sejak kita berdua masuk sma. Dan saat dia tahu aku sekelas sama perempuan yang dia sukai, dia semakin girang. Dia pengen di kenalin sama perempuan itu, tapi di sisi lain yang tadinya aku gak perduli dengan keberadaan perempuan itu, aku jadi perduli dan mungkin suka karena Aldo selalu menceritakan kekagumannya pada perempuan itu."
Gila. Jantung gue langsung berdenyut kencang mendengarkan penuturan itu.
Seberapa lama Aldo mulai menyukai gue? Eh perempuan yang di sukai Aldo itu kan gue bukan sih? Jangan-jangan bukan gue.
Kepalang gue udah pede duluan. Anjir-anjir.
"Pasti dia bilang kalau dia udah mencoba buat baikkan sama aku kan? Nyatanya sampai saat ini Aldo sama sekali gak pernah ngehubungin aku."
"Tapi Wirat... "
"Dia bilang seperti itu cuma buat ngedapetin perhatian dari kamu sayang. Supaya kita menjauh. Supaya kamu mikir semua yang terjadi saat ini itu karena aku."
"Dia gak seperti itu Wirat. Dia..."
"Aku yang udah jadi sahabatnya selama tiga tahun Peni. Aku tahu semua kelakuan baik dan buruknya Aldo."
"Tapi buat apa Aldo ngelakuin hal bodoh kayak gitu?"
"Kamu paham gak sih perempuan yang kita bicarain sejak tadi?"
"Athan... "
"Perempuan itu kamu Peni. Aldo tuh suka sama kamu udah lama. Dan aku juga suka sama kamu. Sebelum Aldo melangkah lebih jauh, aku udah ngedapetin hati kamu. Dan aku cukup puas karena aku gak kehilangan kamu. Karena kamu udah jadi milikku. Bukan milik Aldo."
"Aku bukan barang Athan. Dan aku gak suka di perebutin kayak gini." Sekarang gue marah. Gue marah karena sudah menjadi sumber masalah di antara dua sahabat itu. Dan gue marah pada Athan karena selama ini dia menganggap gue barang yang hanya boleh ia miliki. Hanya boleh ia punyai. Dan gue gak suka akan hal itu.
"Pokoknya aku gak suka kalau kamu masih deket-deket sama Aldo."
"Brengsek!" Umpat gue penuh dengan kekesalan.
"Aku gak perduli. Lebih baik kamu jauhin Aldo. Atau kamu akan menyakiti sahabat kamu sendiri."
"Maksud kamu apa?" Sentak gue galak. Bahkan gue sampai mengepalkan tangan gue karena rasa kesal yang saat ini gue rasakan.
"Linda suka sama Aldo. Sampai sekarang dia masih berusaha buat pedekate sama Aldo. Tapi semuanya gagal gara-gara kamu makin nempel sama Aldo."
"Jadi kamu nyalahin aku gara-gara aku deket sama Aldo?"
"Please jangan buat aku marah. Turutin apa kata ku dan semuanya akan berjalan sesuai dengan semestinya."
"Anjing. Gue benci sama lo!"
Tanpa menunggu lebih lama lagi gue menutup panggilan itu dan melempar ponsel gue hingga mengenai tembok kamar gue. Tubuh gue merosot dengan tangis yang membanjiri pipi gue.
Jadi selama ini Linda suka sama Aldo?
Jadi selama ini Athan tahu?
Kenapa hanya gue di sini yang gak tahu apa-apa?
Dan pastinya Aldo juga tahu kan kalau selama ini Linda suka dia?
Fuck!
"Adinaya?" Suara nyokap gue tampak nyaring di sertai dengan gedoran di pintu kamar gue.
Gue yakin seratus persen kalau saat ini Athan sudah memberi tahu masalah yang membuat gue seperti ini kepada nyokap gue. Kadang gue sangat ingin melakban mulut comber Athan karena gue memang tidak ingin nyokap gue mencampuri urusan pribadi gue.
Demi apapun gue sudah tujuh belas tahun. Gue tahu apa yang harus gue lakukan jika gue sedang menghadapi sebuah masalah. Kalaupun gue gak bisa, sudah pasti gue akan mencari orang terdekat gue untuk membantu memecahkan masalah gue. Dan nyokap gue adalah pilihan terakhir gue karena gue sangat malas sekali berurusan dengan beliau. Bukannya apa tapi gue tahu nyokap gue sudah pusing memikirkan pekerjaannya. Dan gue gak mau beliau terbebani hanya karena masalah sepele gue.
Gue menangis melepaskan semua rasa sakit dan juga sesak yang akhir-akhir ini menumpuk di dalam hati gue. Entah itu rasa sesak akibat perasaan Aldo ataupun sikap gue terhadap Athan. Dan kali ini gue merasa benar-benar seperti orang bodoh yang terus di bohongi oleh dua laki-laki bangsat itu.
"Boleh mama masuk sayang?"
Gue bangkit lalu kembali masuk ke dalam kamar gue. Gue meraih kertas kosong lalu menuliskan sesuatu untuk nyokap gue.
Maaf ma. Adinaya pengen sendiri. Sekarang mama balik aja ke kamar. Adinaya mau tidur.
Setelah menuliskan apa yang ada di dalam hati gue. Gue menyelipkan kertas itu di bawah pintu kamar gue. Tidak berselang lama kertas itu sudah di tarik oleh nyokap gue.
Terdengar tarikan nafas panjang dari nyokap gue dan hal itu semakin membuat gue merasa sedih.
"Kamu tahu kan Adinaya? Walaupun mama seperti ikut mencampuri urusan pribadi kamu tapi mama hanya ingin menjadi mama yang baik buat kamu. Good night sayang. Mama harap besok mama bisa melihat Adinaya anak mama yang ceria."
****
🍩🍩🍩

KAMU SEDANG MEMBACA
Long Distance RelationShit [END]
Short StoryLONG DISTANCE RELATION - SHIT "LDR (n) merupakan suatu keadaan dimana yang setia akan kalah dengan yang dekat." Copyright by Hujansoreini 2018 ⚠️DILARANG MENCOPY CERITA DALAM BENTUK APAPUN!