Chapter 11 : 'Aku hancur.'

2K 198 12
                                    

Di pagi yang sama.

Jimin mengernyit, ketika ia merasakan pening di kepalanya. Kedua netranya yang semula terpejam itu, perlahan terbuka.

Tatapan sayu dan sembab Jimin mengedar ke sekeliling, memastikan keberadaannya.
Jimin pun menghela nafas berat, saat tahu dirinya terbaring di ruang rawat, dengan tubuhnya yang berbalut pakaian pasien.

Seingat Jimin, sebelumnya ia hendak pergi ke kantor polisi, sebelum....

Seketika mata Jimin terbelalak.
"Eomma."
Ia pun tersadar sepenuhnya.

Jimin memaksa tubuhnya untuk bangun dengan cepat. Pandangannya sempat menggelap untuk sesaat. Pening di kepalanya pun bertambah. Namun, Jimin tidak mau mempedulikannya.
Pandangan Jimin bergerak gelisah, mencari keberadaan sang ibu. Namun nihil, Jimin tak menemukan siapapun selain dirinya di ruangan ini.

Tiba-tiba saja, cahaya layar ponsel dan suara dering yang terdengar asing di telinga Jimin, menarik perhatiannya.

Jimin pun mengulurkan tangan, meraih ponsel yang terletak di ujung ranjang.

Itu adalah ponsel sang ibu.
Ada sebuah panggilan masuk di sana.
Namun tepat saat Jimin hendak mengangkat panggilan, dering ponsel itu berhenti.

Jimin masih mengamati layar ponsel dalam genggaman, hingga tangannya mulai mengotak-atik benda tersebut.

Jimin menemukan sesuatu.

Ibunya mengirim sebuah pesan kepada seseorang.

'Gayoung-a, Aku hancur.'

Perlahan dadanya mulai merasa sesak.

Tubuhnya seperti kehilangan tenaga.

Dan air matanya, lagi-lagi memaksa untuk keluar.

I Never Walk Alone, Do I?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang