Ini kunyahan permen karet kedua.
Senja masih belum berbicara. Bahkan ketika kedua temannya sibuk merecoki dirinya atas kabar yang cukup mengejutkan dari Bu Laila kemarin saat latihan, Senja masih belum bersuara. Perempuan itu menatap seisi lapangan dari lantai dua sekolahnya. Netranya tidak berhenti melihat setiap gerak-gerik para murid yang berseliweran karena saat ini adalah jam istirahat.
"Tapi menurut gue, lo emang lebih baik megang mic daripada megang alat," ujar Keira yang berdiri di samping Senja sambil menyeruput nutrisari dalam cup esnya.
"Ini serius?" Zoya yang nampaknya paling tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini kembali bertanya. Untuk kesekian kalinya. "Gimana ceritanya, sih? Gue masih belum paham."
Padahal, Keira sudah menjelaskan hal ini berkali-kali, namun Zoya dengan polosnya masih bertanya. Ceritanya dimulai saat kemarin sebelum latihan angklung dimulai. Senja dibawa ke ruangan yang terletak bersebelahan dengan ruang kesenian. Disana, ia diminta untuk menyanyikan not lagu dari partitur yang sebelumnya diberikan oleh Bu Laila untuk ia hafal.
Disana bukan hanya menjadi ajang pembuktian diri, tidak disangka-sangka Bu Laila malah bertepuk tangan meriah saat senja menyelesaikan nada terakhir yang keluar dari bibirnya.
Ini masalah.
Tidak ragu-ragu, Bu Laila yang mengaku kesulitan untuk mendapat penyanyi dengan cengkok Sunda yang pas menurutnya langsung menunjuk Senja untuk menjadi penyanyi di tim mereka alih-alih memberi rekomendasi nomor angklung untuknya seperti yang sebelumnya perempuan itu janjikan untuk mempermudah Senja.
"Curang banget, coba Bu Dita turun lapangan langsung waktu Senja nyicip cheers, pasti dia nggak bisa berkutik." Zoya mengerucutkan bibirnya. Omong-omong, Bu Dita adalah pembina ekskul cheerleader, tapi tidak memiliki bakat disana jadi tidak bisa merangkap menjadi pelatih seperti Bu Laila.
Senja meletupkan gelembung permen karetnya sebelum menghela napas panjang dan menatap kedua temannya dengan tatapan nelangsa.
"Kudu banget ekskul ya?"
***
Sudah setengah jam Senja berdiri di depan gerbang sekolah ditemani oleh Keira untuk menjalankan tugas dari Bu Laila sebelum latihan dimulai.
Perlombaan sudah di depan mata, latihan akan menjadi kegiatan rutin yang tidak disukai Senja. Seperti kegiatannya saat ini.
Keira masih asyik menghabiskan es kepal milonya—yang sebelumnya ragu perempuan itu makan karena kalorinya yang sangat tinggi, sementara Senja masih sibuk memperhatikan orang-orang yang berseliweran keluar dari gerbang.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah empat sore, sekolah semakin sepi, namun Senja masih belum menemukan orang yang Bu Laila maksud.
"Tanyain cowok lo coba, doi lagi sama si Lingga-Lingga itu nggak?"
"Gue nggak pacaran," Keira yang merasa tersinggung karena panggilan Senja langsung saja mengerucutkan bibir sementara Senja nyengir dan mengangkat dua jari yang membentuk V.
Siapa, sih, yang tidak tersinggung jika seseorang mengatakan orang yang kita sukai sebagai milik kita padahal nyatanya bukan begitu?
Sambil menunggu Keira yang tengah menghubungi Alby untuk menanyakan keberadaan Lingga, Senja kembali memikirkan apa yang Bu Laila katakan tentang tujuannya mencari Lingga. Bahwa Bu Laila berniat untuk menjadikan Lingga sebagai partnernya untuk melatih vokal Senja yang sudah resmi menjadi vokalis dalam tim yang dikirim sekolahnya untuk Lomba Angklung tingkat Nasional.
Kemampuan Lingga dalam memainkan alat musik dianggap bisa menjadi partner Senja sehingga Bu Laila tidak kesulitan dalam hal ini.
Namun pikiran Senja jadi melayang pada ucapan Keira yang mengatakan bahwa Lingga sangat sulit untuk diajak bergabung dengan tim sekolah, tentu saja hal itu membuat Senja berdecak lidah menganggap lelaki itu besar kepala namun juga membuat ide lain terlintas di kepalanya.
Senja dipaksa menjadi vokalis. Lingga dipaksa ikut dalam tim. Bukankah itu kombinasi yang pas untuk memberontak?
Senja memukul kepalanya sambil menggeleng samar. Kenapa ia terdengar jadi seperti orang jahat?
Menyerah untuk menunggu lelaki itu di depan gerbang padahal jika melihat motornya masih berada di parkiran, Senja dan Keira memutuskan untuk pergi ke masjid untuk salat ashar karena jika langsung kembali bergabung bersama teman-teman yang sudah latihan sejak tadi juga percuma, saat ini sudah waktunya istirahat.
***
Niat Lingga bersembunyi di masjid untuk menghindari dua perempuan yang lebih mirip seperti jagal dibanding perempuan normal lainnya ternyata tidak berbuah manis.
Senja dan Keira berdiri menjulang tinggi dibanding posisinya yang saat ini berbaring mengarah pada langit-langit masjid sekolah. Lelaki itu mengerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan retinanya dengan cahaya yang masuk begitu ia membuka mata setelah tidur entah berapa lamanya.
"Lo ke ruangan duluan aja," ujar Senja pada Keira.
Keira mengangguk. Gadis itu melangkah mendekati lemari mukena dan meletakan alat salat milik sekolah lalu meninggalkan Senja dan Lingga di masjid.
Lima menit kemudian, Lingga dan Senja sudah berjalan beriringan di koridor sekolah dengan senyuman lebar seolah mendapat apa yang mereka inginkan.
"Lo yakin, ini nggak jadi masalah?"
Senja mengangguk. "Sembilan puluh sembilan." Katanya.
"Apanya?"
"Persentasenya."
"Satu persennya?"
"Ya..., gagal."
Lingga melongo tidak percaya. Tidak ingin ambil pusing, lelaki itu tetap berjalan menuju parkiran. Ia kira, perempuan ini menemuinya untuk memaksanya ikut bergabung dalam tim angklung, tetapi setelah apa yang Senja jelaskan, Lingga kini mengerti bahwa mereka mempunyai keinginan yang sama.
Lelaki itu berbelok ke arah parkiran dan langsung menemukan motornya disana, terparkir sendirian karena sebagian besar murid sudah pulang sementara siswa yang mengikuti eskul hari ini sudah memindahkan motornya kebagian dalam sekolah, melewati gerbang kedua yang hanya mobil guru dan tamu yang bisa melewatinya di jam belajar.
Menoleh ke belakang, lelaki itu tidak menemukan Senja disana. Lingga sempat terdiam untuk beberapa saat sebelum mencoba untuk tidak peduli. Yang ia perhatikan sejak tadi, perempuan itu memang lebih sering menatap ponselnya—dalam keadaan miring—dibanding menatapnya ketika berbicara.
Mungkin memang benar, Senja dan game memang tidak terpisahkan.
*****

Aku sebenernya udah hopeless sama cerita ini huhu
Minggu, 29 Juli 2018

KAMU SEDANG MEMBACA
Lingga dan Senja
Teen FictionKepindahan Senja ke Jakarta berhasil menemukan dirinya dengan Lingga dalam satu tempat yang tidak pernah Senja bayangkan, terlebih ketika ia mendapati lelaki itu berada dalam sekolah yang sama dengannya, sekolah barunya, yang lagi-lagi tidak pernah...