2. Cheerleader

337 46 2
                                    

Lingga sedang berdiri sambil bersandar di depan pintu kelas 11 IPS 2, sangat jauh dengan posisi kelasnya—11 IPA 5—yang berderet bersama golongan kelas IPA lainnya. Kedua lengannya terlipat di depan dada, tatapannya mengarah pada koridor di depan kelas yang mulai ramai oleh para murid yang hilir mudik di depannya mengingat bel masuk akan berbunyi beberapa menit lagi.

Lelaki itu kembali menoleh ke dalam kelas dan menatap Alby yang tengah menghampiri Keira di bangkunya untuk meminjam buku tugas sejarah milik perempuan itu sebagai 'alat cepat dan tepat' penyelesaian PR mereka.

Meskipun mereka berada di jurusan kelas yang berbeda, tetapi dengan mempunyai guru pengajar yang sama tentu hal ini sangat menguntungkan sehingga salah satu dari mereka bisa meminjam buku tugas untuk kembali di salin tanpa perlu berpikir. Teknisnya, mereka mempunyai tugas dari sumber buku dan guru yang sama.

Alby baru saja berbalik dengan buku tulis di tangan kanannya, namun perhatian Lingga malah melihat Senja yang duduk di belakang Keira. Perempuan itu menatap dua lelaki yang sedang berjongkok di lorong antara dua baris sambil memengang ponsel di tangan dengan gestur terlihat tengah memotret bagian tubuh belakang—yang pasti kalian paham itu bagian mana—seorang siswi perempuan berkerudung yang tengah menyalin sebuah catatan.

"Gimana nggak seger, gila. Si Shela tuh udah kayak anime soleha. Bikin dosa tapi nanggung."

"Iya, badannya itu, loh. Demen banget gue."

Lingga kembali memutar kepala mengikuti dua orang yang beberapa saat lalu melewatinya untuk keluar kelas sambil mengomentari kelakuan dua teman kelasnya, tanpa ia perlu banyak berpikir, Lingga sudah mengerti maksud dua lelaki tadi itu apa.

Ketika kembali menatap ke dalam kelas, posisi Alby sudah semakin dekat dengannya. Namun lagi-lagi, kedua matanya tanpa kontrol malah memerhatikan Senja yang baru saja berdiri, menghampiri dua lelaki yang tengah cekikikan setelah mendapat hasil potretannya lalu berjalan cepat untuk sengaja menyenggol dua lelaki itu sampai keduanya terjungkal.

Gede juga tenaganya.

Langkah Senja sangat cepat, bahkan mampu melewati Alby yang kini tengah mengobrol bersama teman yang tidak Lingga kenali.

Senja melewatinya. Jelas ia bisa melihat aura kesal yang keluar dari perempuan yang saat ini berbelok menuju toilet. Lingga mengangkat bibir menatap semuanya. Merasa tontonan pagi ini sudah banyak menarik perhatiannya.

***

Perempuan tidak sepatutnya menjadi objek pelecehan!

Dan apa yang dilakukan oleh teman sekelasnya tadi benar-benar sudah melewati batas. Memotret bagian bokong seorang perempuan—terlebih perempuan berjilbab—adalah bentuk nyata dari kelakuan yang tidak bermoral.

Dan Senja tidak berpikir dua kali untuk memberi teguran kecil pada dua teman kelas yang belum sempat ia tahu namanya untuk menyadarkan pikiran mesum mereka. Senja tidak mengetahui bahwa setelah ia menyenggol salah satu dari keduanya, ponsel yang berada di tangan orang tersebut ikut terjatuh.

Alhasil, setelah kembali ke kelas, dua orang tadi langsung meluapkan kemarahan tersebut padanya, pada dirinya—yang katanya—telah merusak LCD ponselnya. Senja tidak takut, ia melawan, menantang dua lelaki itu untuk melakukan balasan sesuka hati mereka, dan berakhir dengan ponselnya yang bernasib sama dengan ponsel salah satu dari mereka

Dan kini entah sudah berapakali benda pipih itu berbunyi tanda ada panggilan masuk dengan kondisi layar yang hitam sepenuhnya.

Senja tengah duduk di pinggir lapangan dengan Zoya yang tengah asik memainkan dua pom-pom di tangannya. Iya, tolong jangan tertawakan dirinya yang nekat mencoba hal ini padahal ini adalah diluar jalurnya.

Lingga dan SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang