8. Lanjutan

528 74 0
                                        

****

Tiba-tiba Luthfi berdiri dari duduk manisnya dan langsung menarik tangan Kenzia. Luthfi menggandeng tangan Kenzia lalu mengajaknya keluar.

Seisi ruang tamu dibuat bingung dengan apa yang Luthfi lakukan barusan.

Mereka semua hanya bisa menatap Luthfi dan Kenzia yang sedang berjalan keluar dengan tatapan bingung dan perasaan bertanya-tanya.

Sesampainya mereka di teras depan, Luthfi langsung melepaskan genggamannya terhadap tangan Kenzia.
Tanpa berbasa-basi, Luthfi langsung memulai percakapan.

"mau lo gue harus gimana?"

Luthfi menatap tajam Kenzia, masih dengan ekspresi dinginnya. Ia terlihat sangat serius dan sangat mengerikan. Kenzia balik menatap Luthfi yang juga dengan tatapan tajamnya, namun ia hanya diam saja. Kenzia seolah kehilangan nyalinya untuk menghadapi Luthfi. Apalagi jarak antara keduanya cukup dekat, membuat Kenzia semakin gugup.

Diam-diam sepertinya Luthfi sudah tidak tahan lagi dengan sikap Kenzia yang seolah terus memojokkan dirinya.

"kenapa diem aja? Gak bisa jawab? Atau lo lagi sariawan? Ternyata lo gak seberani kelihatannya" tanpa menunggu jawaban Kenzia, Luthfi langsung berbalik badan dan berlalu menginggalkan Kenzia. Baru beberapa langkah Luthfi berjalan. Tiba-tiba......

"setidaknya gue masih punya perasaan dan rasa tanggung jawab. Kalo gue salah, pasti gue minta maaf. Gak kayak lo" butuh keberanian yang super bagi Kenzia untuk mengucapkan kata-katanya tadi.

Luthfi yang mendengar perkataan Kenzia tadi lalu memalingkan wajahnya menghadap Kenzia sambil melempar senyum sinis.
"lo tu kenapa sih Zi, seneng banget ngurusin hidup orang"

"aku gak ngurusin hidup orang, aku juga gak bermaksud buat ikut campur kak, tapi aku cuma kesel aja sama sikap Kak Luthfi yang kayak gitu"

"ada apa emang sama sifat gue?"

"terlalu dingin kak, cuek banget kamu tu. Jangan gitu lah, kasian Rahma"

"lo gak suka?"

"enggak"

"yaudah tinggal diem aja, repot"
"kalo emang sifat gue udah kayak gini, lo mau apa?"

"tuh kan. Udah dingin, galak lagi" keluh Zia pelan.

"sekarang gue tanya sama lo, lo urusin hidup gue apa untungnya?"

Kenzia terdiam sejenak mencerna pertanyaan Luthfi tadi. Pertanyaan yang sepertinya tidak butuh jawaban.

*Ya Allah kuatkan hamba, sabarkan hamba. Aku tadi kan udah bilang aku gak ngurusin hidupnya makhluk kutub ini, kenapa gak ngerti-ngerti juga sih*

" jawab Zi!"

"aku kan udah bilang, aku gak ngurusin hidupnya kakak, aku cuma gak suka aja sama sikap kakak yang kayak gitu. Aku tu gamau ya kalo......."

Belum juga Zia selasai bicara, Luthfi pun kembali ke posisi semula dan langsung pergi meninggalkan Kenzia menuju ruang tamu tanpa berkata sedikitpun.

*Tu orang bener-bener sakit jiwa kalik ya. Tadi minta gue suruh jawab, pas gue jawab malah di tinggal masuk. Yang Rahma sukai dari orang kayak gitu tu apanya sih. Heran gue.* Batin Kenzia kesal.

Sepertinya perseteruan antara Kenzia dan Luthfi semakin memanas. Kalau ini mah udah bukan ngeributin masalah mi ayam lagi ini. Tapi Kenzia sudah benar-benar benci melihat sifat Luthfi yang kelewat dingin itu.

Jadi, siapa yang salah. Luthfi dengan sifat yang kelewat dinginnya itu, tapi itu karena sifat Luthfi yang emang kayak gitu.
Atau Kenzia yang terlalu membesar-besarkan masalah, tapi semua ia lakukan demi sahabatnya.

Pengagum [ Iqbal & Luthfi ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang