EPISODE 16 TERUNGKAP!!! [1]

98 20 2
                                        

     Setelah melalui berbagai macam pelajaran yang membuat otak ingin pecah, akhirnya suara bel terdengar seperti panggilan alam yang sangat indah didengar. Lydia merapihkan buku paket Matematika beserta buku catatan dan tugasnya. Semua buku dan alat tulis sudah dimasukan ke dalam tasnya.

     Desy menghampiri Lydia sambil membawa tempat makannya yang berwarna putih dengan motif abstrak. "Kita jadi nyamperin Reza?" tanya Desy sambil duduk di kursi.

     Lydia menghela napas dan mukanya datar. "Kayaknya enggak dulu deh, gue mau istirahat dulu. Otak gue rasanya ingin pecah."

     "Ternyata otak orang pinter ada batasannya juga ya hehehe," Desy nyengir sambil tertawa renyah.

    "Des, untuk sementara jangan bahas tentang masalah dulu. Mending ganti topik aja. Biarin dah tentang gosip juga gak apa-apa."

     Desy membuka bekalnya yang berisi ayam kecap dan sayur kangkung. "Oh iya lo nyadar gak kalo Wendi akhir-akhir ini murung mulu?"

     "Dia seperti biasanya. Emang anaknya kaya gitu bukannya?" Lydia berbicara sambil mengunyah ayam kecap dari Desy.

     Desy ikut memakan bekalnya sambil berbicara. "Bedalah, dia biasanya main HP dan sering komat-kamit sendiri. Sekarang dia diam aja kaya kehilangan jiwanya."

     "Cie perhatian sama dia. Oh iya bener juga sih. Lo sih bukannya temenin dia. Kasihan dia kesepian. Diketin gih siapa tau jodoh."

     "Ehek uhuk uhuk ...." Desy keselek mendengar kata-kata Lydia. Desy langsung mengambil botol minumnya. "Enak aja. Wendi bukan tipe gue."

     "Belom jadian udah bilang enak. Jangan sok kecakepan dah," Lydia membalas dengan tatapan datar.

    Desy mulai kesal. "Cewek jelek juga punya tipe. Maksud gua enak ajanya bukan ke arah situ. Lo mah bikin gue kesel."

    "Bodo amat dah," Lydia hanya geleng-geleng dengan muka datarnya.

    Tanpa diundang dan diduga, Wendi sudah berdiri disamping Lydia dengan aura mistisnya. Lydia dan Desy sontak terkejut dan keselek berjamaah.

     Lydia minum air mineral dan berusaha bercakap. "Wen, lo bikin gue kaget aja. Ada apa sih?"

     "Gue mau bicara sama lo pulang sekolah nanti. Empat mata. Tanpa Desy."

     Lydia terdiam dan berpikir. "Eh? Yaudah dah."

    Desy tersenyum-senyum ngeselin melihat Lydia diajak pulang bareng Wendi. Lydia membalasnya dengan melotot, sehingga membuat Desy terdiam.

     "Oke ... terima kasih," Wendi kembali ke bangku kesayangannya.

     Wendi memang akhir-akhir ini mulai akrab dengan Lydia terutama geng Tensmart. Tapi untuk berbicara empat mata dengan Wendi adalah kesempatan langka. Sepertinya ada hal penting, tapi semoga jangan mengarah ke hal mistis yang ada membuat merinding.

     Kalian pasti belum tahu awal mula Wendi bisa melihat dan berinteraksi dengan makhluk halus. Kali ini akan dijelaskan tentang Wendi dulu.

    Wendi terlahir di keluarga yang biasa saja. Ayahnya seorang wirausahawan dan ibunya kerja di kantor. Waktu umur lima tahun Wendi sudah menunjukan keanehan seperti berbicara sendiri dan bermain sambil tertawa sendiri. Ibunya yang menjadi saksi nyata keanehan Wendi. Setelah konsultasi ke ahli spiritual, ternyata Wendi memiliki keahlian bisa melihat dan komunikasi dengan makhluk halus. Keahliannya itu diwarisi dari kakeknya.

    Wendi tetap tumbuh tanpa kendala dengan keahliannya itu. Hingga mengenyam pendidikan Wendi tetap memilikinya. Bahkan hingga sekarang Wendi masih melestarikan dan menjaga keahliannya.

Lydia (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang