Pagi ini Aisy harus pindah ke pondok pesantren, barang-barangnya sudah di bawa lebih tepatnya sih semua baju panjang dan rangkaian baju muslimah yang di masukan Bunda Aisy ke koper anaknya itu. Aisy sungguh tak minat mengemas barang-barangnya seterah bundanya mau membawa barang apa pun. Sepanjang perjalanan hanya tatapan kosong ke arah jendela yang di lakukan Aisy.
Sesampai pondok pesantren, Aisy menatap sekeliling luas sekali Tapi ada hal yang membuatnya heran ketika melewati gerbang pesantren. Kebanyakan disini cewek semua, enggak ada cowoknya. Tapi baru setelah beberapa gedung yang Aisy lewati dia melihat cowok dengan pakaian seperti bapak-bapak. Menurut Aisy definisi bapak-bapak bukan yang pake baju batik atau sejenisnya. Tapi sarung dan baju koko yang terlihat seperti bapak-bapak bagi Aisy.
Mereka bertemu dengan Kyai Ahmad dan Ummah aisyah (istri kyai ahmad) di halaman pondok pesantren, lebih tepatnya di halaman sebuah rumah yang terletak tak jauh dari gerbang yang tadi Aisy lewati. Yang Aisy ketahui kedua orangtua yang nampaknya sudah berumur namun terlihat awet muda itu dari Bunda.
"Assalamualaikum Pak Kyai..."
"Wa'alaikumsalam."
"Apa kabar ummah?" tanya Bunda sambil menyalami ummah aisyah.
"Alhamdulillah baik, tumben kalian berkunjung," ucap umi aisyah.
"Nggih Kyai, ini Aisy anak saya mau mondok disini," jawab ayah dengan sopannya.
"Gak mau!" tolak Aisy.
Enak saja, Aisy enggak mau masuk penjara Suci ini!
"Harus mau!" perintah Ayah.
"Gak mau!" tolak Aisy.
Dengan cepat Aisy berlari dari sana, berlari sejauh mungkin agar mereka tak dapat mengejarnya. Sendari tadi Aisy memikirkan strategi yang tepat untuk kabur, dan akhirnya rencana itu terlaksana sekarang.
****
Azmi dan Hafidz ditugaskan untuk membersihkan halaman belakang pondok yang memisahkan pondok akhwat dan ikhwan. Dan juga ada syaban yang membantu mereka menyapu halaman ini.
"Kak aban, antum kok ikut-ikutan bantuin kita? Kan antum bukan hari ini jadwalnya," tanya Azmi yang sedang menyapu dengan sapu lidi.
"Iya kan ana setia kawan sama kalian, susah sama-sama!" jawab Syaban disertai cengirannya.
"Pasti antum ada maunya kan," tebak Hafidz, Syaban hanya cengengesan.
"Mas Hafidz tau aja kalau ana bantuin kalian, supaya kalian bantuin ana saat piket," ujar Syaban di sertai senyumnya.
"Sudah ana duga!" ucap Azmi sambil geleng-geleng.
Tiba-tiba
Bruak..
Azmi ditabrak dari belakang hingga ia terjatuh dan yang menabraknya juga terjatuh. Posisi Azmi dan yang menabraknya itu agak jauhan saat jatuh, untung saja Azmi tak tertimpa oleh orang tersebut.
"Astagfirullah..." ucap Azmi.
Mata Hafidz dan juga Syaban segera mengarahkan pandangan kearah lain. Karena yang menabrak Azmi adalah seorang ukhty dengan celana jeans panjang dan juga kaos putih pendek bergambar panda dan pastinya tidak memakai kerudung.

KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Dalam Istikharah
Teen FictionIni tentang kisah Aisy Jazeera al mubarakah, yang harus rela menerima kenyataan bahwa dia harus pindah ke penjara suci itu, akibat Fitnah dari Kakak kelasnya sendiri. Pesantren? Menurut nya itu sama sekali tidak sesuai dengan zaman yang serba moder...