"YA TERUS LO MAUNYA GIMANA JING??!" Ujar Yuta yang muak mendengar tangisan Sowon. Yuta baru aja sampai sekolah dan keadaannya benar benar kacau, terutama kelasnya. Taeyong sudah pergi menemui Mark sedangkan Yuta disuruh tinggal dikelas untuk menenangkan Sowon bersama Doyoung.
Cuma ya ini Sowonnya daritadi masih nangis jerit, dan parahnya tadi Sowon sempat mau bunuh diri dengan mencutting tangannya sendiri menggunakan cutter. Hal ini membuat Yuta dan Doyoung panik. Sekarang mereka duduk berhadapan dengan posisi Yuta didepan Sowon dan Doyoung disebelahnya menahan tangan gadis itu agar tidak melanjutkan aksinya.
"LO COBA NGERASAIN JADI GUE! JOY SAHABAT GUE DARI KECIL! DAN SEKARANG DIA NINGGALIN GUE KARNA PSIKOPAT SIALAN ITU!!" Jerit Sowon sambil menangis. Doyoung juga sudah capek daritadi nahan Sowon supaya enggak ngamuk.
Bayangin woy itu tangan kanan Sowon masih megang Cutter.
"Iyaa gue tauuuuu Sowoon!! Tapi coba lo diam dulu yaa?? Itu Cutternya ditaruh dulu. Lo tenangin diri duluuu." Ujar Yuta mencoba sabar. Namun tetap aja Sowon trus meronta sambil menjerit dan menangis padahal tangannya sudah dipegangi Doyoung daritadi.
"LO BISA NGOMONG TENANG KARNA LO GATAU RASANYA NJING! LO GAPERNAH NGERASAINN SEDIHNYA JADI GUE!"
Ucapan Sowon membuat Yuta mengepalkan tangannya dan meninju meja yang ia duduki. Hal ini membuat Sowon cukup kaget dan terdiam, begitu juga dengan Doyoung.
"Lo bilang gue gak pernah ngerasain? LO BILANG GUE GATAU RASANYA KEHILANGAN ORANG YANG GUE SAYANG? BUKAN CUMA JOY YANG MATI! MINA GUE JUGA MATI GARA GARA PSIKOPAT SIALAN ITU! LO KIRA CUMA LO YANG SEDIH? LO YANG PALING MENDERITA? LO YANG PALING NGERASA KEHILANGAN?" Yuta berusaha mengendalikan nafasnya yang memburu dan amarahnya yang sudah naik keubun ubun. Ya, topik Mina dan kematiannya memang masih sedikit sensitif untuk Yuta.
Keadaan ini membuat Doyoung semakin bingung, sekarang mana yang harus ia tenangin?
"Gue tau lo ngerasa kehilangan.. gue tau perasaan lo. Tapi gue minta lo tenang dulu, supaya semuanya gak makin runyam dan susah. Bukan cuma lo yang ngerasa kehilangan disini, gue juga. Joy juga teman gue." Ucap Yuta dengan suara yang lebih pelan. Kini emosinya sudah dapat kembali terkontrol.
Mendengar ucapan Yuta membuat Sowon kembali menangis, namun kali ini bukan tangisan dan jeritan marah yang keluar dari mulutnya, melainkan tangisan sedih dan perasaan bersalah. Pelan pelan ia meletakkan Cutter yang sedari tadi digenggamnya ke atas meja.
"Ma..maafin gue Yut.. gue gak maksud ngebuka luka lama lo.. gue, gue cuma kalap tadi karna sedih banget.. gue minta maaf kalau udah ngerepotin lo Yut.. gue juga minta maaf ke lo Young.."
Yuta tersenyum mengangguk. Sedetik kemudian, ia dan Doyoung merangkul gadis didepannya untuk memberikan kekuatan.
"Lo itu kuat Won.. gue yakin lo sanggup ngerelain Joy.. kita semua masih butuh lo disini untuk ngebantu nangkap psikopat sialan itu Won... kita masih butuh lo Sowon.."
. . . . . . . . .
-dikoridor kelas 10-
"Kak Taeyong!"
Mark sedang berdiri didepan kelasnya begitu melihat Taeyong berlari dari tangga menuju kearahnya.
"GIMANA MARK?"
Taeyong yang baru sampai sekolah buru buru meletakkan tasnya dikelas dan berlari menghampiri Mark. Ia cukup bingung karna kali ini korbannya 3.
"Tadi Kak Mingyu bilang dia nemuin surat di sakunya Kak Bambam! Coba Kak Taeyong samperin mereka dulu!" Jawab Mark.
Taeyong mengangkat alisnya dan mengangguk. Namun ia sempat bertanya kembali sebelum ia menuju ke lantai 2. "Lo gakpapa Mark?"
Mark tersenyum dan mengangguk, dan setelahnya menyuruh Kak Taeyong untuk buru buru naik menuju lantai dua.
Sepeninggal Taeyong, Mark membalikkan badannya dan ingin mengambil tasnya yang tergeletak diatas bangku taman didepan kelasnya, namun pundaknya ditepuk oleh seseorang.
"Lo beneran gakpapa Mark?" Tanya Jaemin.
Lagi lagi Mark mengangguk dan tersenyum, namun Jaemin tau bahwa Mark hanya berpura pura kuat.
"Lo mending pulang aja Mark, istirahat."
Tapi Mark menggeleng dan kembali tersenyum. "Gue kayaknya mau nyusul Kak Taeyong ke kelasnya Kak Mingyu. Gue pergi dulu ya."
Jaemin cuma bisa mengangguk dan menatap Mark yang sudah melangkah menuju tangga. "Maafin gue, Mark.."
. . . . .
"Kali ini isi suratnya apa lagi?" Tanya Taeyong kepada Mingyu yang sedabg memegangi kepalanya karna pusing.
"Nih kak. Tapi enggak ada inisialnya. Makin pusing kepala gue ini"
Taeyong menerimanya dan membacanya, rasanya, hal ini sudah biasa bagi Taeyong.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Makin lama, makin keliatan psikopat nya njing." Umpat June.
"Trus Bambam, Joy, sama Arin dimana?" Taeyong kembali bertanya.
"Udah dibawa polisi tadi kak."
Gak lama kemudian, Mark datang dan ikut gabung.
"Kak! Kayaknya gue tau siapa pembunuhnya! Tapi gue butuh kepastian dari Kak Jennie!" Ucap Mark bersemangat.
"Lah? Jennie?" Tanya Taeyong heran.
Sekian muehehehe Akutu makin kena writers block jadi ya gitu. Maaf kalau makin jelek dan gak menarik ini cerita. Aku berencana untuk mennyelesaikan secepatnya. Suapay kalian juga gabosan bosan amat hehew