Cerita ini akan cukup panjang, jadi harap kesabarannya dalam membaca cerita ini. Jangan sampai terputus ya.
Happy Reading.
Keesokan harinya, Persidangan pun di mulai. Rafaela juga sudah melakukan tes kejiwaan Harley sebelum persidangan dan hasilnya akan di bacakan oleh dirinya sendiri sebagai pembelaan.
Hakim, Jaksa Penuntut Umum, Terdakwa, Kuasa Hukum, Orang tua Korban dan Terdakwa, dan para Penonton persidangan itu sudah berada di tempatnya masing masing.
"Baiklah, dengan ini persidangan di mulai."
Tok. Tok. Tok.
"Baiklah tuan Hayabusa sebagai Jaksa Penuntut Umum silahkan berikan keterangannya."
"Terima kasih yang mulai. Saya mulai saja keterangan ini. Sang terdakwa melanggar UUDMLBB Pasal 5 Ayat 3 tentang pembunuhan dan Pasal 5 Ayat 4 tentang pembunuhan berantai dan Pasal 5 Ayat 5 tentang pembunuhan berencana dengan hukuman penjara seumur hidup."
"Baiklah, apakah ada pembelaan dari pihak kuasa hukum terdakwa?"
"Baiklah yang mulia, saya Rafaela sebagai kuasa hukum dari terdakwa memiliki beberapa pertanyaan."
Rafaela pun bediri dan berjalan mendekati Hayabusa.
"Apakah tuan sudah mengetahui kondisi orang tua korban dan terdakwa?"
"Menurutku itu tidak terlalu penting."
"Kau salah besar tuan. Sebuah pepatah mengatakan, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sifat anaknya bisa saja karena dari sikap orang tua mereka. Apakah orang tua Cyclops tidak memberikan pengajaran yang baik kepada anaknya?"
"Tapi bagaimana dengan terdakwa? Apakah dia tidak di beri pengajaran yang baik?"
"Oh tuan Hayabusa, saya sendiri adalah neneknya. Saya tahu bagaimana mengajarkan cucuku ini. Orang tuanya juga mendidik anaknya dengan baik hingga ia menjadi anak yang sangat beprestasi di sekolah. Ia selalu mendapatkan bintang kelas setiap semester. Namun, ternyata saya mengetahui bahwa dia sering di bully oleh teman-teman sebayanya."
"Lalu, jika kau mengetahuinya? Mengapa kau tidak melaporkannya?"
"Tuan, saya mengetahuinya pada saat ia di tangkap. Seorang anak yang terkena pembullyan 85% akan bungkam pada saat ia di tanya oleh orang tuanya tentang keadaanya di sekolah. Karena mereka takut di ejek sebagai anak manja dan akan di ancam akan di bully lebih besar lagi."
"Tapi, mengapa ia sampai membunuh orang yang membullynya?"
"Terkadang, orang yang tertindas tidak bisa melawan orang yang menindasnya dengan mudah. Namun, pada saat ia sudah dapat membalasnya orang yang menindasnya. Ia akan membalasnya lebih besar lagi yang ia anggap setimpal dengan apa yang ia derita selama ini."
"Tetap saja itu adalah pelanggaran. Apapun motifnya, dia tetaplah seorang tersangka. Dia juga salah mengapa ia main hakim sendiri. Padahal negara ini adalah negara yang menjunjung tinggi hukum."
"Coba bayangkan anda sedang di begal oleh seseorang, apa yang anda lakukan? Melawannya dan membunuhnya? Tapi anda akan mendapatkan hukuman karena main hakim sendiri? Pasrah dan membiarkannya? Anda yang akan babak belur atau mati. Jika seperti itu, maka tersangka yang di lindungi dan korban yang di salahkan. Pada kondisi ini, Harley adalah korbannya. Bukan tersangkanya karena ia yang di tindas."
"Tapi mengapa ia membunuhnya? Ia mengubah statusnya dari korban menjadi tersangka."
"Jika anda merasakan apa yang ia rasakan, kau juga akan melakukan hal yang sama. Lihatlah terdakwa yang merupakan cucuku yang malang ini. Ia tidak merasa ketakutan dengan sebuah hukuman karena ia memang merasa dirinya tidak bersalah. Dan aku yakin, jika ia berhasil bebas dari penjara. Dia akan menjadi seorang psikopat yang amat berbahaya dan tidak memiliki rasa kemanusiaan sekalipun."

KAMU SEDANG MEMBACA
Unspecifed Destiny
FanfictionPeringatan: semua cerita ini hanyalah fiksi belaka dan memang sedikit di luar nalar manusia. Harap maklum. Cerita rumusan dari anggota Febri Lovers terutama Eba Muhammad dan Reyhan Hanafi. Thanks atas rumusan cerita ini. Harley, anak dari pasangan L...