Part 2 • HILANG SEMUA

3K 109 3
                                        

Setelah konser selesai..

"Katy curang yahh! Bisa naik ke panggung sama artis terkenal begituu." Keluh Es

"Lohhh.. kamu kan gak terlalu ngefans sm dia, Es."

"Iyahh sihh.. tapi kan.. MASUK TV SISSS.. FEMES FEMES."

-_____________-"

Tapi bener juga sih -_-"

Dan selama beberapa jam ke depan, mereka berdua pun tetap berisik karena hal itu. Astagah. Tapi dalam hati aku seneng juga sih karena diocehin mereka yang ngiri sama aku HAHAHA. Aku benar-benar beruntung hari ini. Untung aja kebagian tiket konsernya. Kalau gak, aku gak bakal dapat pengalaman langka yang super duper menakjubkan ini.

@HOME

"Kat.. udh plg? Ayo cepet makan! Seru ga tadi?" Kata mamaku yang berada di ruang makan

"IYA MA. SERU BANGET TADI. MASA BLALLALA." Aku pun menceritakan semuanya kepada papa dan mamaku dengan terlalu bersemangat sampai-sampai aku cerita sambil loncat-loncat kesana kemari ku lihat saja banyak pohon cemaraaa. Stop.

"Oh iya! Makasih pa udah nganterin pulang pergi," ujarku sambil mencium pipi papaku. "Makasih juga ma dah bolehin aku nonton konser hehe," ucapku sambil mencium pipi mama-ku.

Setelah makan dan ganti baju.. aku langsung berbaring di ranjang kesayanganku, tempat terenak untuk bermimpi tentang semua hal yang indah dan menakjubkan yang gak mungkin terjadi di dunia nyata. Eh. Jadi curhat toh.

.
.
.

***
Aku yang sedang bercengkrama dengan teman-temanku di luar sesekali melihat ayahku yang sedang bekerja serius dengan banyak mesin-mesin aneh. Ibuku menemaninya di samping sambil menyuguhkan kopi panas.

Hari itu sungguhlah panas. Tidak seperti biasanya. Bajuku sampai lepek karena keringat yang mengucur terus-terusan. Semakin lama semakin panas sampai tiba-tiba.. kertas di meja ayahku terbakar karena panas matahari? What? Api yang ada dimeja pun semakin besar dan orang tuaku pun panik setengah mati.

Aku pun langsung lari ke mereka dan berusaha membuka kunci ruangan berkaca itu. Tidak bisa. Bagaimana ini. Lama-lama api pun memenuhi 1 ruangan dan aku bisa mencium bau hangus yang menusuk ke hidung.
***

Tiba-tiba.. aku terbangun karena bau hangus yang menyengat. Wait.. oh tadi cuman mimpi toh. Tapi, bau hangus-nya beneran!!!

Aku cepat-cepat bangun dari tempat tidur dan keluar dari kamarku..

SEMUA SUDAH BERASAP

"KEBAKARAN!! KEBAKARAN!!" Teriakku dengan ketakutan.

Aku ingin membangunkan kedua orang tua ku di kamar atas, tetapi di pertengahan tangga ada api yang begitu besar. Aku tidak akan bisa naik ke atas..

Dalam keadaan panik, aku pun akhirnya keluar dari rumah dan berteriak meminta tolong.

"TOLONG! TOLONG! KEBAKARANNN"

Tetangga-tetangga yang sedang tertidur lelap pun akhirnya terbangun dan langsung dengan sigap membantuku.

"Ayo cepat! Tambah airnya!" Ucap tetangga satu dengan yg lainnya.

Aku sangat stress dan panik.

Bagaimana tidak?

Orang tua-ku masih di dalam rumah dan aku tidak tahu bagaimana keadaannya. Jadi mimpi yang tadi itu.. benar-benar terjadi?

NI NOT NI NOT

Bunyi yang menandakan para petugas pemadam kebakaran sudah dekat.

Tapi semua sudah terlanjur.. rumahku sudah rata dengan tanah dilalap api. Hanya tinggal kerangkanya saja.

Aku pun langsung dibawa ke rumah sakit dengan memakai ambulans dan beberapa jam setelah melewati proses pengecekan, aku pun dijemput oleh tanteku dan menginap di rumahnya.

Mama dan papa? Mereka sudah tiada karena dilalap api bersama rumahku. Aku diberitahu oleh suami tanteku tadi setelah ia pulang dari kantor polisi.

"Hiks.. hiks.. papa.. mama.. Mengapa kalian meninggalkanku sendirian di sini dengan sangat tiba-tiba," ujarku sambil tidak bisa berhenti menangis.

Hampa, sedih, kesal, tak berdaya, tak ada harapan.

Itulah yg aku rasakan saat ini.

.
.
.

Hari Pemakaman

Keluarga dari mama dan papa datang dengan tangis haru.

Guru-guru ku dan orang tua dari temanku juga banyak berdatangan. Banyak orang yang tidak kukenal juga datang dan kebanyakan orang yang sudah berumur.

Aku tidak tahu siapa mereka. Mungkin teman-teman dari ayahku. Tapi aku tidak tahu teman-teman beliau karena entah mengapa papa tidak pernah memberi tahu apa pekerjaan-nya dan juga kehidupan sosial-nya.

Orang-orang berumur yang memakai jas berwarna hitam memandangku dari kejauhan dan salah satu dari mereka pun menghampiriku.

"Kamu anaknya Bapak Fendi?" Tanya pria berkumis putih itu.

"Iya" Jawabku singkat.

"Yang tabah ya nak. Semua terjadi pasti ada alasannya," ucapnya sambil mengusap pelan bahuku. Aku yang tidak mengerti apa maksudnya hanya tertunduk lesu.

Orang itu pun pergi ke bawah rindangnya pohon dan berdiskusi lagi dengan teman-temannya yang berada tidak jauh dariku.

Tangisan terdengar di mana-mana. Hatiku hancur karena tersadar bahwa sekarang aku sendirian di dunia ini.

Tidak ada lg yg memberi kecupan saat bangun tidur dan saat mau tidur.
Tidak ada lg yg menggandeng tanganku ketika menyebrang jalan.
Tidak ada lg yg menyuapiku jika aku sudah terlalu kenyang untuk makan lagi.
Tidak ada lagi yang menyetirkan mobil untukku pergi ke sekolah, mall, dan lainnya.

Kupegang tangan mama dan papaku yang sudah dingin dan kukecup keningnya bergantian dengan perasaan sedih yang mendalam.

Kemudian.. peti pun ditutup.

Perih hati rasanya.

Aku kecewa. Selama ini belum bisa memberikan yg terbaik untuk mereka berdua.
Aku sedih. Selama ini telah menyakiti hati mereka walaupun tanpa kusadari.

Mama, papa, maafkan aku jika aku selama ini mengecewakanmu. Doakanlah aku di sini agar aku bisa menjadi orang yang dapat membanggakan kalian suatu saat nanti.
Berbahagialah di sana ya.

God bless you.. I will always love and miss you two.

***

Don't forget to vote and comment gengzz!
Jangan jadi silent reader yah :P

LOVE U ALL

Unexpected LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang