Chapter 17

63 3 0
                                    

  "Jika kecewa menjadi batas Sebuah Percaya, Biarkan Maaf menjadi pengobat lukanya. Walau bekasnya tetap ada, setidaknya biarkan sakitnya akan mereda"

_saliha

***

"Cha! Istighfar. Kamu kenapa?"

Pukulan dibahu Teresha membuyarkan lamunannya. Matanya mengerjap beberapa kali untuk kembali mengumpulkan kesadaran. Syila, gadis cantik disebelahnya sedari tadi terus memperhatikan Teresha yang hari ini terlihat berbeda. Hanya duduk melamun,  terlihat muram. Bukan seperti Teresha.

Teresha memaksakan senyumnya lalu menggeleng. Bohong jika ia mengatakan baik baik saja. Tapi Teresha masih terlalu canggung untuk bercerita pada Syila perihal masalah dirinya dengan Lisa.

"Beneran Cha. Kamu bisa cerita kalo ada masalah atau butuh bantuan" Syila tersenyum menenangkan.

"Iya Syil. Terimakasih tawarannya" Teresha tersenyum.

Jam istirahat kali ini terasa membosankan untuk Teresha. Tak ada gairah untuk melakukan aktifitas apapun. Hanya duduk ditaman dekat perpustakaan membawa buku bacaan tebal walau tak dibaca sama sekali dan handphone yang berkali kali Teresha cek. Berharap ada notifikasi pesan dari Lisa untuknya. Walau kenyataanya tak ada.

"Ca. Kamu beneran gapapa. Muka kamu kelihatan pucat ca. Apa kamu sakit?"

Teresha menggeleng "Gapapa ko syil. Aku cuma  banyak fikiran aja"

"Oo. Daritadi kamu belum makan Cha. Mau aku belikan makan? nanti takut kamu sakit, soalnya muka kamu sudah pucat kaya gitu"

Teresha memang lapar. Jadi dia mengangguk saja
"Nggk ngerepotin Syil?"

Syila tersenyum "Anggap aja kita sudah kenal lama. Jangan canggung canggungan"

"Boleh Syil. Terserah makanan apa saja ya" Syila mengangguk dan segera pergi darisana.

Perasaan bersalah terus menghantui Teresha. Ia takut Lisa tak mau mendengarkan penjelasannya nanti, ia masih takut Lisa akan salah faham padanya.

Mata Teresha terus melirik pada lorong lorong kelas dan jalanan tempat banyak orang yang berlalu lalang, seolah mencari seseorang. Seharian ini Teresha belum melihatnya. Kemana Alif? Apa tidak masuk sekolah? Astaghfirullah... Acha menghembuskan nafasnya gusar, kenapa jadi memikirkan Alif..

Teresha menyenderkan punggungnya pada senderan kursi kayu dibelakangnya. Wajahnya tertadah keatas langit, memejamkan mata sembari menikmati udara segar saat ini. Tak lupa, ia terus merapal doa agar Allah dapat memberinya petunjuk atas segala masalah yang ia hadapi. Teresha percaya, Allah akan membantunya dan mempermudah segalanya.

"Assalamualaikum"

Teresha membuka mata dan melirik pada suara disampingnya "Waalaikumsalam"

Ternyata itu adalah Alif dan Fikri. Teresha membenarkan posisi duduknya lalu tersenyum pada keduanya.

"Sendiri aja ca? Bidadari saya mana??" Celotehan Fikri membuat apes dirinya sendiri. Sebuah jitakan berhasil mendarat mulus didahinya. Oleh siapa lagi jika bukan Alif.

"Maaf Ca, Fikri memang susah dijaga mulutnya" Ucap Alif tersenyum menyipitkan matanya. Sedangkan Fikri, dia tengah mengaduh mengusap kepalanya.

Teresha tersenyum geli "Oh.. Syila? Kebetulan dia lagi pergi ke kantin"

Keduanya hanya mengangguk dan duduk disebrang Teresha. Alif hanya diam, sesekali mengamati raut wajah Teresha yang terlihat murung dan seperti punya banyak fikiran. Ingin bertanya, tapi Alif mengurungkan niatnya, karna ia takut akan mencampuri urusan pribadinya.

Mata SyurgaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang