Hari ini sudah genap 4 hari Witan dan Zia saling diem-dieman. Jangan mengira kalau Zia menyukai hal ini, ini sama sekali tidak nyaman buat Zia, hatinya tidak tenang kalu terus-terusan seperti ini. Diem-dieman itu gak enak. Witan, orang yang biasanya jailin Zia, orang yang kadang ngeselin, suka bikin Zia marah, tapi dia juga orang yang sering buat Zia ketawa. Dan sekarang Zia merasa sangat kehilangan sosok itu. Entah kenapa Zia jadi kangen sama Witan.
Witan juga sama, dia juga gak suka sama kondisi kayak gini. Zia, orang yang sering marahin Witan, sering ngomelin Witan, sekarang sifatnya sangat berbeda sekali setiap kali bertemu dengannya.
Dulu yang kalau ketemu pasti heboh sendiri, sekarang saling buang muka, selalu menghindar. Temen-temen Zia sebenarnya risih dengan pemandangan seperti itu. Mereka gak mungkin diem aja sementara salah seorang sahabat mereka lagi ada masalah. Hingga akhirnya Rahma menyusun rencana untuk menyelidiki masalah ini dan mencoba mendamaikan mereka berdua.
Hari ini Rahma, Tita, dan Nafisa masih tinggal di kelas. Mereka sengaja pulang terlambat karena akan mengadakan rapat kecil-kecilan untuk membahas penyelesaian masalah Witan dan Zia.
"Naf, lo besok atau kapanlah terserah lo, sempetin waktu buat kerumah Zia ya, lo tanyain ke Zia baik-baik. Siapa tau Zia mau cerita. Nanti biar gue deh yang tanyain ke Witan" jelas Rahma pada Nafisa.
"besok aja pulang sekolah gimana?" jawab Nafisa.
"oke boleh. Lebih cepat lebih baik. Yaudah kalo gitu gue juga besok deh nanyain ke Witannya"
"terus gue ngapain?" tanya Tita dengan polosnya.
"lo bantu doa aja okey?" jawab Rahma diiringi cengiran khasnya.
"yaudah, udah selesai kan. Yuk pulang" tambahnya lagi.
Nafisa "gini doang?"
Rahma "iya"
Tita "yang katanya rapat, cuma gini doang?"
Rahma "kan gue bilang, rapat kecil-kecilan"
*Oke terserah lo deh Ma....
****
Rahma menarik tangan Witan, membawanya masuk ke ruang kelas, entah kelasnya siapa Rahma juga kurang tau.
"eh Ma, lo mau ngapain bawa gue ke kelas kosong gini. Kelas siapa lagi ni" tanya Witan terkejut karena tiba-tiba saja ditarik paksa oleh Rahma.
"ya iya lah kosong, kan udah pada pulang"
"ini lo mau apain gue Ma. Ma istighfar Ma"
"ih lo kenapa sih Tan. Gausah lebay deh. Gue cuma mau ngomong sama lo, tapi lo jawab jujur ya. Serius ini"
"lo mau nembak gue? Maaf ya Ma, gue tolak, gue gabisa Ma. Selama ini Witan cuma nganggep Rahma temen doang, gak lebih. Lagian Rahma itu juga bukan tipenya Witan"
"idih, siapa juga yang mau nembak lo, amit-amit. Gue tu cuma mau nanya...."
"Witan mau gak jadi pacar Rahma? Iya kan? Witan tau Rahma pasti mau tanya itu, iya kan? Sekali lagi Witan minta maaf Ma. Witan gak....."
"serius Tan!!"
"iya Rahma, Witan serius. Witan gak bisa nerima Rahma. Eh tapi Ma, lo tu kalo mau nembak gue cari tempat yang romantis dikit dong. Di taman sekolah kek, atau gak ya di rooftop gitu, kan pemandangannya bagus tu kalo di sana"
"yaudah Tan gajadi" ucap Rahma kesal sambil berlalu keluar kelas.
"eh iya iya iya. Jangan pergi dulu dong. Tadi mau ngomong apaan" Witan mencoba membujuk Rahma biar gak jadi pergi.
"enggak ah, udah gak mood ngomong" Rahma terus berjalan menghiraukan Witan yang dari tadi menghalangi jalannya.
"yaelah Ma, gitu doang ngambek"
KAMU SEDANG MEMBACA
Pengagum [ Iqbal & Luthfi ]
FanfictionDunianya hancur, serba rumit dan penuh masalah, tak terkecuali masalah asmaranya. Ia menaruh perasaan yang amat dalam kepada seorang lelaki baik, dingin nan misterius, namun keadaan berkata lain. Hingga suatu hari datanglah sang penyembuh luka. Akan...
![Pengagum [ Iqbal & Luthfi ]](https://img.wattpad.com/cover/149185525-64-k745833.jpg)