.
.
.
.
.
Yang Jungkook tak mengerti adalah kenapa abang Namjoon itu bersikeras dirawat inap padahal dokter sudah mengatakan secara jelas serta gamblang jika dia hanya perlu menghabiskan satu botol infus ─yang bahkan sudah habis separuh jalan- ya, Jungkook bahkan tak habis mengerti. Apa kepala bang Namjoon terbentur kurang keras setelah insiden tabrak TPA subuh tadi? Hm, oke. Jungkook coba memahim saja jika calon Abang iparnya ini memanglah orang yang cukup dikatakan kaya raya. Dia bahkan bisa menyewa kamar vvip semacam ini tanpa ada luka serius dan tanpa bantahan pula dari pihak rumah sakit.
.
Sukses mendapat serangan pening dadakan karena ulah Abang iparnya yang terlampau aneh, Jungkook hanya menghela nafas pasrah beberapa sekon sebelum telepon genggamnya berbunyi nyaring. Nada khas yang selalu menjadi perhatian Jungkook disetiap hari dia tersenyum menghadapi dunia, kembali berdenging. Taehyung, ada apa dengan anak itu? Apa dia mau memprotes Abangnya? Apa dia kangen pada Jungkook? Apa dia mau mengajak Jungkook kawin lari?
.
Menelan semua hipotesis tak berdasar itu dalam senyap, Jungkook coba melihat Abang Namjoon yang tampaknya bisa dia tinggal tanpa berpamitan lalu keluar tanpa adapun kasak kusuk curiga berdesis di sana. Dan sukses! Jungkook sekarang ada diluar ruang, dengan telepon genggam yang masih merengek manja padanya. Uh, Taehyung sayang. Kang mas Jungkook juga rindu padamu kok!
.
"Halo, Tae. Ada ap─"
.
"Jungkook sayang, ini bunda nak. Abang dirawat dikamar mana ya?! Bunda mau masukin adek juga kesana."
.
Nah, ambigu.
.
Kenapa Bunda? Kenapa adek? Kenapa?
.
"Bunda ngomong apa ini? Jungkook nggak paham loh." Menunggu Bunda menjawab, Jungkook bisa mendengar rengekan Taehyung. Tangis dan juga teriakan bunda yang panic sembari menjawab pertanyaan Jungkook yang memang benar kebingungannya.
.
Lantas, satu kalimat lengkap menjawab semua hal. Taehyung makan mie goreng yang sudah di beri pencahar oleh bunda. Tidak sengaja dan tidak bermaksud meracuni anak bontotnya yang mau melangsungkan pernikahan sebulan lagi itu. Itu hanya kesialan semata dan menjerumuskan Taehyung dalam mencret berkepanjangan yang harus segera diberi perawatan. Nah, berita baiknya sekarang kedua nya telah berada dilobi rumah sakit. Dengan heboh menelpon Jungkook agar segera mendapat ruang sekamar dengan sang Abang agar bunda tak repot karenanya.
.
.
.
.
.
Taehyung kira dirinya sekarat, dia kira perutnya sudah bolong karena terus-menerus berak, bahkan dia rasa lubang pantatnya sudah terlalu lelah untuk melebar, sial. Lubang nya bahkan belum bertegur sapa dengan pedang keramat milik Kang mas Jungkook masa harus jebol dulu sebelum bermadu kasih bersama dalam satu peraduan. Haduh, sekarang otak Taehyung jadi panas.
.
"BUNDAAAA!!! TAEHYUNG SEKARAAATTTT UUGGHHHH!!!"
.
Diatas brangkar Taehyung mengernyit kesakitan, butir-butir keringat sebejar biji jagung mulai berjajar indah. Air matanya pun ikut luruh bersamaan. Sungguh, Taehyung kira dia tak bisa terselamatkan sebelum suara Jungkook yang sarat akan kecemasan merasuk, hinggap dalam lempeng telinga, menari dalam otak dan syaraf mata yang berakhir Taehyung membuka lebar mata menatap sang kekasih hati yang terlanjur membawa semua sukmanya.
.
"Jung─kookhhh.." tenaga Taehyung sudah dia habiskan dalam perjalanan, selama beberap detik Jungkook ikut memegang telapak tangan Taehyung yang dingin bersamaan dengan bunda sebelum pemuda yang menjadi satu-satunya bunga tidurnya itu diam, jatuh pingsan. Taehyung harus segera diberi perawatan!
.
.
.
.
.
[a/n : hm, apa ya, ini apa ya, hm... terimakasih sudah mampir. Salam Go Green! TianLian]
KAMU SEDANG MEMBACA
ABANG
Hayran KurguHanya berisi Taehyung, Jungkook, dan Abang. [KookV Fanfiction]
