21.20
Jennie buru buru menutup pintu rumahnya dengan perasaan was was, setelah Taeyong, pacar kesayangannya itu pulang.
Sejujurnya Jennie takut, ditambah kata kata Mark tadi sore yang terus berputar dikepalanya.
"Kak Jennie mungkin aja jadi target selanjutnya, karna Kak Jennie tau sesuatu. Kak Jennie harus siap dan kalau ada apa apa hubungin Kak Taeyong, ataupun salah satu dari kita. Aku mohon Kak Jennie tanggap demi diri Kak Jennie sendiri dan kita semua kak."
Semuanya kaget waktu Mark ngomong kayak gitu, terutama Jennie. Ia merasa dirinya diincar sekarang.
Bahkan tadi Taeyong sudah menawarkan diri untuk menginap karna Taeyong tau, Jennie lagi ketakutan. Tapi Jennie menolak karna kasihan dengan Taeyong yang seharian ini sudah lelah mengurus kasus kematian teman temannya, ditambah lagi jika harus menjaganya semalaman.
Jennie beranjak ke dapur untuk mengambil minum, sambil menenangkan pikirannya. Ia berusaha menepis semua pikiran buruk dan percaya, bahwa teman temannya serta adek kelasnya dapat diandalkan. Terutama pacarnya, Taeyong.
Setelah merapikan ruang tengah yang tadi dipakai untuk ngobrol, Jennie langsung naik ke atas menuju kamarnya untuk mengistirahatkan dirinya. Ia menjatuhkan badannya diatas kasur kesayangannya itu dan tangannya meraih meja mengambil Handphone miliknya.
Ia membuka pesan yang masuk satu persatu ke Handphonenya, yang kebanyakan pesan Taeyong yang menyuruhnya untuk hati hati, serta grup kelasnya yang sedang mendiskusikan PR untuk esok hari.
Jennie mendengus, sekarang bukan waktunya untuk memikirkan pr nya, namun hidupnya sedang terancam sekarang.
Ia terus memainkan Handphonenya sampai matanya menangkap sesuatu yang asing. Sebuah notifications SMS dari nomor yang tidak dikenal masuk ke Handphonenya. Tanpa basa basi, Jennie langsung membukanya.
08222771xxxx
Jennie, gue minta lo datang ke lapangan besok pagi, lo mau tau kan siapa pembunuhnya? Ingat, tapi lo harus datang sendiri.
Jennie menahan nafas, buru buru ia menelpon Taeyong dan memberitahu perihal sms yang ia dapat.
Enggak lama kemudian, Taeyong datang ke rumah Jennie, dan menemukan Jennie yang sedang menangis kencang dikamarnya. Taeyong langsung meraih Jennie dan memeluk perempuan kesayangannya itu sangat erat, seakan akan dapat kehilangan Jennie kapan saja.
"Enggak usah khawatir Jen, gue gaakan biarin psikopat itu nyentuh lo seujung kuku pun."
"Gue janji sama diri gue sendiri, gue bakal ngelindungin lo"
Dan Jennie pun malam itu tertidur dipelukan Taeyong, hanya saja Taeyong tidak tertidur. Otaknya terus bekerja memikirkan cara agar ia dapat melindungi perempuan yang sedang berada didalam pelukannya itu. Ia tidak mau jika kejadian Hanbin, Yuta, Mark serta Renjun terjadi pada dirinya juga. Sudah cukup teman temannya yang menjadi korban, jika Jennie pun ikut menjadi korban, mungkin Taeyong akan berubah gila.
Jum'at, 11-11-17
05.13
Jennie terbangun dengan tubuh gemetar, Taeyong yang menyadari hal itu kembali memeluk Jennie dengan erat dan menguatkan gadis itu.
"Udah waktunya Jen.. tenang aja, gue selalu ada buat lo."
Jennie mengangguk dan membalas pelukan Taeyong dengan erat, seakan akan itu pelukan terakhir mereka. Jennie lalu bangun dan berjalan gontai ke kamar mandi untuk bersiap siap menuju kesekolah. Ia memang janjian akan bertemu pagi hari dengan seseorang yang meng-sms nya semalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sycho?¿ || 95-00
Mystery / ThrillerMereka saling menyalahkan Padahal pembunuhnya sedang menonton mereka.. Sambil menyeringai senang..
