Gue duduk di ruang keluarga, menonton acara tv kesayangan sambil memakan cemilan yang gue beli di minimarket tadi. Malam ini gue di rumah dengan Bang Avri saja. Mama dan papa sedang pergi ke Jogja, menghadiri acara pertunangan sepupu gue.
"Sel, dicariin tu" kata Bang Avri.
"Siapa?"
"Niko".
Mendengar bahwa Niko yang datang, gue langsung beranjak dan segera mungkin menuju ruang tamu. Ya, gue menemui Niko yang sudah duduk di ruang tamu. Dia mengenakan kaus hitam yang dibalut bomber jaket dan celana jeans nya yang sobek-sobek.
"Eh, Niko. Ada apa?" tanya gue.
"Mau ngajak lo jalan" jawab Niko dengan entengnya.
"Hah? Ngaco deh" timpal gue tak percaya.
"Seriusan ini, ayo sana ganti baju. Gitu aja juga gak papa" jawab Niko sambil tersenyum lebar.
"Iya deh gue ganti, masak mau koloran gini. Bentar ya"
"Iya, lama juga gak papa"
Gue memilah baju-baju gue, gue harus memilih baju yang sesuai agar gue terlihat perfect di depan Niko. Ya, tiba-tiba gue ingin terlihat sempurna di depan Niko. Entah apa yang terjadi.
Kurang lebih 10 menit gue udah siap, lalu berpamitan dengan abang gue.
"Jagain Sela ya, Nik" pesan Bang Avri pada Niko.
"Siap laksanakan" jawab Niko dengan tegas.
Gue pun berjalan mengikuti Niko menuju motornya. Niko udah nyiapin helm buat gue.
"Ini, gakapapa kan naik motor?" tanya Niko sambil mengulurkan helmnya.
"Yaelah, santai aja. Kita mau kemana?"
"Ke hatimu boleh gak?" goda Niko.
"Ah, basi"
"Ayo naik, entar juga tahu"
"Jangan macem-macem lo" tanya gue masih ragu.
"Udah ayo naik aja"
Seketika malam itu menjadi menyenangkan, sepanjang perjalan gue bercanda tawa dengan Niko. Gak pernah gue ngerasa senyaman ini sebelumnya.
Kurang lebih 15 menit, motor berhenti di sebuah kafe yang unik. Gue pun turun dari motor dan merapikan rambut yang berntakan akibat tertiup angin malam.
"Wah, maaf ya jadi berantakan deh tu rambutnya" ujar Niko.
"Gausah merendah deh" jawab gue singkat sambil menyisir rambut.
Setelah selesai merapikan rambut, kita berdua masuk ke kafe yang lumayan ramai waktu itu. Ya hampir semua meja sudah ditempati oleh muda mudi yang sedang asik bercanda tawa. Hanya tersisa satu tempat di dekat jendela. Niko pun langsung menarik lenganku menuju meja itu sebelum ada orang lain yang menempatinya.
Tak lama seorang waiter menghampiri meja kami sambil menyodorkan buku menu. Menu yang ditawarkan cukup standar, begitu pula dengan harganya.
"Sel, lo mau apa?" Tanya Niko.
"Emmmmb, apaa ya?"
"Dih, ditanya malah balik nanya" timpal Niko.
"Bentar bambang, ga sabar amat" jawab gue.
"Yaudah ah gue pilihin, lama lo" kata Niko sambil menyerobot buku menu yang sedanh gue baca.
"Nih gue pesenin nasgor ala kafe ini, enak banget. Lo harus nyoba, terus ini gue pesenin lemon tea biar seger. Udah itu aja ya? Fixx ga boleh nolak" ujar Niko sambil mencatat pesanan.
"Iya deh terserah" gue hanya bisa mengiyakan ucapan Niko.
Tak berapa lama, pesanan kami pun datang. Kami pun segera menyantap hidangan sambil diselingi canda tawa.
Tidak terasa sudah hampir 2 jam kami menghabiskan waktu bersama. Aku yg mulai bosan pun memutuskan untuk mengajak Niko pulang.
"Nik, pulang yuk. Ngantuk nih" ajak gue
"Okei tuan putri, kita pulang sekarang" jawab Niko sambil mengenakan jaketnya dan bersiap.
Gue pun menyodorkan uang 22 ribu untuk hidangan yang gue pesan tadi.
"Nih, nik gue tadi habis 22 rebu kan, nih".
"Dih, ga usah. Gue aja yang bayar" tolak Niko.
"Ih, gausah ah. Gayamu kayak uang sendiri aja"
"Udahh, simpen uangnya. Gue yang bayar titik" tegas Niko yang langsung bergegas ke kasir.
Gue pun hanya diam dan akhirnya mengikuti Niko menuju kasir. Ketika menuju kasir, tanpa sengaja gue ketemu Malvin dengan seorang perempuan. Gue hanya memandanhi mereka yanh sedang masuk.
"Sela, kok disini" sapa Malvin pertama kali.
"Iyaa nih" jawab gue singkat.
Niko yang sudah selesai membayar pun menoleh dan terkejut melihat Malvin.
"Yu Sel, kita pulang" ajak Niko sambil menggenggam tanganku. Sontak aku pun kaget.
"Oh, jadi bener lo selama ini deket sama Niko?" Ujar Malvin sinis.
Aku diam untuk sesaat, menahan air mata yang tiba-tiba ingin keluar.
"Bukan urusanmu, Vin" jawabku singkat.
"Mau dia pacar gue atau bukan, ngga ada urusan sama lo" bela Niko. Tanpa pikir panjang Niko langsung menarikku keluar.
"Sel, udah ga usah dipikirin. Emang dasar sialan tuh cowok" ujar Niko sambil mengambilkan helm.
"Iya, Nik. Makasih ya" jawab gue.
"Iyaa iya, langsung pulang aja ya. Udah malem"
"Iya, Nik. Pulang aja"
Kami berdua pun menjadi lebih diam ketika perjalanan pulang. Tak lupa gue pun menyelipkan uang 22 ribu di saku jaketnya secara diam-diam. Jujur gue merasa ngga enak kalau Niko membayar makanan gue. Tak lama kami pun sampai di rumah gue.
"Makasih ya, Nik" ujar gue.
"Sama-sama, Sel. Brarti ini hari pertama kita ya" ujar Niko sambil senyam senyum.
"Pertama apa?" Tanya gue bingung.
"Ya pokoknya pertama".
"Heh, jangan aneh-aneh ya. Nggak, nggak mau" bantah gue.
"Ehehehe, enggak canda"
"Loh kalian udah pulang" tiba-tiba papa keluar dan mengagetkan kami.
"Iya, Om. Anak perempuan kan ngga baik pulang terlalu malam om" jawab Niko sambil bersalaman dengan papa.
"Iya, makasih ya nak" ujar papa.
"Yaudah, saya pamit ya om. Gue pulang ya sel" pamit Niko
"Oke, ati-ati ya" ujar gue sambil melambaikan tangan.
Gue masih berdiri didepan gerbang, memandangi punggung Niko hingga benar-benar menghilang. Entah kenapa rasanya berbeda, perasaan yang belum pernah gue rasain sebelumnya dengan Malvin. Apakah gue jatuh cinta dengan Niko?
***
Haloo
Udah lamaa pol ga update
Setelah mengumpulkan niat dan imajinasi akhirnya aku lanjut lagi nih
Jangan lupa di vote ya bund, mwahhh😗
KAMU SEDANG MEMBACA
Couple Goals
Genç Kurgukarena kesempurnaan cinta gak melulu tentang kata-kata manis yang dilontarkan oleh mulut. mereka butuh pembuktian nyata bukan manis di bibir saja.
