Suasana dalam Fortuner milik Bian sarat akan canda tawa dari dua perempuan yang telah lama tidak bertemu itu.
Diam-diam Bian melirik ke arah spionnya, melihat ke belakang, memperhatikan bagaimana interaksi Nara dengan Kiran.
"Huhu iya nih Kak, harus ikut fanmeeting bareng ya kita nanti. Itupun kalau dibolehin sama abang." , Kiran mengatakannya sembari melirik ke arah Bian.
"Kamu ajarin adik saya buat suka sama laki-laki yang pakai bedak?" bukannya tersindir oleh perkataan Kiran, Bian justru melayangkan tatapan tajamnya ke Nara lewat spion di depannya.
Nara hanya memutar bola mata kesal. Malas mendebat Bian, apalagi ada Kiran saat ini di tengan-tengah mereka.
"Pak, nanti saya turun di halte depan lampu merah itu saja." Kiran memberitahu Bian sebelum laki-laki itu bertanya.
"Loh kenapa? Saya anter sampai depan kontrakan kamu saja. Sudah malam juga. Bahaya." tersirat nada khawatir dalam suaranya.
Atau ini hanya perasaan Nara saja?
Kiran berdehem sambil menahan tawa, sedang menertawakan sikap abangnya yang sok jaim. Kalau sedang khawatir begitu, abangnya terlihat lebih manusiawi.
"Gak usah, Pak. Ngerepotin nanti. Saya jalan juga gak jauh dari halte itu kok." putus Nara mengingat dia mengontrak bersama Ana.
Hari ini Nara sudah cukup letih. Pertemuannya dengan Kiran merupakan salah satu penyebabnya. Belum lagi besok pagi pasti geng turahnya meminta penjelasan tentang hari ini.
Masih mau ditambah dengan Bian dan jangan lupakan Kiran juga ingin mengantar dirinya sampai ke depan kontrakannya?
Tidak dapat Nara bayangkan bagaimana ekspresi wajah Ana nanti. Belum genap seminggu Bian bekerja sama dengannya, dan dirinya sudah diantar pulang oleh Bian dan Kiran.
Tidak sadar terlalu lama melamun, Fortuner Bian sudah terparkir manis di depan kontrakannya. Nara merapalkan doa dalam hati semoga Ana belum pulang kantor.
"Loh, Bian kan? Kok bisa pulang bareng Nara?" belum lama Nara berdoa, Ana sudah muncul di depannya.
Sepertinya memang Nara sudah banyak melakukan dosa di masa lalu sehingga sudah dua kali dalam sehari doanya tidak terkabul.
Masih dengan seragam kantornya, Ana tampak berbincang-bincang dengan Bian yang ternyata sudah turun dari mobil.
Nara melihat ke samping, Kiran sudah tertidur pulas dengan bantal leher hello kitty pink-nya.
Nara membuka pintu mobil, masuk ke dalam kontrakannya tanpa menghiraukan Ana dan Bian yang tengah terlibat percakapan seru.
Nara bisa melihat ketika Bian bersama Ana sangat berbeda drastis dengan ketika bersama dirinya.
Bian tampak lepas dan menjadi diri sendiri, sedangkan ketika bersamanya, Bian seolah menjelma menjadi orang lain. Kaku dan tak tersentuh.
Tiba-tiba saja Nara rindu. Air matanya jatuh tanpa disadarinya. Nara bergegas ke kamarnya tanpa menghiraukan tatapan mata dua orang itu.
Kayanya mau period nih, baper banget gue...
Nara keluar dari kamar mandi dengan handuk masih melekat di kepalanya. Sambil bersenandung kecil, Nara menuju dapur untuk mengambil minuman dari dalam kulkas.
Langkahnya terhenti ketika mendapati Ana dan Bian masih asyik mengobrol di ruang tengah yang berada langsung di depan dapur.
Reflek Nara segera membenarkan letak handuknya dan segera jalan terbirit menuju kamarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
(Un) finished Business - END
Romance"Saya tidak tahu tujuan Bapak hadir kembali di hidup saya. Bersikap seolah kita tidak saling mengenal sebelum ini. Asal Bapak tahu, saya justru berharap kita tidak pernah saling mengenal. Saya permisi." "Silahkan. Asal setelah ini tatapan kamu tidak...
