Woy nyatanya, part klarifikasinya terlalu panjang kalau dibuat satu chapter doang ahahaha. Jadi kubagi bagi. Maapin aku yang kelamaan ya! Enjoy!
Senin, 16-10-17
Jaemin menidurkan kepalanya diatas mejanya sendiri. Baru ia ingin memejamkan mata, terdengar suara ribut didepannya. Rupanya, Sanha, Haechan dan Siyeon sedang adu mulut.
Tunggu, Siyeon, gadis itu.
Seseorang yang Jaemin kagumin dari awal masuk sekolah. Tapi kayaknya, Siyeon lebih tertarik sama Jeno, temannya Jaemin yang keliatan keren meskipun sedikit blangsakan daripada dirinya sendiri yang tiap hari kerjaannya belajar mulu.
Jaemin awalnya tidak terlalu memperhatikan perdebatan didepannya. Sampai akhirnya ia mendengar suara Mark dan teriakan Siyeon.
Berani sekali Mereka memperlakukan Siyeon seperti itu. Jaemin ingin membela Siyeon, tapi ia ada di posisi yang serba salah. Bagaimanapun juga, Mark dan Haechan adalah teman dekatnya.
"Jeno, Renjun, Jaemin, Haechan, Sanha kuy cabut!"
Jaemin yang mendengar ajakan Mark mengangguk saja dan ikut berdiri lalu mengambil tasnya. tapi matanya, tidak lepas dari Siyeon.
"Lo masih bisa senyum sekarang Mark.. liat aja nanti kalau geng alay lo itu mati satu persatu. Lo masih bisa gak nunjukin senyum lo itu!"
Jaemin kembali menatap mata Siyeon yang sudah basah oleh airmata. Ia tidak bisa menyalahkan ucapan Siyeon karna bagaimanapun juga, teman temannya juga sudah keterlaluan.
Wah, berani sekali teman temannya membuat perempuan yang disayanginya itu menangis.
Tunggu dulu, mati? Siyeon mau itu?
Yah... lagian Jaemin suka kalau pulang sekolah lebih awal.
17-10-2017
05.11
Sanha yang baru bangun, meraih handphonenya yang terletak disamping tempat tidurnya. Ya, rutinitas pagi mengecek handphone.
Ia membuka aplikasi Line dan melihat chat dari Jaemin yang baru saja masuk ke Handphonenya.
Jaemin: San
Jaemin: lo ingat tugas kelompok kimia kita yang dikumpulin hari ini?
Jaemin: gua barusan cek power pointnya masih ada yang salah. Gua mau baikin tapi laptop gua rusak.
Jaemin: lo bisa datang lebih pagi hari ini sambil bawa laptop?
Jaemin: kita baikin disekolah.
Jaemin: gua tunggu dikelas jam setengah tujuh.
Sanha tanpa basabasi segera membalas chat Jaemin dengan emoji "oke" dan bergegas mandi.
06.29
Sanha sampai disekolah dan berjalan menuju kelasnya. Suasananya sangat sepi. Bahkan Sanha bertaruh dirinya adalah orang pertama yang datang kesekolah, atau kedua karna Jaemin pasti sudah datang. Udah gausa nanya Sanha mandi berapa menit. Lagian, rumah Sanha kesekolah cuma lima menit.
Sanha melangkahkan kakinya memasuki kelas yang ternyata masih sangat sepi. Bahkan lampu pun belum menyala. Ia sedikit mendengus sebal ketika matanya tidak menangkap keberadaan Jaemin.
Baru saja ia mau membalik badan menyalakan lampu, sesuatu tampak menutupi tubuhnya.
Tunggu, ini kain putih.
Kain putih itu menutupi kepalanya hingga leher. Dan diikat oleh seseorang dilehernya.
Sanha berusaha melepaskan kain putih itu, hingga tiba tiba, kain itu menjadi basah, seperti ada seseorang yang menyiramnya.
Sanha panik, ia tidak bisa bernafas.
Samar samar, ia mendengar suara yang familiar di telinganya, suara Jaemin.
"Gimana San, rasanya?" Ucap Jaemin sambil tersenyum.
Sanha berteriak teriak melakukan perlawanan, namun rasanya sia sia. Ia berusaha melepas kain itu dari kepalanya, namun tidak berhasil.
Sanha sudah tidak bisa merasakan tubuhnya lagi, perlahan lahan ia kehilangan kesadarannya karna kehabisan nafas.
Terakhir, ia tidak bisa merasakan apa apa lagi, dan matanya menutup.
Untuk selamanya.
Nafas Jaemin memburu dan terduduk lemas setelah memastikan bahwa Sanha sudah tidak bernafas lagi. Perlahan ia melepaskan ikatan kain putih tadi dari leher Sanha dan tersenyum. Ia lalu menggantung Sanha dipintu kelas dan membuat seakan akan Sanha mati bunuh diri. Terakhir, ia menaruh ssbuah surat di saku Sanha, untuk memancing teman temannya.
07.16
Jaemin diam diam tersenyum memperhatikan wajah Haechan yang pucat. Terlebih begitu Haechan membaca surat yang ia taruh disaku Sanha.
Jaemin mengikuti Haechan dan teman temannya dari belakang yang langsung berlari begitu melihat surat di saku Sanha. Jaemin melihat Jeno menabrak seseorang dan menjatuhkan surat itu. Kak Eunseo, kakak kelasnya mengambil surat yang dijatuhkan oleh Jeno dan membacanya. Jaemin dapat melihat wajah Kak Eunseo yang berubah. Jaemin memaki Jeno dalam hati. Nampaknya, sekarang Jaemin harus membereskan beberapa hal.
Rabu, 18-10-2017
09.28
Rasanya, Jaemin tidak bisa memperhatikan pelajaran dengan benar. Matanya mengantuk, ditambah ia terus memikirkan Eunseo. Gara gara dia, June dan Lisa jadi ikut campur masalah ini.
Jaemin menatap jendela yang memperlihatkan keadaan koridor sekolah. Bibirnya tersenyum begitu melihat sosok Eunseo, berjalan melewati jendela kelas. Sepertinya ia akan menuju toilet.
Jaemin mengangkat tangannya, dan izin kepada Pak Chanyeol untuk ketoilet juga.
Setelah diizinkan oleh Pak Chanyeol, Jaemin segera bergegas keluar dan diam diam mengikuti Eunseo dari belakang.
Eunseo melangkahkan kakinya menuju toilet, membuat Jaemin menunggu diluar. Sepertinya, Eunseo belum menyadari kehadiran Jaemin. Eunseo mencuci tangannya lalu bergegas keluar toilet, namun ia ditahan oleh Jaemin.
"Hay kak." Sapa Jaemin.
"Loh Jaem? Kamu ngapain disini? Eum.. didepan toilet cewek?"
Jaemin cuma tersenyum menatap Eunseo. Tiba tiba ia mencengkram bahu Eunseo dan menyudutkannya ditembok.
Eunseo mengerang kesakitan dan berusaha melepaskan cengkraman Jaemin, tapi tenaganya, tentunya tidak sebanding.
"Tau gak kak, gua paling kesal sama orang kayak apa?" Tanya Jaemin dengan nada yang membuat Eunseo menggeleng ketakutan.
"Sama orang yang sukanya ikut campur urusan orang lain. Harusnya lo diem aja kak, duduk manis. Gausah sok sok jadi pahlawan pakai ikut campur urusan gue. Pake bawa teman teman bodoh lo lagi."
Eunseo tidak mengerti maksud perkataan Jaemin. Ia menangis dan memohon kepada Jaemin untuk melepaskan cengkramannya dari bahu Eunseo.
Jaemin tersenyum sesaat sebelum akhirnya menyeringai dan menatap tajam Eunseo. Ia tiba tiba melempar tubuh Eunseo ke lantai. Eunseo yang tidak siap, menjadi terbanting dan kepalanya menghantam lantai dengan sangat keras. Ia bisa merasakan darah mengalir membasahi lantai dan rambutnya. Perlahan lahan, kepalanya bertambah berat dan akhirnya ia tidak sanggup menahan rasa sakit dibelakang kepalanya dan menutup matanya.
"Rest well, Son Eunseo."
Jaemin membalik badannya begitu mendengar suara teriakan dari belakangnya.
Ia melihat Yerin, kating kelas 12 yang berteriak kencang sambil menutup wajahnya. Sepertinya Yerin melihat ia dan Eunseo tadi.
Jaemin segera berlari dari toilet dan menabrak tubuh Yerin yang nampaknya sedang menangis .
Jaemin memaki dirinya sendiri. Kini, ia harus kembali membereskan sesuatu.
Kalau ada yang tau, kasus sanha aku terinspirasi dari buku yang pernah aku baca. Tapi aku lupa judulnya gitu ehehe.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sycho?¿ || 95-00
Mystery / ThrillerMereka saling menyalahkan Padahal pembunuhnya sedang menonton mereka.. Sambil menyeringai senang..
