Teman tetaplah teman
-Lydia
***
HARI ini akan menjadi hari yang berat. Jikalau bisa menghapus hari ini, Lydia ingin menghapus. Hari Jum'at, hari dimana Lydia akan mengakhiri pertemanannya dengan Desy. Hari ini yang rumit dan sulit.
Lydia bangun dari tidur panjangnya. Wajahnya sekusut benang layangan yang salah digulung. Rambutnya berantakan seperti belum dikeramas setahun. Lydia menguap dan mengisi energinya. Lalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah semua siap, Lydia berjalan menuju meja makan. Lina pasti sudah menyiapkan sarapan. Lydia langsung duduk di kursinya. Sudah tersedia nasi goreng dan telor. Sambil makan, Lydia ingin menyampaikan sesuatu ke Ibu tercintanya.
"Apa yang harus Lya lakukan Bu?" tanya Lydia secara tiba-tiba.
Raut wajah Lina bingung. Pertanyaan Lydia aneh. "Seperti biasa lah, kamu tuh sekolah. Yaudah cepat habisin nanti telat."
"Bukan itu maksudnya, Desy kan teman dekat Lya satu-satunya. Apakah Lya harus meninggalkan dia? Desy udah buat kecewa Lya," jawab Lya sambil memakan telor nya.
"Oh masalah Desy. Toh, Ibu yakin kamu bisa mengatasinya. Ibu yakin kamu bisa," Lina tersenyum manis.
Lydia berdiri sambil menggendong tasnya. Lalu bersalaman dengan Lina. Tidak biasanya Lydia memeluk Ibu kesayangannya. Rasanya akan sulit untuk menerima hari ini.
Pintu rumah yang sedari tadi tidak ada reaksi, kemudian berbunyi menjadi ketukan. Sontak Lydia kaget dan penasaran. Tumben sekali pagi-pagi ada tamu apalagi ini waktu untuk berangkat sekolah.
Lydia membuka pintu perlahan. "Eh Tama .... gue kira siapa. Ada perlu apa?" tanya Lydia antusias dan semangat.
"Gue mau anter lo ke sekolah. Kita bareng aja ya," kata Tama sambil tersenyum manis.
Lydia langsung malu-malu marmut, mukanya merah, tetapi tidak seperti merah darah. "Ehm, yaudah deh hehe. Gue juga biasanya jalan kaki."
"Yaudah ayo, ngapain diam aja," ajak Tama sambil menggoda.
Lydia tersadar dari lamunannya. "Eh iya ayo. Oh iya lo bawa mobil lagi? Atau motor?" tanya Lydia.
"Untuk hari ini gue jalan kaki. Demi lo," jawabnya simpel.
"Oh yaudah."
Mereka berdua berjalan beriringan. Tidak lupa Lydia mengambil buku puisinya yang tersimpan di tasnya. Buku puisi itu dibaca sambil berjalan. Melihat keunikan Lydia, Tama hanya bisa geleng kepala.
"Ternyata lo bisa baca sambil jalan. Hebat banget. Gue pasti kalo gitu udah kepentok tiang listrik," kata Tama.
Lydia masih fokus ke buku bacaannya sambil menanggapi pembicaraan. "Iya, gue udah biasa baca. Malahan gue sama Desy satu buku baca sambil jalan juga."
"Emang ya temen sejati, pasti ada aja kesamaannya," kita Tama sambil tertawa kecil.
Lydia langsung berhenti di tempat sambil berpikir. Perkataan Tama rasanya sangat terasa di hati Lydia. Memang benar sekali Desy adalah teman sejati Lydia akhir-akhir ini, tetapi akan berakhir.
Tama ikut berhenti di tempat. "Lya, kok lo diem aja? Ada apa Lya?"
Lydia menatap wajah tampan Tama dalam-dalam. "Gue sebenarnya mau banget bahas ini. Tapi susah buat diungkapkan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Lydia (END)
HumorSINOPSIS: Siapa yang tidak mengenal Lydia. Kita bisa sebut dia sebagai artis papan jalan. Penampilan, tingkah laku, dan gaya bahasa yang berbeda membuat tertarik semua orang. Kecantikannya menyilaukan wajah. Kejadian langka dan tidak terduga mempert...
