"Dua kenikmatan yang sering dilalaikan oleh sebagian besar manusia, yaitu nikmat sehat dan waktu luang"
(HR. Bukhari dan Ibnu Majah)
****
Teresha memperhatikan pantulan dirinya didalam cermin. Ia melihat penampilan dirinya dengan busana yang berbeda. Baju minim yang kerap kali dipakainya kini terganti dengan pakaian yang cukup tertutup. Setelan jeans panjang dan kaos putih polos berlengan panjang pula dipilihnya. Serta sneakers putih yang juga ikut menyempurnakan tampilannya.
Siang tadi, Alif mengajaknya untuk pergi ke suatu tempat yang Teresha sendiri tak tau tempat apa. Sebenarnya bukan hanya dirinya dan Alif, Pasti Alif takan mau. Ada Fikri dan Syila yang juga ikut menemani. Teresha tak tau siapa Syila, mungkinkah ia teman dekat Alif.
Rumahnya sedang tak ada siapa siapa. Teresha hanya menitip pesan lewat surat yang ia taruh diatas meja dapur kepada Mbok Atun bahwa dirinya akan pergi.
Setelah itu, ia segera pamit dan melajukan mobilnya ke tempat dimana ia dan teman teman Alif akan berkumpul.
****
"Udah pada kumpul?" Teresha turun dari mobilnya. Menatap ketiga orang yang sepertinya menunggunya.
"Assalamualaikum" Ucap ketiganya serempak.
Teresha nyengir menggaruk tekuknya yang tidak gatal "Iya iya maaf. Waalaikumsalam. Sebenernya kita mau kemana sih?"
Teresha memandang gadis yang mengenakan gamis berwarna abu abu dan kerudung panjang berwarna senada tersenyum padanya. Gadis itu sangat cantik. Dia mendekat kearah Teresha.
"Ana Asyila" Syila mengulurkan tangannya dan berjabat.
"Teresha, panggil aja Acha" ucap Teresha sedikit canggung.
"Ente sih udah kenal Ane, kan? Siapa yang gak kenal sih sama Ane" Ujar Fikri dengan percaya dirinya.
Teresha menyerit "Gue gak kenal sama lo"
Alif menahan tawanya melihat Fikri kini tengah memasang wajah sedihnya. "Ck.. ente kenapa gak kenalin saya sama Dia Lif?"
Alif hanya menggeleng. Teresha mendengus kecil "karna gak penting" Dan kini wajah Fikri seperti seorang teraniaya.
"Alif udah cerita, katanya dia ngajak kamu. Yaudah, mendingan kita berangkat sekarang" Ujar Asyila.
Teresha hanya menggguk kikuk. Pasalnya, ia baru mengenal teman teman Alif. Dan Syila, Gadis berkerudung nan cantik ini ternyata sudah akrab dengan Alif. Apa mereka sangat dekat?.
Mereka membawa Teresha ke suatu tempat tak jauh dari sana. Teresha pun tak tau kemana Alif dan teman temannya mengajaknya. Tak lama, Mata Teresha menyipit melihat sebuah bangunan disebrang jalan yang terlihat ramai dari luar.
"Rumah pelangi". Kata itu yang pertama kali Teresha baca dari sebuah papan kayu yang terkait di dinding depan bagian rumah.
"Ini Rumah apaan?" Tanya Teresha.
Syila tersenyum "nanti kamu juga tau"
"Assalamualaikum.."

KAMU SEDANG MEMBACA
Mata Syurga
Spiritual~Masa lalu tak pernah menuntut akan bagaimana sikapmu hari ini dan Masa depan tak akan menjamin kau yang sama di masa lalu~ Bagaimana mungkin Teresha yang jauh dari aturan agama mencoba taat kembali? (Slow update)