Terkadang cinta sebercanda itu. Mengejar yang tidak ingin dikejar, menunggu yang tidak ingin ditunggu, sampai mengabaikan yang selalu ada di belakang.
•••
JANGAN lupa kalo kita bukan siapa-siapa.
Kata yang pernah keluar dari mulut Albian masih terus-terusan mengiang jelas di kepala Albiza, membuatnya kepikiran sejak semalam.
"Za, kamu nggak sekolah?"
Albiza membenamkan wajahnya dalam-dalam pada bantal, ditariknya selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya. "Meriang, Ma,"
Andira mendekat, meraba kening anak gadisnya yang normal-normal saja. Keningnya berkerut. "Merindukan kasih sayang?"
"Gak enak badan ma, Biza lemes banget," alibinya, padahal alasan yang sebenarnya adalah ingin menenangkan diri. "Buat surat aja, atau di alfa-in juga nggak apa-apa deh,"
Andira menggeleng, membiarkan Albiza nanti cerita dengan sendirinya. Tidak biasanya anak itu sakit, biasanya selalu rajin datang ke sekolah, tidak peduli sakit separah apa pun, sekarang sakit secuil malah tidak ingin masuk. Anak itu terlihat uring-uringan sekali.
Andira keluar dari kamar, Albiza bernapas lega saat wanita paruh baya itu meninggalkan kamarnya. Cewek itu mengambil ponselnya, benar-benar tidak ada chat dari salah satu temannya. Yang ada hanya status yang merupakan sindiran-sindiran... untuknya?
Jam digital itu menunjukkan pukul enam kurang tujuh menit, biasanya Albiza sedang sarapan tapi kali ini tidak akan masuk sama sekali. Tetapi Albiza sadar, tidak akan ada yang peduli diantara teman-temannya.
Apalagi Albian?
Ternyata ini risikonya, lagi-lagi dirinya dan Novia menyukai orang yang sama. Bahkan ini bukan sekali dua kali, tapi berkali-kali. Sebelumnya mereka malah sering menceritakannya bersama, namun entah mengapa sekarang begitu membuat keduanya berjauhan.
Alfito, s Calling...
"Hm..."
"Za! Kenapa nggak masuk? Lo ngehindar, ya?"
"Nggak? Gue sakit, Fit"
"Sakit hati? Eh, lo harusnya jangan kayak gini. Lo malah kelihatan lemah, harusnya lo nggak boleh ngehindar!"
"L-lo kok tahu?"
"Tahu, gue tahu semua tentang lo sama Bian, gue sakit sih tapi ya... apa hak gue?"
"Fit..."
"Pulang sekolah, gue boleh ke rumah lo?"
"Ngapain?"
"Ngapel, ya jenguk lo lah pinter. Nanti lo boleh cerita semuanya ke gue, gue sahabatan sama Bian udah lama, Za. Gue tahu seluk beluknya dia, lo boleh sharing sama gue nanti. Sekalian lo mau dibawain apa?"
Albiza terisak, Alfito sangat baik meskipun ia menyakiti hatinya. "Mau silverqueen green tea yang banyak!"
"Oke, tunggu gue ya sayangkuuuuu!"
"Najes!"
▪▪▪
"Jadi, lo kenapa?"
Alfito sudah duduk di tepi ranjang Albiza, cewek itu duduk disebelahna dengan boneka fluffy unicorn di pelukan.
Albiza menarik napas panjang sebelum akhirnya bercerita dengan Alfito. "Jadi... gue tahu, gue sama Bian nggak pernah saling sapa di kelas. Kenal aja paling sebatas minjem penghapus sama tipe-x doang. Nah, pas gue putus sama Cello malem itu, besoknya gue cuma berdua sama dia di kelas pas kalian semua ke kantin. Gue nggak sengaja ngelihat dia nonton Trailer Dilan, dan... gue di ajak nonton bareng. Emang dasarnya gue baperan ya tiba-tiba aja semuanya berlanjut, sampe sekarang berjauhan."
"Tapi nih ya, di kelas lagi pada bilang kalo lo itu pelakor. Maksudnya gimana? Menurut gue sih lo nggak salah, 'kan Novia bukan siapa-siapa Albian juga. Emang dasar netizen maha benar."
Albiza tiba-tiba saja menangis, teringat Novia yang seharusnya sekarang ada ke rumahnya, menjenguknya dengan suara cempreng, mengajaknya makan es krim di saat suhu badannya demam tinggi, mengajaknya memakan samyang disaat perutnya sedang tidak bersahabat, mengajaknya keliling Bandung dengan menaik delman. Jujur, Albiza sangat merindukan sahabatnya itu. "Za.... Maaf,"
"Gue salah Fit. Novia suka Albian dari lama, dari awal masuk kelas sebelas. Dan dia berjuang mati-matian, frontal banget, dan dengan mudahnya gue ngerebut Bian tanpa melakukan sesuatu? Jahat, nggak sih?"
"Ya, gimana ya. Rumit juga kisah lo, lagian kenapa pada ada rasa pas udah mau ganti kelas lagi nantinya, sih?"
Albiza mengusap air matanya kasar. "Ya mana gue tahu, gue juga gak tahu kenapa bisa luluh gitu aja sama Bian, mungkin lebih tepatnya gue baperan. Duh, gue jadi kayak serba salah gitu, gue..."
"Sayang sama Bian?" tanya Alfito.
Albiza mengangguk sambil terisak. "Iya, rasa gue udah jauh, Fit. Tapi... gue, gue nggak tahu harus gimana."
"Ya, Bian juga sayang sama lo, 'kan? Ya udah jalanin aja." tanya Alfito lagi.
Albiza mengangguk. "Dia bilang sih gitu, tapi gimana ya, dia itu kayak roller coaster. Penaik turun mood sekaligus pengjungkir balik perasaan. Aduh Fit, udah sulit. Jauh."
"Ya menurut gue sih ya, selama lo nyaman lo jalanin aja. Biarin semua orang dikelas ngehujat, mereka itu cuma iri. Ingat, syirik tanda tak mampu. Mereka ingin di posisi lo, tapi gak bisa. Lo itu beruntung banget bisa deket sama Bian, selama bertahun-tahun dia nggak pernah pacaran, paling gosip selewat doang dan kali ini ada lo, gue lihat dia bahagia. Lo bisa, Za. Gue dukung lo. Gue mau jadi sahabat lo juga."
"Fit..."
"Hm?"
"Maaf, ya?"
"Buat apa?"
"Buat... nyakitin lo. Gue nggak bisa bales perasaan lo. G-gue tahu kalo lo suka sama gue karena Albian pernah bilang dia punya feeling gitu, itu bener?"
Alfito tertawa, dia meraih tangan Albiza. "Kirain kenapa, ya udah lah gue paham hati itu emang nggak bisa dipaksa jatuhnya ke siapa. Sekarang lo hadapi semuanya dengan lapang dada, lo nggak usah peduliin orang lain, bahagia itu lo yang ciptain, mereka cuma berkomentar."
Albiza yang terharu refleks memeluk Alfito, menangis dibalik punggung cowok itu. Dan tanpa sadar, seseorang memperhatikan keduanya dengan pandangan lurus.
"Terimakasih lagi, Alfito."
Alfito mengusap kepala Albiza, tersenyum di balik punggung cewek itu. "Terimakasih kembali, Albiza."
Alfito melepas pelukannya, mengusap air mata Albiza dan menarik kedua sudut bibir Albiza. "Senyum dong,"
Albiza terkekeh. "Fitooooooo!"
"Kaseppp (ganteng) ...."
"Kasep-ak kuda!"
Dan keduanya tertawa bersamaan, setidaknya mengurangi sedikit rasa nyeri di hati Albiza.
-ALBIANZA-
Adu Fitoo gakuat akutuu gakuat, Biza malah nyia-nyiain kamu, sini sama aku aja:( naonsihnya teu jelas pisan:(😂
E n j o y!
KAMU SEDANG MEMBACA
Albianza
Novela Juvenil[ SUDAH TERBIT ] Gara-gara film Dilan, Albiza jadi baper sama Albian. Sialnya, Albian yang 'katanya' cuek pun jadi mulai luluh dan ikut bawa perasaan pada cewek yang sudah dua tahun berada dalam kelas yang sama dengannya--tepat duduk di sampingnya. ...
