"Savanna."
Savanna menghentikan langkahnya yang akan keluar kelas dan menoleh kepada seorang laki-laki berperawakan tinggi dan tampan.
"Lo duluan aja, Sen."
Senna mengangguk dan keluar kelas.
Satria Mathew, berjalan mendekat lalu menyerahkan sebuah buku berwarna pink ber-gliter dengan berbagai sticker.
"Sewaktu kita tidak sengaja bertabrakan. Mungkin kamu tidak sadar jika buku mu jatuh." Ucap Satria.
Savanna mengambil bukunya dan tersenyum. Satria sejenak terdiam menatap Savanna.
"Makasik kak Satria."
Satria tersadar dan menggaruk tengkuknya gugup, "sama-sama, Savanna. Oh iya, ga usah panggil kak. Panggil nama aja."
"Tapi ga sopan dong namanya."
"Kalo gitu terserah kamu aja deh."
Savanna mengangguk, "Kalo gitu aku duluan ya kak."
"Eh! Tunggu!!"
"Kenapa kak??"
Satria berdehem sejenak, "aku cuma mau ngajakin kamu makan bareng besok pagi. Kamu bisa??"
Savanna menaikkan kedua alisnya. Ia tidak begitu terkejut dengan ajakan Satria namun Savanna bingung harus menerimanya atau menolaknya. Savanna akan merasa tidak enakan jika menolaknya. Lagian ini cuma ajakan makan bareng. Sion tidak akan marah jika ia tidak memberi tau.
"Kalo besok kamu ga bisa juga ga papa. Jangan di paksain."
Savanna menggeleng, "oh, bukan. Aku bisa kok."
Akhirnya Savanna mengiyakannya.
Satria tersenyum menampilkan lesung pipinya. Savanna akui saat Satria tersenyum, Satria terlihat sangat tampan. Serius. Pantaslah banyak yang suka kepada Satria.
Satria Mathew, cowok fakultas kedokteran yang berperawakan tinggi, berwajah tampan, pintar, ramah, dikagumi mahasiswa atau dosen, sopan, dan menjabat sebagai asisten dosen yang menggantikan dosen yang tidak bisa mengajar untuk hari ini.
~*~
"Kak Satria ngomong apa sama lo??" Tanya Senna begitu melihat Savanna keluar dari kelas.
Mereka berjalan beriringan di koridor fakultas kedokteran yang ramai oleh mahasiswanya.
Savanna mendekat buku di pelukannya, "kak Satria ngajakin makan bareng."
Senna melebarkan matanya, "holy crap. Seriusan??"
Savanna hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Trus lo nolak atau nerima?? Pasti lo nolak." Senna nanya sendiri. Jawab sendiri.
"Gue nerima."
Senna membuka mulutnya lalu menutup mulutnya dengan dramatisir. "Ga mungkin."
"Mungkin."
"Tapi... Kalo Sion tau. Lo ga takut dengan Sion reaksinya nanti??."
Savanna mengigit bibir bawahnya, "takut."
"Terus kenapa diterima??"
"Pertama, ini cuma acara makan. Kedua, gue nerima sebagai tanda terima kasih karna Kak Satria nemuin buku jurnal gue yang ilang. Ketiga, Sion ga akan tau kalo gue ga kasih tau."
"Gue punya feeling Kak Satria suka sama lo deh."
"Ga mungkin."
"Mungkin."
KAMU SEDANG MEMBACA
SAVANNA
Teen FictionCerita klasik Savanna Quney Riley adalah cewek cantik nan manis yang punya kehidupan yang ga biasa dan ditemani dengan pacar yang tambah ga biasa. Kesehari-harian Savanna di temani oleh tingkah absur tapi lucu tapi juga ngeselin oleh pacarnya. Biki...
