"aduh kak, kok bisa sampe kayak gini sih. Pasti sakit ya." kata Tita khawatir sambil mengobati luka Rafli, mereka duduk di kursi depan kelas Tita. Di sana juga ada Rian, Firza, Witan, Rifad, Reno, Samuel juga Luthfi. Kenzia dan Rahma juga ada.
Luka Rafli memang tidak terlalu parah, hanya saja pipi Rafli memang terlihat memar. Karena ia harus menerima beberapa tonjokan dari Revan.
"aduh Ta, sakit Ta. Pelan-pelan dong" rengek Rafli saat Tita berusaha mengompres luka Rafli dengan air hangat.
"belom kena kak, ada-ada ae" Jawab Tita diikuti tawa kecil khas Tita.
"oh belom to? Kirain. Hehe"
Dalam keadaan kayak gini aja Rafli masih bisa bercanda.
_
"kakak kenapa? Gapapa kan? Ada luka?" tanya Rahma bertubi-tubi pada Rian.
"enggak kok, gak ada yang luka"
"alhamdulillah. Eh kak, tadi tu kenapa sih"
"Gak tau, aku baru sampe kelas tiba-tiba si Firza teriak-teriak katanya Witan berantem, yaudah buru-buru kita kesini" jelas Rian.
"emang masalahnya apa?"
"emt... Nanti aja deh kakak ceritain pas di rumah, sekarang kamu samperin tuh si Luthfi, kasian tuh dia ngobatin lukanya sendiri. Kalo kakak mah gapapa, kan tadi datengnya belakangan" suruh Rian pada Rahma saat melihat Luthfi yang sedang mengobati lukanya.
"emm... Baiklah"
Rahma pun mengikuti saran Rian, ia lalu berjalan mendekati Luthfi.
"kak.. Mau Rahma bantu?" tanya Rahma sembari duduk di sebelah Luthfi.
"eh gausah, cuma luka ringan kok" jawab Luthfi ramah.
Ya, sama seperti Rafli, Luthfi pun juga hanya mengalami luka ringan. Namun bedanya kalau Rafli memar di bagian pipi, sedangkan Luthfi luka cakaran di pipi dan di tangannya.
Rahma memperhatikan pipi dan tangan Luthfi yang terluka. Rahma mengernyitkan matanya menatap tajam luka Luthfi, ada perasaan heran pada diri Rahma.
*e buset, itu bekas cakaran? Lhah? Kak Luthfi abis berantem sama apa sih. Ganas bener* batin Rahma terheran-heran.
"kak, itu bekas cakaran?" tanya Rahma.
"iya" jawab Luthfi tanpa menoleh ke arah Rahma karena masih sibuk dengan lukanya.
"orang?" pertanyaan Rahma memang terdengar aneh.
Sontak Luthfi langsung menghentikan kegiatannya dan langsung menoleh ke arah Rahma. Luthfi tertawa kecil mendengar pertanyaan Rahma yang terdengar lucu itu.
"ya orang lah. Emang mau apa? Singa? Mana ada singa di sekolah. Haha.. Kamu itu ada-ada aja"
"hehe, ya abisnya sampek kayak gitu. Berapa taun gak di potong tu kuku. Haha.."
"gak punya gunting kuku Ma"
"sini-sini Rahma pinjemin. Hehe..."
Dan percakapan antara mereka pun terus berlanjut, bahkan sesekali terdengar tawa kecil keduanya di sela-sela dialog mereka. Rian yang melihat kejadian itu merasa senang, karena bisa melihat senyum dan tawa merekah di wajah adiknya, senyum yang terlihat sangat bahagia dan tulus sekali yang selama ini sudah jarang sekali Rian lihat.
Teman-teman yang lain pun juga merasakan hal yang sama. Mereka juga nampak senang melihat kebahagiaan Rahma.
"akhirnya ya kak" ucap Tita dengan senyum manisnya.
"iya ya. Akhirnya sikap Luthfi bisa berubah juga" Rafli pun menjawab, dia pun juga tak kalah senangnya.
"seneng deh liat Rahma kayak gitu"
KAMU SEDANG MEMBACA
Pengagum [ Iqbal & Luthfi ]
Fiksi PenggemarDunianya hancur, serba rumit dan penuh masalah, tak terkecuali masalah asmaranya. Ia menaruh perasaan yang amat dalam kepada seorang lelaki baik, dingin nan misterius, namun keadaan berkata lain. Hingga suatu hari datanglah sang penyembuh luka. Akan...
![Pengagum [ Iqbal & Luthfi ]](https://img.wattpad.com/cover/149185525-64-k745833.jpg)