Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
__________
" Kim udah tahu ? " Tanya Jeno sedikit keras karena posisinya berada ditengah lapangan basket hendak melempar bola ke arah Ring.
Hap
Bola melesat sempurna masuk ke dalam ring.
Seperti sore-sore sebelumnya kedua karib itu menghabiskan sorenya dengan bermain basket. Namun karena tangan Hwang dibebat akibat kejadian kemarin laki-laki itu hanya duduk dibangku pinggir lapangan mengamati permainan Jeno.
Bukan tanpa alasan Hwang masih berada di sekolah sore ini saat dirinya tidak bisa ikut bermain basket. Laki-laki itu sedang menunggu Kim yang sedang mengerjakan tugas kelompok bersama Jaemin, Renjun dan Eunbin di perpustakaan. Sedangkan Jeno, laki-laki itu tipe orang yang pantang pulang sebelum petang, maka dari itu jika hari masih terang dia masih bisa ditemukan disekitar sekolah.
" Tahu apaan ? " Tanya Hwang kepada laki-laki yang kini menggiring bola ke arahnya.
Dengan dagunya Jeno menunjuk ke arah pipi sebelah kanan Hwang yang lebam dan ikut duduk dibangku besi itu.
Hwang menggeleng. " Dia cuma tahu kalau Nakyung pacaran sama Sunwoo " jelasnya.
" Respon dia ? " Tanya Jeno setelah meneguk minumnya hingga tandas. Laki-laki itu mengambil handuk dari tasnya dan mengelap wajah tegasnya yang banjir oleh keringat.
" Ngomelin gue " jawab Hwang sambil terkekeh mengingat kalau semalam dirinya dimarahi oleh Kim.
Hwang menyadarkan punggungnya ke punggung kursi besi dan pandangannya menerawang jauh menatap ke langit sore hari itu .
" Katanya gue yang salah soalnya kelamaan ngegantung anak orang " ujarnya sendu " Padahal Nakyung kan bukan jemuran No " lanjutnya sambil terkekeh.
Jeno tersenyum samar dengan candaan receh teman karibnya itu. Laki-laki itu ikut menyadarkan punggungnya membiarkan tubuhnya santai sejenak dan ikut menikmati langit sore hari itu.
" Kim diam bukan berarti dia nggak tahu " ucap Jeno setelah terjadi keheningan beberapa saat lalu.
" Gue lebih takut kalau dia diam " kata Hwang jujur.
Karena bagi Hwang lebih baik mendengar ocehan Kim setiap detik dari pada didiamkan gadis itu seharian.
" Padahal kelas satu dulu dia anaknya pendiam " kata Jeno yang disetujui oleh Hwang.