Suasana pagi hari di rumah Lingga tidak selalu seperti ini. Sarapan, berbincang, dan berkumpul bersama.
Profesi Ayah dan Ibunya yang tidak jarang mengharuskan keduanya pulang dini hari membuat mereka biasanya menghabiskan sarapan secara individu. Terlebih Kakaknya, Zefanya, yang lebih sering bangun siang kecuali saat ada jadwal kuliah pagi.
Jadi, biasanya Lingga akan memilih sarapan di minimarket atau memilih drive thru di sebuah restoran cepat saji saat di perjalanan menuju sekolah sebagai teman sarapannya. Dan sebuah kejutan pagi ini saat Ibunya membangunkannya untuk segera bangun dan sarapan bersama, ia tidak akan menolak hal tersebut karena itu berarti ia bisa lebih berhemat. Hehe.
Namun sebenarnya nasib baik belum bertuju pada dirinya karena hari ini adalah akhir pekan dan Zefanya meminta ia menemaninya berbelanja make up di Senayan. Bukannya berhemat, sepertinya hari ini ia akan lebih banyak mengeluarkan uang karena pasti Zefanya berniat untuk memanfaatkannya.
"Kemarin Bu Laila telepon Mama," Sania, Ibunya yang tengah mengoleskan selai kacang di atas roti bakar Ayahnya mulai berbicara sambil melirik Lingga sekilas.
Lingga yang tengah mengunyah roti isinya hanya memutar bola mata malas. "Pasti ngomongin masalah itu," cetusnya.
"Why? That's a possitive thing, dan Mama bilang iya."
"What?"
Sania mengangguk antusias. Perempuan yang sudah cantik dengan baju berwarna cokelat dan roll rambut di bagian poninya itu terlihat tampak berseri pagi ini.
"Mama ngerti nggak kalau ini cuma semacam memanfaatkan aku?"
Ibunya melotot sambil mengibaskan tangannya. "Jangan soudzon!"
Sementara Lingga menghela napas pasrah. Ia tidak pernah meminta dilahirkan dengan kondisi keluarga yang seperti ini. Ibu dan Ayahnya sudah berkecimpung di dunia hiburan sejak mereka masih muda, lalu turun pada Zefanya yang sudah beberapa kali membintangi beberapa judul film dan wajahnya sudah sering wara-wiri di chanel YouTube-nya untuk memamerkan skill make up perempuan itu yang menurutnya biasa saja.
Mungkin disini hanya dirinya yang sama sekali tidak tertarik pada dunia palsu itu. Lingga lebih memilih menjalani hidupnya sebagai lelaki normal yang jauh dari sorotan kamera. Lingga sama sekali tidak berniat untuk terlibat pada dunia yang penuh gimmick, sensasi, dan hal lainnya yang semakin menguntungkan beberapa pihak. Namun kenapa ia masih terkena dampaknya?
Mungkin ini hanya mindset dirinya atau memang benar adanya. Dirinya hanya merasa bahwa keberadaanya disini tidak jarang hanya sebagai alat. Alat untuk menguntungkan satu pihak, objek pemanfaatan, atau sebutlah dengan kata lainnya.
Ia masih ingat saat dirinya duduk di bangku SMP. Saat itu sekolahnya tengah mengadakan acara keluar kota untuk touring sekaligus perpisahan yang diadakan di Bali, dan secara kebetulan keluarganya yang memang mempunyai acara khusus di salah satu stasiun televisi diam-diam dihubungi oleh pihak sekolah untuk membocorkan hal tersebut. Membuat keluarganya secara tiba-tiba dihubungi oleh pihak acara untuk mempersiapkan proses syuting selanjutnya di Bali, dengan tema perpisahan sekolahnya dan tentunya banyak menyorot dirinya.
Kalian pasti paham bukan? Itu sama sekali tidak menyenangkan. Being a celebrity family isn't that fun at all.
Saat waktunya bersenang-senang untuk menghargai momen terakhir bersama teman-temannya, ia malah harus bekerja.
"Mama cuma pengen kamu aktif sedikit aja di sekolah. It would be great,"
"Show semalem lancar, Ma?" Zefanya yang sedari tadi asyik memakan omelete-nya kini bersuara.

KAMU SEDANG MEMBACA
Lingga dan Senja
Teen FictionKepindahan Senja ke Jakarta berhasil menemukan dirinya dengan Lingga dalam satu tempat yang tidak pernah Senja bayangkan, terlebih ketika ia mendapati lelaki itu berada dalam sekolah yang sama dengannya, sekolah barunya, yang lagi-lagi tidak pernah...