" Gimana gimana?" Tanya Haechan ngos ngosan karna habis berlari menuju lantai tiga. Fyi kelas di sekolah mereka dibagi tiga sesuai angkatan. Kelas 10 di lantai 1, kelas 11 dilantai 2 dan kelas 12 dilantai 3.
"Kita bagi tugas aja dulu sekarang. Haechan, lo sama June periksa lantai tiga, Mingyu sama Ten periksa lantai dua, Mark sama Doyoung periksa lantai satu, Dan gue Yuta sama Renjun periksa lapangan." Semua mengangguk mengikuti instruksi Taeyong, tanpa ada yang menyela.
"Kita cari sampai bel istirahat. Kalau ada yang ketemu, ngomong lewat Grup. Kalau gak ada, kita ngumpul lagi disini." Semuanya kembali mengangguk dan segera berpencar untuk menjalankan tugasnya masing masing.
Renjun berusaha mengelilingi lapangan sambil terus memanggil nama Sohye. Dalam hatinya, ia berharap bahwa gadis itu tidak kenapa napa. Ia lebih senang jika menemukan kenyataan bahwa Sohye mungkin mencoba bolos atau semacamnya.
Pencarian terus dilakukan hingga bel istirahat berbunyi. Mereka semua langsung menuju ke depan kelas 12 MIPA 1 seperti yang direncanakan tadi.
"Ada yang ketemu?"tanya Taeyong. Semuanya menggeleng perlahan membuat Taeyong menghembuskan nafas dengan kencang.
"Gue yakin pasti ada disekolah. Enggak mungkin sampai keluar!" Ucap Yuta ber api api.
"Gue setuju sama Kak Yuta. Karna dari kemaren kemaren, pembunuhnya selalu beraksi disekolah." Tambah Mingyu.
Tidak ada lagi yang bersuara setelahnya karna sibuk dengan pikiran masing masing. Suasananya begitu hening hingga tiba tiba Jennie datang dan menepuk pundak Taeyong yang membuat Taeyong sedikit terlonjak kaget.
"Gimana yang? Ketemu?" Tanya Jennie yang dijawab gelengan lesu oleh Taeyong.
"Kita udah nyari muterin sekolah kak! Tapi tetap aja gak ketemu!" Sahut Mark.
"Kalian udah cek toilet cewe?" Tanya Jennie.
Perkataan Jennie barusan membuat semuanya yang awalnya lesu menjadi kaget dan menyadari sesuatu. Ya, mereka belum memeriksa toilet cewe karna tidak berani masuk.
"Belum kak! Gue lupa!" Pekik June.
"Lagian Jen, yakali kita masuk toilet cewe!" Tambah Doyoung
Jennie hanya menggeleng gelengkan kepala dan menyeret Taeyong.
"Ayok sekarang kita periksa toilet cewek!"
Mereka mulai memeriksa toilet cewe, Sebenarnya hanya Jennie sendirian yang memeriksa. Sisanya menunggu diluar karna merasa sungkan jika harus memasuki toilet cewek.
Sohye belum juga ditemukan hingga toilet dilantai tiga. Harapan Jennie sudah putus. Namun masih ada satu lagi toilet yang belum ia periksa. Toilet yang jarang ada pengunjungnya karna letaknya yang lumayan jauh, toilet disamping tangga menuju Rooftop.
Jennie mencoba masuk dan menahan nafas. Ya, toilet ini sedikit tidak terurus karna jarang ada yang memakainya. Ia berjalan pelan pelan sambil membuka pintu toilet satu persatu, hingga sampai pintu terakhir, ia terpaku dan matanya membulat. Setelahnya, ia berteriak sangat kencang.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!"
Teriakan Jennie membuat Taeyong langsung kalang kabut memasuki toilet tanpa memikirkan lagi jika itu adalah toilet cewe. Taeyong langsung menghampiri Jennie yang mulai menangis dan memeluknya.
Pergerakan Taeyong diikuti yang lain karna mereka juga kaget mendengar teriakan Jennie. Begitu sampai toilet, mereka membatu melihat pemandangan didalam toilet terakhir yang dibuka oleh Jennie.
Ya, Sohye ketemu. Namun dengan kondisi yang mengenaskan.
Tubuhnya berendam didalam bak air yang kerannya menyala. Wajah Sohye memucat kedinginan, namun masih tercetak jelas lebam lebam kebiruan di wajahnya. Darah terlihat mencampuri Air yang tumpah keluar bak karna keran yang terus dibuka, bahkan dapat dilihat bahwa air didalam bak sudah berganti menjadi kemerahan.
Semuanya diam membeku, tak ada yang berani masuk. Taeyong masih terus memeluk Jennie dengan erat yang kini menangis di dadanya.
Renjun menarik nafas dan melangkah masuk. Tangannya gemetaran dan matanya memerah. Perasaannya campur aduk sekarang. Ia merasa sedih, namun juga merasa marah dan benci dengan psikopat yang berani menyentuh Sohye. Tangan Renjun menggapai keran air dan memutarnya hingga mati. Setelahnya, ia mengangkat tubuh Sohye yang mulai dingin itu keluar bak air dan memeluknya. Ada sedikit rasa sesal dihati Renjun. Andai saja ia cepat menyadari bahwa Sohye tidak ada dikelas, pasti ia masih sempat menyelamatkan nyawa Sohye.
Yuta ikutan masuk ke dalam toilet dan mengambil Sohye dari dekapan Renjun. Ia tau perasaan Renjun, namun memeluk Sohye sekarang bukanlah hal yang wajar untuk dilakukan. Yuta lalu mendudukkan tubuh Sohye di dinding Toilet dan menutupi tubuh Sohye dengan Jacket yang ia kenakan.
"Di kepala nya kak... darahnya berasal dari kepalanya.." Ucap Renjun dengan nada bergetar sambil memandangi tangannya yang penuh dengan darah.
Yuta langsung menegakkan tubuh Sohye dan meraba kepalanya. Ia lalu menarik tangannya dan menemukan bercak darah disitu. Yuta lalu memegang leher Sohye, namun tidak ada denyut nadi yang menjadi tanda kehidupan disana. Ia lalu menggeleng lemas sebagai tanda bahwa Sohye sudah tidak bernyawa.
Renjun lalu berjongkok disamping mayat Sohye dan menangis. Yuta pun ikut berjongkok dan menepuk nepuk punggung Renjun untuk memberi kekuatan kepada cowok itu. Ya, Yuta tidak buta. Ia tau bahwa selama ini Renjun mencintai Sohye. Meskipun baru beberapa kali ia melihat interaksi antara Renjun dan Sohye, namun ia sudah bisa menebak bahwa sebenarnya Renjun mencintai Sohye. Dan bagaimana pun, Yuta pernah ada di posisi Renjun dimana ia pernah kehilangan perempuan yang begitu ia cintai.
Tangis Renjun semakin kencang. Ia menyesal karna terlambat menyadari bahwa Sohye menghilang. Ia menyesal karna terlambat mencari Sohye, dan ia menyesal karna belum sempat memberitahu Sohye bahwa selama ini ia mencintainya, dan sekarang Renjun sudah terlambat. Renjun bukan tipe cowok seperti Mark yang dengan berani menembak Arin didepan teman teman sekelas, atau seperti Jeno yang selalu berusaha untuk ada di samping Siyeon meskipun dalam keadaan sulit. Ia hanya mampu diam dan memperhatikan Sohye. Berusaha menemani cewek itu dikala ia merasa kesepian dan berusaha membantu Sohye disaat ia kesusahan, atau menggunakan status 'ketua kelas' dan 'teman pmr' untuk berada didekat Sohye dan mengkhawatirkan Sohye. Dan Renjun sangat menyesal sekarang karna ia belum sempat mengatakan kepada Sohye bahwa sesungguhnya ia mencintai gadis yang selalu bahagia dan tersenyum itu.
Ada sedikit amarah di hati Renjun. Kenapa harus Sohye, gadis yang selalu tersenyum dan ramah kesemua orang yang harus menjadi korban selanjutnya psikopat sialan itu. Dalam hati, Renjun diam diam memaki, menyumpahi psikopat tersebut yang dengan tega merenggut nyawa Sohye.
Mingyu ikut mendekati Renjun dan menenangkannya. Sedangkan Ten mencoba masuk ke toilet dan mencari sesuatu.
Mata Ten berhenti di bak air ketika ia melihat benda yang ia cari sedari tadi tergeletak dipinggir bak air. Ya, ia mencari kertas yang mungkin saja berisi surat dari psikopat itu.
Tangannya meraih kertas yang sudah setengah basah itu dan membukanya. Matanya membelalak membaca tulisan yang tercetak disana meskipun sedikit tidak jelas karna basah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.