Malam itu.
Di salah satu rumah sakit di Seoul, ada cukup banyak Army yang berkerumun di halamannya. Hal itu terjadi pasca sebuah berita tersebar dari salah satu fans yang melihat Jimin ada di rumah sakit, dengan susah payah berjalan mengarah ke ruang UGD dan wajahnya basah dengan air mata. Fans itu mencari tahu apa yang terjadi dan menyebarkan beritanya di media sosial.
Aku melihat Jimin di rumah sakit. Ia terlihat kesusahan berjalan. Aku memperhatikan wajahnya yang seperti menahan sakit, kukira kaki kanannya masih tidak baik-baik saja. Dan Jimin juga menangis. Setelah ku cari tahu ternyata ayah Jimin ada di sini. Beliau mengalami musibah perampokan dalam perjalanan dari Busan menuju Seoul. Entah bagaimana kondisi-nya, yang aku tahu saat ini beliau ada di ruang UGD.
.......
Jimin masih berdiri cemas tepat di depan pintu ruang UGD, -sejak satu jam yang lalu. Linangan air matanya belum berhenti, tangannya bergetar hebat dan Jimin tak henti menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya yang bergetar itu ia tautkan di depan dadanya, sesekali ia memejamkan mata guna memanjatkan doa.
Jimin pun masih merasakan sakit yang amat sangat di kaki kanannya. Ia hanya berpijak dengan satu kaki, dan menumpu beban tubuhnya hanya pada kaki kirinya saja. Setelah terjatuh di kamar mandi dan dipaksakan untuk berlari, kaki kanannya berdenyut hebat. Namun Jimin tak memperdulikannya.
Saat ini Jimin hanya memikirkan kondisi sang ayah yang ada di balik pintu, di hadapannya ini."Jimin-a, kumohon duduklah." Ujar Jungho.
Sebenarnya Jimin tidak sendiri, di sana juga ada Sejin dan Jungho. Sedari tadi keduanya menatap Jimin khawatir. Mereka terus meminta Jimin untuk tenang, namun Jimin juga terus mengabaikan mereka.
Sejin memegang tangan Jimin dan sedikit menariknya paksa.
Tapi Jimin menepisnya kasar."Sudah kubilang aku tidak mau duduk sebelum tahu kondisi ahbeoji!" Bentak Jimin.
"Kau masih sakit Jimin! Kau terjatuh di kamar mandi. Ingat kalau kita juga harus memeriksakan kakimu? Demi Tuhan. Berhenti keras kepala!" Ujar Sejin tak kalah keras.
"Hei hei.. Cukup. Berhenti berteriak. Ini rumah sakit."
Jungho menengahi.Jungho melangkah mendekati Jimin.
"Jimin-a, kami tidak akan memintamu untuk memeriksakan kakimu, atau membawamu pergi kemana pun. Kami akan menemanimu di sini sampai kita tahu kondisi ayahmu. Tapi kumohon, kita harus lebih tenang. Kita menunggu sambil duduk ya. Aku khawatir kakimu tidak akan kuat jika terus menerus dipaksakan."Jungho memegang kedua bahu Jimin, lembut dan perlahan membawanya duduk. Jimin pun tidak melawan kali ini.
Kemudian Jungho bersimpuh di hadapan Jimin. Ia melihat tatapan kosong Jimin, terpaku pada lantai.
Tiba-tiba saja ponsel Jungho berdering, dan ia langsung mengangkatnya.
"Halo.""(Tuan Lee Jungho, saya dari pihak kepolisian.)"
Suara dari seberang telepon cukup jelas, hingga tertangkap oleh indra pendengaran Jimin.
Seketika ia mengalihkan atensinya pada Jungho.Jungho melirik pada Jimin yang tengah menatapnya.
Ini bukan waktu yang tepat, pikirnya.
"Sepertinya kita lanjutkan pembicaraan ini besok saja pak. Saya-"

KAMU SEDANG MEMBACA
I Never Walk Alone, Do I?
FanficBolehkah hati kecil Jimin berteriak bahwa ia kesepian? start : march 2018