Kini hampir setiap hari Corinth mengunjungi Susa. Gadis itu mulai banyak tersenyum dan aktif menimpali semua obrolan yang diangkat Corinth. Apa yang lebih menggembirakan dari ini? Sebentar lagi keinginannya akan terpenuhi. Mudah sekali menjerat seorang wanita dengan hal tidak masuk akal semacam cinta dan pernikahan—setidaknya bagi Corinth.
Tapi harus dia akui kalau ketulusan semacam itulah yang telah menjeratnya begitu kuat, beratus-ratus tahun setelah dia kehilangan Kisara.
Darah dari para wanita yang tidak terhitung banyaknya seakan tidak bisa memuaskan dahaga Corinth. Mereka sama sekali tidak bisa dibandingkan saat Corinth menatap mata hazel Susa yang berpijar lembut. Hanya memandang gadis itu saja, dan Corinth merasa hidupnya telah lengkap.
Hujan mengguyur deras malam ini. Corinth duduk di kursi besarnya, menghadap ke kaca jendela balkon yang besar.
Mungkin sebentar lagi musim semi, batinnya.
Pertama kali Corinth bertemu Kisara, perempuan itu berumur lebih muda dari Susa. Dia kabur dari iring-iringan pengantin, mengelabui semua orang setelah menukar gaun putihnya, dan mengenakan gaun pelayannya. Tidak punya pilihan lain, dia menerobos masuk ke dalam hutan yang lebat tanpa berpikir panjang.
Kisara melihat wujud asli Corinth yang duduk di sulur menggantung yang tinggi. Beruntung gadis itu datang di saat Corinth kekenyangan setelah menenggak habis dua ekor bison.
"Maaf, mengganggu. Apa kau bisa memberitahuku ke mana arah untuk ke desa terdekat?" Akibat penerangan yang minim, Kisara mungkin tidak bisa melihat dengan jelas dan berpikir ada seseorang yang malam-malam berkeliaran seraya memanjat pohon.
Corinth sendiri tidak langsung menyimpulkannya sebagai mangsa yang lezat. Perutnya cukup penuh. Namun dia berpikir untuk membawa gadis itu sebagai makanan cadangan. Kisara punya dua keberuntungan kali ini: Corinth yang dalam kondisi kenyang, dan makhluk buas di luar sana yang entah kenapa tidak menyadari kehadirannya.
Dalam satu jentikan, kesadaran Kisara tercabut. Corinth lantas membawanya ke kastilnya yang terisolir dari dunia luar. Gail yang tidak akan pernah mengusik makanan Corinth kali itu harus berperan ganda: menjadi tangan kanan Corinth dan melindungi Kisara dari terkaman vampir lain.
Hal yang sama sekali tidak diperkirakan oleh Corinth adalah, gadis itu tidak sedikit pun menganggap dirinya sebagai tawanan. Bagi Corinth dia seperti domba dalam kandang, tapi bagi Kisara, dirinya merasa senang mengeksplorasi tempat baru. Dia senang mengajak Gail mengobrol banyak. Karena tidak ada yang mengatur, dia menghabiskan waktunya dengan merangkai bunga saat musim semi, bermain air saat musim panas, bergumul dengan gunungan daun maple kering saat musim gugur, dan membuat orang-orangan salju saat musim dingin.
Corinth membiarkan gadis itu sesukanya, karena sejauh apa pun dia pergi, perisai wilayah kastilnya tidak akan tertembus oleh apa pun. Kisara juga tidak menunjukkan gelagat ingin meninggalkan tempat itu.
Ketika pada akhirnya dia bosan, sasaran beralih dari Gail pada Corinth. Sempat beberapa kali Corinth merasa terganggu hingga berpikir sudah saatnya memakan gadis itu. Namun selalu urung—untuk alasan yang tidak dia pahami. Tahu-tahu saja Corinth jatuh dalam pesonanya.
"Tidak boleh." Kisara merengut sambil membekap mulutnya sendiri. Corinth hampir menciumnya dan gadis itu langsung merusak momen bersejarah tersebut.
"Kenapa?" Kening Corinth berkerut tidak suka.
"Berciuman hanya boleh dilakukan orang yang sudah menikah."
"Apa itu?"
"Laki-laki harus memberi banyak hadiah untuk calon mempelai perempuan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cassiopeia
FantasiaStatus: COMPLETED Gadis itu selalu hadir tiap para bangsawan yang kotor menanti giliran mereka--di hadapan guillotine, disaksikan kerumunan yang menyemut. Betapa dia ditakuti sebagai malaikat pencabut nyawa, dengan kewenangan penuh yang diberikan sa...
