Maris
Pagi-pagi sekali aku bangun, semalam tidak bisa tidur, kepikiran tentang apa yang diobrolin Arbi dan Farid kemarin siang.
Aku mengusap pelan mataku mencoba mengumpulkan kesadaran, ku buka handphone yang sejak kemarin terabaikan.
20 panggilan tak terjawab, dari Arbi semua.
From : suami
‘Besok pagi aku jemput ya, nice dream sayang ❤’
Mau sampai kapan kamu bersandiwara kaya gini Bi? Gak capek bohongin aku terus hah?!
"Maris kamu udah bangun? Gak biasanya kamu bangun masih males-malesan gini." Mama menghampiriku dan duduk di tepi ranjang.
"Kemarin mama telfon Arbi, bilang kalo kamu di sini. Kasihan dia nyariin kamu!" Aku tersenyum getir mendengar penjelasan mama. Ah, andai mama tau yang sebenarnya terjadi!
"Kenapa mama pake bilang ke dia sih kalo Maris disini."
"Kamu itu gimana sih, dikhawatirin suami bukannya kasih kabar malah HP dimatiin."
"Kamu lagi ada masalah sama Arbi?"
"Enggak kok ma, cuma males aja di rumah bosen. Pengen nginep sini beberapa hari gitu,"
"Enak aja, terus suami kamu mau ditelantarin gitu?"
"Ya ampun ma, ntar kalo dia butuh juga nyamperin kesini!"
"Dasar anak aneh!"
"Ma, dari kemarin aku pengen soto babat mama buatin dong kan mama jago masak."
"Kok tumben, apa jangan-jangan kamu ngidam ya?" Jawab mama asal.
"Mama jangan ngaco deh, cuman pengen aja ma."
"Ya ampun Ris, siapa tau aja lho. Coba deh dicek kali aja beneran udah isi, kan nikah juga udah satu bulanan bahkan lebih. Gak ada yang gak mungkin kan!"
Apa jangan-jangan bener kata mama, jangan sampai aku hamil dalam keadaan kaya gini! Bisa repot kalo aku hamil pas Arbi udah memulai niatnya untuk ninggalin aku dengan tiba-tiba.
"Kok ngalamun Ris?"
"Eh..Enggak kok ma. Ya udah mama mending keluar dulu ya, Maris mau mandi oke mama!" Ujarku.
"Ya udah mama lanjut masak, cepetan mandinya terus bantuin di dapur!"
"Siap bos!" Setelah mama keluar dari kamar, aku segera mengambil tespack yang sengaja aku beli sejak malam pertamaku dengan Arbi.
Sembari harap-harap cemas, aku mengerlingkan sebelah mata setelah tau kalo hasilnya negatif.
Agak kecewa sebenarnya, tapi mungkin ini akan lebih baik. Daripada aku harus hamil dalam situasi yang masih semrawut, belum lagi kalo Arbi benar-benar pergi.
***
Arbi
Setelah pulang dari kantor, aku langsung bergegas menuju rumah mama mertua untuk menjemput Maris.
Sudah hampir dua malam ini dia menginap di rumah mama, aku merasa ada yang tidak beres dengannya, apalagi berulangkali aku mengirim pesan tidak ada jawaban, telfonku juga tidak diangkat.
"Arbi akhirnya kamu datang." Sambut mama saat aku tiba di rumah.
"Iya ma, tadi dari kantor aku langsung kesini." Jawabku.
"Ya sudah ayo masuk, kamu bersih-bersih dulu terus makan." Aku mengangguk.
"Maris mana ma?"
"Kayaknya dia udah tidur. Tadi setelah makan malam dia langsung ke kamar." Jelas mama, aku melirik jam tangan sudah jam sepuluh wajar kalo Maris udah tidur.
"Ya Sudah ma aku ke kamar dulu ya," Pamitku. Mama tersenyum sembari mengangguk.
Aku tiba di kamar Maris, kamar yang sudah dua kali ini aku masuki. Pertama, setelah selesai pernikahan dulu, dan kedua hari ini. Tidak ada yang berubah, semua masih sama. Aku melirik ke arah ranjang king size, disana Maris sudah bergelung di dalam selimut tebal yang menutupi sampai batas leher, wajah polosnya terlihat damai.
Aku menuju kamar mandi untuk bersih-bersih, setelah itu aku memutuskan untuk tidak makan malam karna sudah ngantuk banget. Setelah ganti baju, aku merebahkan diri di samping Maris, saat tiba-tiba tubuh Maris bergerak.
"Kamu keganggu ya tidurnya?" Tanyaku saat tau Maris membuka mata.
"Kamu ngapain kesini?" Tanya Maris setengah terkejut saat tahu aku ada di sampingnya.
"Nyusulin kamu sayang. Aku kangen sama kamu." Ujarku.
"Kamu gak usah pura-pura lagi Bi, Aku udah tau semuanya!" Seru Maris sembari beranjak pergi. Aku mencoba mencegah dengan menahan pergelangan tangannya.
"Aku bingung, maksud kamu apa sih? Tau apa?"
"Kamu gak usah pura-pura bego ya! Kamu pikir aku gak tau semua rencana buruk kamu buat balas dendam sama aku?" Aku tercengang, apa jangan-jangan Maris mendengar apa yang aku bicarain dengan Farid tempo hari.
"Maksud kamu?" Tanyaku mencoba memastikan.
"Aku udah tau semuanya Bi, aku tau apa yang kamu bicarain sama Farid kemarin! Sekarang mending kamu pergi dari sini, tanpa kamu harus balas dendam pun aku udah sadar diri Bi, aku akan minta cerai!" Teriak Maris yang makin membuatku bingung sekaligus cemas.
"Maris kamu salah paham, kamu perlu dengar penjelasan aku dulu, kamu gak tau yang sebenernya terjadi." Aku mencoba membuatnya tenang.
"Gak perlu! gak ada yang perlu dijelasin, kita cerai! Secepatnya!" Aku mencoba merengkuh tubuh maris yang sudah mulai mengamuk. Dia bahkan berlari ke arah balkon,
"Ayo masuk, kita bicara baik-baik,"
"Pergi dari sini, kalo kamu gak pergi aku bakalan loncat!" Ancamnya.
"Oke aku keluar, tenangin diri kamu. Kita bicara lagi nanti. Tapi aku mohon jangan loncat dan aku gak akan nyerain kamu." Aku mengalah, segera aku keluar dari kamar Maris meninggalkan dia yang menangis sejadi-jadinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
In Fine Wedding
Romance[READY EBOOK😍] Ini tentang masa lalu, yang sempat kau tolak takdirnya bersamamu. Ini tentang kesalahanmu, memilih yang tidak pasti padahal itu bukan yang seharusnya denganmu. Karna jodoh tak pernah salah tempat, apalagi keliru alamat. Sejauh apapun...
