30 Agustus 2018.
Yoongi menunggu Hoseok dan Namjoon di salah satu ruang tunggu khusus di bandara.
Kali ini waktu terasa bergulir lambat. Selama itu, ia tidak pernah berhenti memikirkan perkataan Seokjin tentang Jimin. Sesekali ia pun memainkan ponselnya guna mengalihkan kegelisahannya.
Tak lama, pintu di hadapannya terbuka, menampilkan sang adik yang sudah lama tidak ia lihat. Orang yang di maksud, tersenyum lebar ketika melihat Yoongi.
"Hyeoooooong.. Bogoosiibdaa~ Bogoosiibdaa~"
Ia bernyanyi sambil merentangkan tangannya, meminta pelukan Yoongi.Yoongi berjalan mendekatinya, namun ia hanya berdiri di samping sang adik dan menepuk pantatnya.
Oh ya, jangan lupakan ekspresi khas Yoongi yang datar dan seolah tak peduli itu."Apa-apaan hyeong ini." Ujarnya dengan wajah merajuk yang dibuat-buat. Bibirnya pun mengerucut lucu.
Sepertinya, Yoongi tak punya pilihan lain selain terkekeh.
Pemuda di hadapannya ini memang lebih muda darinya, namun dia juga bukan lagi anak kecil. Tapi Yoongi akui, dia memang jago ber-aegyo, bahkan melebihi anak kecil.
Army menyukai aegyo-nya, dan jujur saja Yoongi terkadang juga ikut jatuh dalam sikap lucu adiknya ini, walau tentu tidak secara terang-terangan.Terima kasih pada Jung Hoseok, yang sudah membantu Yoongi, sejenak melupakan masalahnya, dan sedikit mengurangi kegelisahan di hatinya.
"Oh ya, di mana Namjoon?"
Hoseok menjadi sedikit gugup. Membuat dahi Yoongi mengerut.
"S-sebenarnya, Namjoon sedang ada di Jepang."
"Apa? Sejak kapan?"
"D-dua hari yang lalu."
"Jadi waktu itu kau berbohong padaku?" Tanya Yoongi, menginterogasi.
"Saat hyeong meneleponku waktu itu, kami memang sudah tinggal bersama hyeong. Dan kebetulan Namjoon memang sedang tidak di apartemen. Tapi setelah ia kembali, ia tergesa meminta izin untuk ke Jepang. Pastinya ada urusan penting."
"Untuk apa dia ke Jepang, kalau bukan menemui Yuiko. Aku tidak melarangnya. Tapi mengapa ia harus berpacaran di saat seperti ini." Ujar Yoongi frustasi.
"Hyeong. Keluarga Yuiko yang meminta Namjoon ke sana. Aku juga tidak tau pasti alasannya, tapi yang jelas ini urusan mendadak.
Kita ambil sisi positifnya saja, mungkin mereka tengah mempersiapkan pernikahan? Itu hal baik kan, hyeong."Yoongi menstabilkan emosinya sejenak.
Kemudian kepalanya mengangguk-angguk.
"Baiklah. Aku mengerti."Hoseok tersenyum simpul.
Setelahnya ia menepuk bahu Yoongi.
"Kalau hyeong kapan?"Yoongi mengangkat sebelah alisnya. "Apanya?"
"Menikah."
Yoongi menatap Hoseok kesal, kemudian meninju lengannya.
Setelahnya Hoseok berhasil tertawa lepas.
.
.
.
.
.Yoongi pun baru tersadar akan sesuatu.
"Hoseok-a..."Hoseok memperhatikan raut wajah Yoongi yang berubah serius.
Ia berhenti tertawa.
Perlahan ekspresi wajahnya pun ikut berubah khawatir."Ada hal yang perlu kita bicarakan."
"S-sesuatu terjadi, hyeong?"
"Mm.. Ini tentang Jimin."
Hoseok merasa hatinya bagai terhunus pisau kala mendengar nama itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
I Never Walk Alone, Do I?
Fiksi PenggemarBolehkah hati kecil Jimin berteriak bahwa ia kesepian? start : march 2018