Pagi ini yoongi terlambat bangun, jadi dia berusaha untuk mandi secepat yang dia bisa dan langsung melesat menuju sekolah.
"Yoongi-ya, sarapan dulu!" Teriak ibunya dari dapur yang telah dilewati putranya itu.
Yang dipanggil berhenti dan berbalik, lalu mengambil sebuah apel dari meja makan dan kembali berlari tergesa-gesa menuju motornya.
Hyorin hanya menggelengkan kepala melihat tingkah putra semata wayangnya itu, dia sudah hampir lulus SMA, tapi belum bisa mengurus dirinya sendiri, demikian pikir ibunya.
.
Saat setelah yoongi sampai di sekolah, bel tanda masuk langsung berbunyi.
Tepat waktu.
Yoongi bergegas masuk ke ruang kelas dengan berlari, dan itu membuat nafasnya tersengal.
"Yak! Yoongi-ya, aku kira kau tidak masuk hari ini." Ujar seokjin.
Yoongi menatap tajam sahabatnya itu, nafasnya masih belum teratur.
Mengerti maksud tatapan yoongi, seokjin langsung menelan ludahnya, "mianhae."
.
Pelajaran pertama telah selesai, dan dilanjutkan dengan pelajaran kedua, olahraga. Semua siswa langsung menuju ruang ganti, kecuali namjoon. Dia masih dalam posisi yang sama sejam terakhir. Karna merasa aneh, seokjin mendekati mejanya,
"Namjoon-ah, kau tidak..." perkataan seokjin terhenti.
Yoongi ikut mendekat ke arah seokjin, "kenapa dia?"
Seokjin hanya menunjuk dengan menaikkan dagunya ke arah namjoon. Yoongi pun melihat ke arah itu. Dan,
"Astaga! Bagaimana bisa dia tertidur diatas bukunya? Aku kira dia sedang membaca dari tadi." Yoongi pun menggebrak meja namjoon.
Namjoon melonjak kaget karna gebrakkan meja dari sahabatnya itu. "Kau kenapa menggebrak mejaku? Aku sangat kaget, kau tahu?"
"Yak! Kau yang kenapa? Ini sekolah, bukan rumahmu. Kajja, waktunya olahraga."
Seokjin menatap yoongi lamat-lamat, tak biasanya dia mau berdebat dengan namjoon.
Merasa ada yang menatapnya, yoongi menepuk pundak seokjin, "hey, seokjin-ah, jangan menatapku seperti itu. Aku jijik."
Seokjin langsung berkedip dan terkekeh, "tidak, aku hanya merasa aneh saja padamu. Hari ini kau berbeda."
Hah? Benarkah?
"Yak! Kalian berdua masih disana? Kajja, jangan malas olahraga!" Teriak namjoon dari luar jendela kelas.
Seokjin geram melihat tingkah satu sahabatnya itu, bagaimana bisa, orang semalas dan seceroboh namjoon memiliki IQ paling tinggi di sekolah ini?
.
Pelajaran kedua telah dimulai satu jam yang lalu. Dan sisa jam pelajaran ini yoongi habiskan untuk melatih kemampuan basketnya.
"Yoongi-ya, kau itu ketua klub basket. Sudah jelas ahli bermain basket, kenapa harus latian terus." Tanya namjoon.
Yang ditanya tak menghiraukannya, masih terus mendrible bola kesana kemari.
Sudah cukup lama yoongi bermain basket, seokjin dan namjoon khawatir pada sahabat mereka yang memiliki sifat tsundere itu.
Akh!
Itu yang mereka khawatirkan. Mendengar yoongi berteriak, mereka langsung berlari menuju sumber suara.
"Gwaenchana?" Tanya namjoon.
Tak!
Seokjin menjitak kepala namjoon, "ini sudah pasti sakit, berarti dia tak baik saja! Ayo bawa ke ruang UKS."
"Tidak. Ke rumah sakit saja! Lihatlah, kakinya sudah mulai bengkak." Usul namjoon.
Yoongi hanya diam dan meringis, kakinya sungguh sangat-sangat sakit. "Yak! Kalian berdua! Bawa aku ke rumah sakit. Biar dokter saja yang mengurusku, jika kalian berdua, aku malah tambah pusing!"
Tengah yoongi sambil meringis menahan sakit.
.
Sesampainya di rumah sakit, yoongi langsung dibawa ke ruang penanganan. Dan benar, kaki kirinya patah, jadi harus di gips.
Hyorin, ibu yoongi, datang 20 menit kemudian setelah ditelfon oleh seokjin.
"Bagaimana keadaan yoongi?" Tanya hyorin pada kedua sahabat putranya itu.
"Kata dokter, kaki kirinya harus di gips karna patah." Jawab seokjin.
Nafas hyorin menderu, ya Tuhan, jangan biarkan hal buruk terjadi padanya.
Setengah jam menunggu, akhirnya mereka diperbolehkan masuk untuk melihat yoongi.
Ibu yoongi langsung berlari ke arah putranya, "Yoongi-ya, kau kenapa, nak? Apa kau tidak apa-apa?"
Yoongi mengedipkan matanya, tanda tidak apa-apa. "Nan gwaenchana eomma. Kogjong hajima."
Ponsel hyorin bergetar, tanda ada panggilan masuk.
"Ne?"
"...."
"Mwoya? Lagi? Bagaimana keadaanya?"
"...."
"Kebetulan aku disini juga. Tunggu aku."
"..."
Bip!
Panggilan berakhir.
"Nuguseyo, eomma?" Tanya yoongi.
"Tuan joohyun. Putranya masuk rumah sakit lagi. Eomma harus kesana sebentar, kau tunggu disini. Di depan masih ada seokjin dan namjoon. Mereka akan menemanimu."
Yoongi mengangguk. Dahinya berkerut, lagi? Apa itu artinya dia sudah sering masuk rumah sakit?
Dan yang dimaksud 'sebentar' adalah lima jam. Namjoon dan seokjin bahkan meminta izin kepada pihak sekolah untuk tak melanjutkan pelajaran hari ini karna menemani yoongi di rumah sakit, dan mereka sekarang malah tertidur di sofa.
Apa anak itu penting sekali, sehingga eomma menomor satu kannya? Bukankah akulah yang anak kandungnya?, begitu pikir yoongi.
Sudah berkali-kali yoongi memejamkan mata, tapi tak juga tertidur. Sesekali dia meringis kesakitan pada kaki kirinya. Tepat sepuluh menit kemudian yoongi tertidur.
Tak lama, pintu ruangan yoongi terbuka. Ibunya menghela nafas lega saat melihat putranya tengah tertidur pulas. "Setidaknya, untuk kali ini, dia belum bertanya mengenai keadaannya sendiri." Lalu pandangannya teralihkan pada amplop berlogo rumah sakit yang dipegangnya sekarang.
.
TBC....
'Anak itu' kenapa?
Gimana keadaan yoongi?
Itu amplop apa?
:v
KAMU SEDANG MEMBACA
FIRST SNOW ✔
Fanfiction"Bagaimana rasanya salju, hyung?" The Highest Rank #1-yoonkook (lupa kapan)
