17. Problem Again

179 22 3
                                        

Kini sudah jam pulang sekolah, Rahma berjalan di parkiran menuju tempat dimana motor Rian terparkir. Rahma melihat sekeliling parkiran, namun tak menemui Rian disana, ah mungkin Rian belum keluar pikirnya. Mata Rahma masih saja berkeliling, bukannya Rian yang dia temui, Rahma malah mendapati sosok Luthfi berboncengan dengan seseorang, yang pasti bukan Firza.
Luthfi mengendarai motornya melewati Rahma begitu saja tanpa memperhatikan keberadaan Rahma disana.
Pura-pura gak tau apa emang bener-bener gak tau?

"kak Alea?" lirih Rahma. Rahma terus saja memperhatikan mereka.
Tanpa Rahma sadari air perlahan keluar dan menetes dari mata indah Rahma, Rahma berusaha mengontrol emosinya, namun ia tidak bisa. Air mata terus saja mengalir. Sampai akhirnya Rian datang menghampirinya.

"Ma, lo nangis?" tanya Rian sembari menepuk kecil pundak Rahma.

*sejak kapan kak Rian disini*

"enggak kak ini Rahma......"

*lo mau alesan apa Ma, kelilipan? Ini lebih sakit dari sekedar kelilipan Ma* batin Rahma.

"kenapa?"

"tadi Rahma kepleset di tangga, terus tergelincir jatuh deh. Ini kaki Rahma sakit banget, keseleo deh kayaknya"

*maaf kak Rahma bohong*

"oh keseleo, yaudah nanti di rumah kakak obatin. Kalo cuma keseleo mah kakak sering. Yaudah ayo buruan naik"

"yaelah masih nangis aja, udahlah. Masak cuma kayak gini aja nangis, cengeng banget dah"

Rahma hanya tersenyum menanggapi perkataan Rian.

*iya iya kak, Rahma cengeng. Cuma gini doang Rahma nangis*

Setelah Rahma naik, Rian pun mulai melajukan motornya menuju rumah.
Di perjalanan Rahma terus saja memikirkan kejadian tadi di sekolah. Dari mulai kejadian tadi di kantin sampai kejadian tadi di parkiran. Entah kenapa Rahma merasa kalau semua ini terkesan mendadak. Kenapa Luthfi tiba-tiba seperti itu? ada apa?

"kak, tadi kak Firza gak berangkat ya?"

"iya, masih sakit dia kayaknya"

"lama amat, sakit apa emang?"

"kelaparan paling, gak tau juga"

"dih jahat, temennya dibilang kelaparan. Nah terus tadi kak Luthfi pulang sama siapa"

"mana gue tau"

"heuh" Rahma mendengus kesal.

****
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30, namun Rahma masih saja berkutat dengan angka-angka dan rumus yang sangat menguras pikirannya.

"huuh... Fokus dong Rahma fokus. PR lo gak selesai-selesai kalo gini caranya, ini udah malem Ma, besok lo ngantuk lagi di sekolah. Lupain Luthfi dulu, inget, pendidikan lebih penting" omel Rahma kesal pada dirinya sendiri. Rahma dari tadi berusaha untuk fokus ke PR nya, tapi kenapa susah. Matanya memang tertuju pada buku-buku di depannya, tapi tidak dengan pikirannya. Hal yang sangat Rahma benci ketika keinginannya tidak sinkron dengan fikirannya.

Karena sudah larut malam, Rahma memutuskan untuk tidur. Ia terlalu lelah untuk hari ini. Ia butuh istirahat, untuk fisiknya dan fikirannnya.

****
Rahma sudah siap lengkap dengan seragamnya, tinggal berangkat saja sekarang. Tapi Rahma sepertinya kehilangan semangatnya untuk ke sekolah.

"ayo Rahma, kamu harus semangat. Gak boleh kayak gini"
Rahma berusaha memotivasi dirinya sendiri.

"dek udah siap?" tanya Rian menghampiri Rahma yang sudah menunggunya di teras depan.

Pengagum [ Iqbal & Luthfi ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang