2 | Selangkah Lebih Dekat

8.4K 428 23
                                        

Entah kenapa, dekat dengan kamu rasanya membangkitkan kebahagiaan aku yang sempat sirna, apakah kamu datang sebagai pengganti yang tepat?

•••

KARENA ajakan dari Albian kemarin membuat Albiza terus memikirkan cowok itu, mereka jadi selangkah lebih dekat? Pasalnya semalam dia chattingan dengan Albian, yang bahkan tidak pernah Albiza bayangkan sebelumnya. Tapi Albian memerintahkan untuk tidak ada yang tahu soal kedekatan mereka, hanya di belakalang layar, di depan anak-anak kelas mereka sama sekali tidak saling sapa. Mentok-mentook, Albian modus dengan meminjam catatan, pulpen, dan semacamnya.

Albiza juga takut jika anak-anak di kelas tahu, mereka bisa saja menyakiti Albiza karena berani-beraninya mendekati Albian duluan, padahal yang terjadi Albian yang mendekati Albiza, 'kan?

"Albiza, kantin, yuk?"

Lala—selain Novia, Albiza juga punya teman sama-sama K-Popers. Teman berimajinasi menjadi jodoh Oppa-oppa—cewek itu sudah berdiri dari duduknya, bersiap untuk ke kantin. Albiza yang awalnya ragu karena masih takut bertemu Cello akhirnya ikut berdiri. "Yuk, ah, gue juga laper hehe,"

Tiba-tiba saja Albian menendang pelan sepatu Albiza membuat cewek itu menoleh ke bangku samping, Albian sudah tersenyum lebar di sana.

"Mau ke kantin? Nitip dong, hehe,"

"Apa?

"Susu dancow yang putih, ya, kalo nggak ada ya jus nanas aja. Boleh?"

Lala yang sedari tadi memperhatikan menganga tak percaya, sejak kapan Albian pernah menitip sesuatu ke kantin? Ke anak cewek pula, bukannya selama ini cowok itu malah terlihat menghindari kontak fisik dengan makhluk bernama 'cewek'?

"O-oke boleh, deh."

"Oke, nih, maaf ya ngerepotin."

Albiza yang sempat melamun tersadar, cepat-cepat cewek itu mengambil uang berwarna ungu di tangan Albian, lantas cepat-cepat dia menarik Lala keluar, bahkan sekarang hatinya tiba-tiba merasa bergejolak, astaga apakah Albiza sudah mulai jatuh cinta lagi?

Sesampainya di kantin mereka langsung ke stand segala macam minuman.

"Pak, ada dancow putih, nggak?"

"Ada yang coklat aja, belum belanja."

"Ya udah, jus nanas aja, ya satu,"

"Siap, Neng."

"Lo lagi deket sama Bian, ya? Jangan bilang ... lo mau nikung Novia?"

Albiza yang baru saja memberikan uangnya kepada tukang jus itu terlonjak. "H-hah? Sok tahu, gue 'kan malah nggak pernah interaksi sama dia, La,"

"Tapi kok dia tadi senyum sama lo, anjirun sama anak-anak kelas mana pernah begitu, ketawa sama geng-nya aja jarang."

Albiza memutar kedua bola matanya. "Apa sih, Cuma karena dia nitip dan senyum sama gue lo kira kita deket, gitu? Ya, siapa tahu dia Cuma mau sopan karena udah nitip,"

"Masa?" Lala menyipitkan matanya penuh selidik.

"Terserah lo." Albiza mengambil jus nanas yang kebetulan baru selesai dibuat dan meninggalkan Lala di kantin.

"Eh, Za! Mie ayam gue belum jadi woy!" Lala berteriak. "Gue Cuma nanya kali, baperan banget tuh anak, untung temen."

•••

"Nih, jus nanas nggak 'papa, 'kan?"

Beruntung anak-anak kelas sedang keluar, seperti biasa hanya dirinya dan Albian yang ada di sana. Apa selama dua tahun terakhir mereka seperti itu namun tidak menyadarinya?

Albian tersenyum. "Makasih. Lo nggak jajan?"

Nih orang jarang banget senyum, sekalinya senyum kok gue melting? jerit Albiza dalam hati. Astaga, kenapa Albiza sangat mudah terbawa perasaan? Di baikin dikit, baper, di liatin dikit, baper, dasar Albiza. "Sama-sama tripleks. Nggak, keburu gak mood."

Albian nyaris saja tersedak karena minumannya. "Tripleks? Kenapa?"

"Datar, cuek?" Albiza terkekeh.

"Tapi 'kan sama lo nggak," Albian ikut terkekeh.

"Iya deh iya, eh ini kembaliannya tujuh ribu, dua ribunya buat gue aja, ya? Hehe," Albiza cengengesan. Bukan matre, hanya saja ia butuh ongkos jalan kali ini.

"Iya, ambil aja."

"Eh serius?"

Albian tertawa, begitu terlihat lucu Albiza sekarang. "Iya ambil aja, sebagai ongkos jalan karena gue udah nitip."

"Yeay makasih manusia tripleks!"

"Jadi nonton, nggak?" pertanyaan Albian yang satu itu membuat hati Albiza berdisco lagi.

"Mmm terserah...."

"Kapan? Lusa? Tapi akhir-akhir ini gue lagi gak ada uang di pake buat benerin motor. Kapan-kapan aja, gak 'papa?"

Albiza tertawa. "Ngaco, ya nggak 'papa atuh, lagian gue gak minta di jajanin, kan?"

"Iya, sih, tapi tetep aja—"

"HELLO HELLO HELLO, YANG YANG YANGG DIGOYANG GOYANG YANG DANGDUT TEKOEK DANGDUT TEKO—EH ADA YANG LAGI BERDUAAN, NIH!"

Refleks Albian sedikit mennjauh dan Albiza pura-pura sibuk dengan ponsel di tanganny, jantung keduanya berdetak cepat, beharap orang yang datang itu tidak melihat bahwa mereka dekat.

"Kalian nggak ngapa-ngapain, 'kan?" Noah—ternyata cowok itu yang datang, bersama dengan teman-teman satu paketnya, Harra dan Alfito.

"Apaan dah?" Albian memutar kedua bola matanya. Matanya pura-pura kembali pada layar ponsel padahal dalam hati sedang berjaga-jaga semoga teman-temannya itu tidak sadar kedekatannya dengan Albiza.

"Lo berdua lagi deket?'

Mampus! Pertanyaan tiba-tiba Harra mengundang keringat dingin di antara keduanya, Albiza dan Albian saling pandang lantas tertawa. "Ya deket lah, 'kan bangku kita deket ini,"

Albiza mengangguk setuju dengan tawa yang dibuat-buat. "Nah!"

"Bukaaaannnn, maksud Harra itu deket begini," Alfito mempertemukan jari-jari tangan kanan dan tangan kirinya.

"Apaan coba, gak jelas banget."

"OMO OMOOO SEHUN GANTENG BANGET, GILA!" Albiza tiba-tiba berteriak saat melihat siaran langsung Oh Sehun di instagram, baginya itu terasa seperti video call.

"Mulai dah jiwa fangirl dia memberontak...." Noah memutar kedua matanya dan akhirnya mereka duduk di bangku masing-masing.

-ALBIANZA-

Enjoy!!💜

AlbianzaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang