EPISODE 15 SEHARI BERSAMA TAMA

136 21 4
                                        

     PAGI hari yang cerah memang enak untuk dipandang. Cahaya matahari bersinar hingga ke celah-celah jendela. Udara yang sejuk memanjakan raga. Tama biasanya sebelum berangkat sekolah sarapan bersama Ayah dan Ibunya.

     Setelah mandi dan memakai seragamnya, Tama menuju meja makan untuk sarapan. Ayah dan Ibunya sudah duduk di kursinya. Roti beserta selai cokelat kacang sudah disajikan lengkap dengan susu murni. Tama duduk di kursinya sambil membawa tasnya.

     Ayah Tama yang bernama Chris memulai pembicaraan. "Bagaimana sekolah baru kamu? Selama 2 bulan ini nyaman?"

     "Lumayan, saya bisa beradaptasi disana. Dan semuanya ramah," jawab Tama sekenanya.

     "Kamu sudah akrab sama Fina? Dia anaknya temen papa. Kaya loh cantik pula," pertanyaan ayahnya membuat gerah hati.

     "Saya malas membahas orang yang tidak jelas," jawab Tama dingin.

    "Kamu tuh dari dulu pemikirannya dangkal. Fina orang kaya, kalau kamu nikah sama dia nanti hidupnya lebih dari ini," tukas ayah.

     Sambil mengunyah rotinya Tama  segan sekali menjawab. "Yang Papa pikirkan hanya kekayaan dan kekayaan. Saya tidak menyukai orang itu."

    Ibunya yang sedari tadi menikmati rotinya sambil membersihkan kukunya ikut andil berbicara. "Papa kamu benar, ini semua demi kebaikan kamu. Fina juga suka banget sama kamu. Kalo ibu sih setuju saja. Dan ibu dengar dari Fina, kamu deket sama cewek kampung ya?"

     "Lya bukan cewek kampung. Lagian siapa sih cowok yang mau sama Fina, cewek yang suka ke salon kerjaannya hura-hura. Lya jelas lebih baik," tegas Tama.

    Ibunya menaikkan alis memasang muka ngeselin. "Kalau kamu deketin tuh cewek kampung, hidup kamu yang ada sengsara. Apa sih istimewanya dia? Cantik? Fina juga cantik. Baik? Fina juga baik," tanya Ibunya yang mulai ngawur.

    "Lya anak yang cerdas dan berprestasi. Cantik dan selalu membawa keceriaan. Tidak seperti Ibu dan Fina yang kerjaannya cuma memikirkan harta," jawab Tama menohok.

    Ibunya berdiri dan mendobrak meja. "Kamu jadi berani melawan ya. Ini ibu kamu loh. Lancang sekali berbicaranya. Ibu sudah menyekolakan kamu sampai sekarang, tetapi sopan santunmu hilang."

    Tama pura-pura melihat jam tangan. "Sudah hampir terlambat. Saya berangkat dulu."

   Tama berangkat tanpa salam ke orangtuanya. Dari dulu mereka tidak pernah akur. Jalan pikiran mereka suka berbeda-beda. Orang tua Tama juga selalu sibuk dengan pekerjaannya. Tama paling tidak suka ketika orang tuanya mengatur hidupnya yang seharusnya bisa ia emban. Apalagi masalah jodoh, Tama masih SMA saja udah dicariin pasangan.

    Tama berjalan ke garasi yang terletak di belakang rumahnya. Cukup menggunakan motor matic untuk ke sekolah, tidak perlu ribet menggunakan mobil mewah milik ayahnya. Setelah sampai Tama mengeluarkan motor yang menyempil di samping mobil mewah. Cara mengendarai motor mudah kok, tinggal gas, rem, patuhi lalu lintas, dan jaga keseimbangan. Tama mengendarai motor meninggalkan rumah mewahnya.

    Pemandangan kota Bandung memang luar biasa indah. Dahulu ketika di ibu kota Tama hanya melihat gedung-gedung pencakar langit berbaris beserta jalan layang yang lurus. Berbeda dengan di Bandung, pemandangan alam dan pepohonan berderet indah disepanjang jalan.

    Jarak dari rumah ke sekolah hanya 2 kilometer. Tidak begitu jauh. Waktu tempuh mungkin hanya sekitar 30 menit. Benarkan tidak membutuhkan waktu lama sudah sampai di depan sekolah. Tama mengarahkan motornya ke parkiran sekolah.

     Helm yang masih menyangkut di kepalanya dilepaskan. Rambut hitam kecokelatan yang masih berantakan disisir menggunakan jari tangannya sembari mengaca di spion. Parkiran juga sepi, sekali-kali ngaca tidak apa-apa, manusiawi. Sambil merapihkan seragam dan menggunakan tas selempangnya Tama berjalan menuju lapangan.

Lydia (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang